Pondok Pesantren Nurul Qarnain yang berlokasi di Jalan Imam Sukarto No. 60, Desa Baletbaru, Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember, merupakan salah satu pesantren yang memiliki perjalanan panjang dalam membangun tradisi pendidikan Islam di Indonesia. Sejarahnya bermula pada tahun 1900 ketika KH. Nur mendirikan sebuah musala sederhana yang menjadi pusat ibadah sekaligus tempat masyarakat belajar mengenal huruf Arab dan membaca Al-Qur’an. Dari tempat yang sederhana inilah tumbuh semangat dakwah dan pendidikan yang kemudian berkembang menjadi sebuah lembaga pesantren.
Sepeninggal KH. Nur, kepemimpinan diteruskan oleh KH. Idris yang mengembangkan sistem pembelajaran menjadi lebih terarah melalui pengkajian Al-Qur’an dan hadis. Perjalanan pendidikan kemudian dilanjutkan oleh KH. Karimullah yang memperluas cakupan pembelajaran dengan memasukkan kajian kitab kuning, khususnya dalam bidang fikih dan tauhid. Langkah tersebut menjadi tonggak penting dalam membentuk karakter keilmuan Pondok Pesantren Nurul Qarnain sebagai pesantren yang memadukan pendalaman ilmu-ilmu keislaman dengan pembinaan akhlak.
Semangat perjuangan itu kemudian diwarisi oleh KH. Yazid Karimullah. Pada tahun 1961, ketika masih berusia sebelas tahun, beliau mulai melanjutkan cita-cita para pendahulunya dengan merintis sebuah pesantren yang diberi nama Pesantren Karang Sawu. Nama tersebut diambil dari sebuah pohon sawo besar yang tumbuh di kawasan tempat pesantren berdiri. Seiring perkembangan jumlah santri dan aktivitas pendidikan, pada tahun 1968 nama pesantren diubah menjadi Pondok Pesantren Darul Ulum.
Perkembangan berikutnya terjadi pada tahun 1979 ketika nama Pondok Pesantren Darul Ulum resmi diubah menjadi Pondok Pesantren Nurul Qarnain. Pergantian nama ini memiliki makna historis dan filosofis sebagai bentuk penghormatan kepada Dzul Qarnain serta KH. Nur yang telah merintis perjuangan pendidikan Islam di kawasan tersebut. Nama Nurul Qarnain juga menjadi simbol harapan agar seluruh keluarga besar pesantren memiliki semangat kepemimpinan, keberanian, serta keteguhan dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran.
Dalam perjalanan selanjutnya, Pondok Pesantren Nurul Qarnain terus berkembang menjadi lembaga pendidikan yang menyelenggarakan jenjang pendidikan secara menyeluruh, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi. Madrasah Diniyah Takmiliyah yang dirintis sejak tahun 1971 menjadi lembaga pendidikan tertua di bawah naungan pesantren. Setelah itu berdiri RA Nurul Qarnain pada tahun 1985, MTs Nurul Qarnain pada tahun 1999, serta PAUD dan SD Islam Nurul Qarnain pada tahun 2007. Pengembangan kelembagaan terus berlanjut melalui pendirian Madrasatul Qur’an dan Ma’had Aly Nurul Qarnain pada tahun 2017, Madrasah Mu’adalah serta Asrama Bahasa Asing pada tahun 2018, kemudian SMP Nurul Qarnain dan SMK Nurul Qarnain pada tahun 2022. Pesantren juga mengembangkan pendidikan Al-Qur’an melalui Madrasah Lajnah Qira’atuna serta berbagai lembaga pendidikan lainnya yang saling melengkapi dalam membentuk ekosistem pendidikan berbasis pesantren.
Komitmen terhadap pengembangan pendidikan tinggi diwujudkan melalui pendirian Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nurul Qarnain pada tahun 2018. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat dan perkembangan institusi, pada tahun 2025 perguruan tinggi tersebut resmi beralih status menjadi Institut KH. Yazid Karimullah (INSYAKA). Perubahan status ini menjadi tonggak penting dalam memperluas cakupan pendidikan, memperkuat budaya akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta memperkokoh posisi pesantren sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang tetap berlandaskan nilai-nilai Islam.
Kini, setelah lebih dari satu abad mengabdi kepada umat, Pondok Pesantren Nurul Qarnain terus tumbuh sebagai pusat pendidikan, dakwah, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan memegang teguh nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah, pesantren berkomitmen melahirkan generasi yang berakhlak mulia, berilmu, berwawasan luas, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa, negara, dan peradaban Islam.


