OPINI_nurulqarnain.net – Momentum 10 November merupakan bentuk apresiasi terhadap para pahlawan yang telah berjuang mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari genggaman para penjajah. Sejarah mencatat, bangsa Indonesia pernah mengalami masa penjajahan yang panjang, dimulai dari kedatangan Portugis, Inggris, Jepang, hingga Belanda yang selama lebih dari empat abad menindas dan memporak-porandakan kedaulatan bangsa ini.
Di balik perjuangan para pejuang muda Indonesia, terdapat pula peran besar para santri dan ulama yang turut berkorban jiwa dan raga demi mempertahankan Tanah Air. Mereka tidak hanya berjuang dengan senjata, tetapi juga dengan semangat keagamaan dan nasionalisme yang tinggi. Semangat inilah yang kemudian menjadi fondasi kuat bagi berdirinya Indonesia sebagai negara yang merdeka, berdaulat, dan bermartabat.
Jika menengok sejarah, perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsa tidak hanya dilakukan oleh kalangan tentara atau tokoh nasional semata. Di balik kobaran perjuangan pada semangat 10 November 1945, terdapat peran besar kalangan ulama dan santri yang turut berjuang mempertahankan kedaulatan bangsa Indonesia di garis terdepan.
Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak penting yang menggerakkan rakyat, terutama para santri, untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajah. Seruan jihad fi sabilillah saat itu bukan sekadar panggilan spiritual, melainkan dorongan moral dan nasionalisme yang kuat untuk mempertahankan kehormatan bangsa.
Peran santri dalam sejarah perjuangan bangsa tidak dapat dipandang sebelah mata. Mereka tidak hanya berjuang dengan senjata, tenaga, bahkan nyawa, tetapi juga dengan ilmu, akhlak, dan doa. Di pesantren, nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan, dan pengabdian telah menempa karakter santri menjadi sosok yang siap berkorban demi kemaslahatan umat dan negara. Santri adalah simbol perjuangan tanpa pamrih berjuang bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk kebenaran dan keadilan.
Dalam konteks masa kini, semangat kepahlawanan santri harus dimaknai secara lebih luas. Jika dulu perjuangan dilakukan dengan bambu runcing, keris, pedang dan senjata-senjata tradisional maupun senjata yang canggih sekalipun, kini perjuangan santri diwujudkan melalui kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa melalui pendidikan, dakwah, teknologi, kewirausahaan, dan peran sosial yang berlandaskan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Kepahlawanan era saat ini bukan lagi sekadar mengangkat senjata, tetapi bagaimana setiap individu terutama generasi muda dan santri mampu menjaga integritas, menolak korupsi, memperjuangkan keadilan sosial, serta menguatkan nilai toleransi dan persatuan. Terus berkontribusi dalam hal-hal yang positif nan baik serta menjauhi segala hal-hal yang berbahaya, terlebih hal-hal yang melanggar syariat.
Oleh karena itu, Hari Pahlawan seharusnya tidak hanya diperingati dengan upacara seremonial, tetapi juga dijadikan momentum untuk menumbuhkan kembali semangat jihad kebangsaan dalam diri setiap warga negara. Santri, dengan warisan spiritual dan intelektualnya, memiliki peran strategis untuk menjaga moralitas bangsa di tengah tantangan zaman modern.
Semangat santri adalah semangat pahlawan sejati—berjuang dalam kesunyian, mengabdi tanpa pamrih, dan terus menjaga perjuangan agar Indonesia tetap berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat, dan bermartabat. (*)
————————————-
Penulis: Achmad Sulthon Arafat
Editor: Fathorrozi


