Meskipun kembali ke pesantren, bisa terasa berat dan melelahkan, baik bagi santri maupun orang tua yang berjarak tempat, namun itulah jalan yang ditempuh demi masa depan yang lebih baik. Di pesantren, mereka akan dibekali dengan ilmu yang akan menjadi cahaya kehidupan dan pelindung di masa depan.
Terdapat sebuah kisah yang menarik dan penuh hikmah yang diajarkan oleh Syaikh Abu Bakar dalam kitab Mawaid Ushfuriyah. Kisah ini menceritakan tentang Sayyidina Ali, salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkenal bijaksana, dalam menunjukkan keutamaan ilmu. Bagaimana kisahnya? Berikut ini adalah cerita selengkapnya.
Pada suatu hari, sekelompok orang yang merasa dengki terhadap Sayyidina Ali berkumpul dan merencanakan untuk menguji kebijaksanaan beliau. Mereka sepakat untuk bertanya dengan satu pertanyaan yang sama, berharap mendapatkan jawaban yang berbeda dari Sayyidina Ali, yang kemudian akan membuktikan apakah Ali benar-benar seorang alim seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW.
Salah seorang dari mereka maju dan bertanya, “Wahai Ali, manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”
Sahabat Ali pun menjawab dengan tegas, “Ilmu lebih utama daripada harta.”
Orang itu bertanya lagi, “Apa buktinya?”
Ali menjawab, “Ilmu adalah warisan para nabi dan rasul, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Syaddad, dan Fir’aun.”
Orang itu pun pergi dengan puas, membawa jawaban tersebut. Tak lama kemudian, datang lagi seseorang dengan pertanyaan yang sama. Kali ini, sahabat Ali kembali menjawab, “Ilmu lebih utama daripada harta.”
Ketika ditanya, “Apa buktinya?”
Ali menjawab, “Ilmu bisa menjagamu, sementara harta justru kamu yang harus menjaganya.”
Orang itu pun pergi dengan puas. Selanjutnya, seorang lain bertanya dengan pertanyaan yang sama, dan Ali menjawab, “Ilmu lebih utama daripada harta.”
Ketika ditanya, “Apa buktinya?” Ali menjawab, “Pemilik harta memiliki banyak musuh, sedangkan pemilik ilmu memiliki banyak teman.”
Dengan jawaban ini, orang itu pun pergi dengan puas. Kemudian, seorang lainnya datang dan bertanya lagi, “Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”
Sahabat Ali kembali menjawab, “Ilmu lebih utama daripada harta.”
Orang itu bertanya lagi, “Apa buktinya?”
Ali menjawab, “Jika kamu menggunakan sebagian harta, harta itu akan berkurang. Tetapi jika kamu menggunakan ilmu, maka ilmu itu akan semakin bertambah.”
Orang itu pun pergi dengan penuh kepuasan. Tak lama setelah itu, datang lagi seseorang dan bertanya, “Ilmu lebih utama atau harta?”
Sahabat Ali kembali menjawab, “Ilmu lebih utama daripada harta.”
Ketika ditanya, “Apa buktinya?” Ali menjawab, “Pemilik harta sering dipanggil dengan sebutan kikir dan tercela, sementara pemilik ilmu dipanggil dengan sebutan mulia dan terhormat.”
Dengan jawaban ini, orang itu pun pergi dengan puas. Seorang lagi datang dan bertanya, “Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”
Ali menjawab, “Ilmu lebih utama daripada harta.”
Ketika ditanya, “Apa buktinya?” Ali menjawab, “Harta dijaga dari pencuri, tetapi ilmu tidak pernah dijaga dari pencuri.”
Orang itu pun pergi dengan puas. Kemudian datang seorang lain bertanya, “Apa buktinya bahwa ilmu lebih utama daripada harta?”
Ali menjawab, “Pemilik harta akan dihisab di hari kiamat, sementara pemilik ilmu akan disyafa’ati di hari kiamat.”
Dengan jawaban ini, orang itu pun pergi dengan kepuasan. Selanjutnya, seseorang bertanya, “Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”
Ali menjawab, “Ilmu lebih utama daripada harta.” Orang itu bertanya lagi, “Apa buktinya?” Ali menjawab, “Harta akan habis dengan berjalannya waktu, sedangkan ilmu tidak akan pernah habis dan tidak akan rusak.”
Orang itu pun pergi dengan puas. Seorang lainnya datang dan bertanya dengan cara yang sama.
Ali menjawab, “Ilmu lebih utama daripada harta.”
Ketika ditanya, “Apa buktinya?” Ali menjawab, “Harta bisa mengeraskan hati, sedangkan ilmu dapat menerangi hati.”
Orang itu pun pergi dengan puas, membawa jawaban tersebut.
Terakhir, seseorang bertanya lagi, “Ilmu lebih utama ataukah harta?”
Ali menjawab, “Ilmu lebih utama daripada harta.”
Ketika ditanya, “Apa buktinya?” Ali menjawab, “Pemilik harta sering mengaku sebagai Tuhan, sementara pemilik ilmu justru mengaku sebagai hamba.”
Dengan jawaban ini, orang itu pun pergi dengan puas.
Sahabat Ali kemudian berkata, “Jika mereka bertanya lagi tentang hal ini, aku akan memberikan jawaban yang berbeda selama aku masih hidup.”
Akhirnya, kelompok tersebut yang sebelumnya penuh dengan kedengkian itu kembali datang dan menyerahkan diri, bertaubat dengan penuh kesadaran.
Kisah ini memberikan pelajaran yang sangat dalam tentang keutamaan ilmu dibandingkan dengan harta. Ilmu adalah warisan para nabi yang akan terus memberikan manfaat bagi pemiliknya, sedangkan harta akan habis dan bisa menjerumuskan pemiliknya kepada sifat sombong.
Dengan ilmu, seseorang dapat mendapatkan kehormatan dan banyak teman, sedangkan harta bisa menjauhkan kita dari kebaikan. Semoga kita semua terlebih santri Pondok Pesantren Nurul Qarnain dapat mengambil hikmah dari kisah ini dan senantiasa semangat mencari ilmu yang berkah dan bermanfaat sehingga kembali nanti di tengah masyarakat sebagai cahaya penerang. (*)
——————————————
Penulis: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


