Karena itu, tanggung jawab guru tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi menjalar ke wilayah yang lebih dalam: pembentukan watak. Pesantren meyakini bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan ikhtiar merawat kemanusiaan.
Di sinilah tanggung jawab guru menjadi kerja moral. Guru tidak cukup cerdas nan mencerdaskan namun ia harus jujur dan betanggung jawab. Tidak cukup tegas tapi ia harus adil. Tidak cukup salih secara pribadi akan tetapi ia dituntut menghadirkan kesalehan sosial dalam relasi sehari-hari.
Satu keputusan yang tidak adil di ruang kelas dapat meruntuhkan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun. Sebaliknya, satu teladan kecil mengakui kekeliruan, mendengar keluhan santri, dan tetap bersikap manusiawi seringkali menjadi pelajaran yang melekat seumur hidup.
KH. Abdurrahman Wahid yang masyhur dikenal sebagai Gus Dur pernah menegaskan bahwa pendidikan sejati bertugas memanusiakan manusia. Pernyataan ini bukan jargon, melainkan kritik tajam terhadap praktik pendidikan yang sibuk mengatur, tetapi lupa mendengar.
Guru, dalam pandangan ini, bukan alat kekuasaan kurikulum, melainkan penjaga martabat murid. Ia hadir untuk membebaskan nalar tanpa merusak akhlak, menumbuhkan keberanian berpikir tanpa mematikan adab.
Tanggung jawab guru juga bersifat sosial dan kebangsaan. Pesantren sejak lama mendidik santri hidup dalam perbedaan tanpa kehilangan keyakinan. Guru yang mengajarkan adab berbeda pendapat sejatinya sedang merawat masa depan Indonesia.
Gus Dur mengingatkan bahwa agama harus menjadi sumber etika publik yang meneduhkan, bukan senjata untuk menyingkirkan sesama. Guru adalah aktor kunci dalam menjaga tafsir ini tetap hidup.
Pada akhirnya, guru mungkin tidak selalu dikenang lewat teori yang diajarkan atau kitab yang dikhatamkan. Ia dikenang melalui sikap yang diwariskan.
Tanggung jawab guru adalah memastikan bahwa murid pulang membawa lebih dari sekadar pengetahuan, akan tetepai mereka membawa kesadaran etis, keberanian bersikap adil, dan kematangan untuk menjadi manusia yang utuh.
Di tengah dunia yang kian gaduh, guru pesantren berdiri sebagai pengingat sunyi bahwa pendidikan adalah laku moral yang terus diperjuangkan. (*)
——————————
Penulis: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


