Sejarah kembali berulang dengan peringatan, bahwa kerusakan negeri bukan berasal dari kalangan bawah. Di jalan-jalan, rakyat turun menyuarakan tuntutan, namun suara mereka dibungkam dengan kekerasan. Demonstrasi berubah jadi lautan tangisan, gas air mata dan peluru menjadi jawaban. Korban berjatuhan, luka dibiarkan tanpa balasan, seolah nyawa manusia hanyalah angka tanpa perhitungan.
Sumber kekacauan justru muncul dari tangan para pembesar yang mengumbar kesombongan. Inilah yang ditegaskan Al-Qur’an dalam surah al-An‘am ayat 123, sebuah pernyataan abadi tentang makar penguasa yang akhirnya menjerat diri mereka sendiri dan menyeret bangsa menuju kehancuran.
Di tengah euforia slogan “Indonesia Emas 2045”, justru rakyat dibuat cemas oleh berbagai ironi: praktik korupsi yang kian merajalela, kebijakan yang lebih berpihak pada elit ketimbang rakyat, serta ketidakadilan yang makin terasa. Ayat tersebut seakan hadir untuk menyingkap akar kekacauan negeri, yakni ketika para pemuka negeri justru menjadi aktor utama kerusakan.
Allah berfirman:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
“Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri pembesar-pembesar orang yang jahat agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu; padahal mereka tidak memperdaya melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.” (Al-An‘am, 123).
Menurut Imam Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa di setiap negeri selalu ada golongan elit yang menjadi sumber kejahatan, menggunakan kedudukan untuk merusak, menipu, dan menindas. Namun, makar mereka pada akhirnya akan berbalik kepada diri mereka sendiri.
Imam al-Qurthubi menambahkan bahwa “akabir” dalam ayat ini bermakna orang-orang besar, para elit sosial-politik, yang justru menjadi penggerak kerusakan karena kesombongan dan kerakusan mereka.
Pada ayat di atas Imam al-Tabari menegaskan bahwa Allah sengaja membiarkan keberadaan para elit perusak itu sebagai ujian, untuk membedakan siapa yang tetap berpegang pada kebenaran dan siapa yang ikut terjerumus dalam makar mereka.
Jika ditarik pada konteks Indonesia kontemporer, ayat ini terasa begitu relevan. Kekacauan negeri bukan semata karena rakyat jelata, melainkan ulah para elit yang membuat kebijakan pro-oligarki ketimbang pro-rakyat, melakukan korupsi berjamaah mulai dari pejabat daerah hingga pusat, serta menjadikan hukum sebagai alat kepentingan bukan untuk menegakkan keadilan. Di saat yang sama, mereka kerap menjual narasi kesejahteraan, padahal rakyat makin tercekik oleh himpitan ekonomi dan kebijakan yang tidak berpihak.
Fakta di lapangan pun jelas terlihat. Gelombang aksi demonstrasi mahasiswa, buruh, dan masyarakat sipil seringkali mewarnai jalanan kota, menuntut keadilan dan menolak kebijakan yang dianggap merugikan. Namun, suara rakyat itu acapkali dijawab dengan barikade aparat, gas air mata, dan kekerasan yang memperlebar jurang antara penguasa dan yang dikuasai.
Ironisnya, aparat yang seharusnya menjaga rakyat justru diposisikan berhadapan dengan rakyat, seakan-akan mereka musuh, padahal keduanya sama-sama anak bangsa. Fenomena ini semakin menegaskan pesan Al-Qur’an: kerusakan sistemik bermula dari elit yang melanggengkan kekuasaan dengan cara apapun, meski harus menekan suara rakyatnya sendiri.
Mimpi “Indonesia Emas” pun berubah menjadi “Indonesia Cemas” ketika rakyat setiap hari dipaksa menyaksikan drama politik yang kerap jauh dari kepentingan publik. Al-An‘am 123 memberi peringatan: jika elit terus dibiarkan berbuat kerusakan, maka negeri hanya akan berputar dalam lingkaran krisis tanpa ujung.
Ayat ini juga mengajarkan bahwa kerusakan struktural berawal dari mereka yang punya kuasa. Karena itu, penyelesaian bukan hanya dengan menasihati rakyat kecil agar taat hukum, melainkan menuntut para penguasa agar menjadikan keadilan sebagai napas kebijakan. Kehadiran elit jahat adalah keniscayaan sejarah, namun Al-Qur’an menegaskan bahwa makar mereka hanya menjerat diri sendiri. Artinya, sebesar apapun kekuasaan mereka, akan ada titik balik di mana kebenaran dan keadilan menang.
Surat al-An‘am ayat 123 menghadirkan cermin yang begitu jernih untuk membaca realitas Indonesia hari ini. Kekacauan negeri lebih banyak dipicu ulah segelintir elit yang diberi kekuasaan, namun menyalahgunakannya untuk kepentingan diri. Jika bangsa ini ingin benar-benar menuju Indonesia Emas, maka kuncinya adalah membersihkan akar kerusakan dari atas: dari para pemimpin, pembuat kebijakan, dan elit yang mengatur negeri. Tanpa itu, rakyat hanya akan terus berada dalam Indonesia Cemas—sebuah negeri yang kaya sumber daya, tetapi miskin keadilan. (*)
———————————–
Penulis: Fian Abrory, S.Ag., S.H., Waka Kurikulum SMP Nurul Qarnain
Editor: Fathorrozi


