Era teknologi informasi yang kian berkembang dengan pesat menuntut para penggunanya untuk lebih ketat dalam menyaring informasi yang akan diterima. Hal ini menuntut peranan dari para santri yang ada di pondok pesantren untuk semakin gencar menggunakan media sosial yang disosialisasikan dalam acara Seminar Nasional dan Launcing Website Pondok Pesantren Nurul Qarnain (Sabtu, 13 Juli 2022).
Dalam Seminar Nasional yang bertajuk “Melek Digital: Dewasa dalam Bermedia Sosial” dan Launching Website nurulqarnain.net, yang bekerja sama dengan Kementerian Kominfo dan dihadiri lebih dari 1500 santri Pesantren Nurul Qarnain. Gus Faiz sapaan akrab dari Ketua LTNU Jember, membuka dengan mengkatakan “Kiai, ibu nyai, dan santri harus menelaah lebih selektif sumber informasi mana yang mereka baca, terlebih bila bisa mereka harus yang jadi informannya.”
Digital society, modern ini memang berdampak besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terkhusus dalam bidang keagamaan. Masyarakat dapat menggunakan Digital Society dengan mudah berkomunikasi jarak jauh tanpa batasan secara cepat dan efisien, namun beliau menyinggung kebebasan dalam menyebarkan informasi begitu luas dan bebas dapat berdampak buruk dengan menyebarkan berita tidak benar (Hoax), “Banyak website dan sumber informasi sekarang ini yang bebas berbicara apa, entah benar atau tidak semua bisa termuat,” lanjutnya.
Gus Faiz juga memberikan rujukan beberapa website yang bisa dijadikan pedoman informasi, “Beberapa Web yang bisa dijadikan rujukan bagi kita yang Insya Allah terpercaya seperti NU Online, santri.net dan lain-sebagainya.”
“Di samping ada berbagai manfaat yang akan kita dapatkan dengan media sosial, ada pula Cyber Bullying dan berkurangnya batas-batas privasi” , sehingga beliau memperingatkan santri yang hadir untuk tidak semena-mena membagikan data pribadi ke media sosial.
Selain mengingatkan telaah informasi yang intens, beliau juga memaparkan pentingnya jurnalistik dalam kehidupan santri. Beliau beralasan keilmuan yang ada di pesantren tidak diragukan, namun memiliki kelemahan yaitu minimnya peranan pesantren di era digital.
“Yang mendominasi media sosial sekarang hal yang kita rasa tidak baik, sehingga saya berharap kalau 1500 santri yang ada di tempat ini bermedia sosial dengan ciri khas santri, Insya Allah Indonesia akan baik,” ungkap beliau.
“Tapi kita harus menjadikan media sosial sesuai dengan keahlian kita masing-masing, karena setiap orang berbeda.”
Dipenutupnya Dosen UINKHAS Jember tersebut mengatakan, “Santri dapat menjadi role model dalam masyakat digital yang bijak dengan keilmuannya yang didapat selama di Pesantren.”


