Komandan M. Sawi: “Santri Diibaratkan Padi, Pesantren adalah Mesinnya”

Santri yang menempuh pendidikan di pondok pesantren adalah aset emas yang begitu penting dalam estafet regenerasi untuk menempati ranah pemerintahan dan negara. Hal inilah yang mendasari Komandan Rayon Militer V Brawijaya Jawa Timur, Bapak Moh. Sawi untuk memberikan pengarahan kepada sejumlah santri di Pondok Pesantren Nurul Qarnain (Jumat, 19 Agustus 2022).

“Santri itu diibaratkan padi, sedangkan pesantren adalah mesninya, sehingga santri harus bijak dan pandai agar ia menjadi produk yang berkualitas ketika keluar dari mesin, yaitu di saat bermasyarakat,” tutur Komandan Moh. Sawi.

“Pesantren lebih unggul daripada lembaga pendidikan di luar, karena di pesantren ada berkah,” imbuhnya.

Bertempat di Auditorium KH. Yazid Karimullah, Komandan Moh. Sawi melanjutkan pengarahannya dengan menyampaikan bahwa santri adalah penerus bagi masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia juga mengatakan, santri selama menjalani masa pendidikan di pesantren harus ikhlas.

Selain menyampaikan ikhlas sebagai kunci dari kesuksesan, ia juga menegaskan, santri harus patuh terhadap peraturan dan organisasi yang ada di dalam pesantren. Terlebih, memiliki keloyalan terhadap sesama santri sebagai pintu mendapatkan berkah.

“Santri harus semangat menimba ilmu, supaya tidak bodoh. Menghilangkan kebodohan, bukan niat jadi orang pandai yang sombong, serta wajib memiliki solidaritas yang tinggi kepada teman pondok,” tegasnya.

“Kalian lihat orang sukses itu adalah orang yang disiplin. Disiplin belajar, menjaga kesehatan, serta pandai mengatur waktu,” lanjutnya.

Komandan Polisi Militer V Brawijaya yang juga merupakan alumnus Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo tersebut, juga menceritakan jalan hidupnya selama menempuh pendidikan dan pengabdian di pesantren

“Ketika di pesantren, saat bel istirahat, saya tidak langsung bergegas ke kamar, tapi beranjak ke depan kediaman KHR. As’ad Syamsul Arifin, karena ingin dilihat beliau. Dan jika sempat saya meminta doa keberhasilan kepada beliau,” ceritanya.

Ia juga meneruskan, peran santri ketika bermasyarakat tidak harus menjadi kiai, namun santri bisa terjun menjadi ABRI, pejabat pemerintah, pengusaha, dan lain sebagainya. Namun, harus tetap menjaga norma-norma kesantriannya, terutama di dalam keilmuan dan akhlak.

Selanjutnya, Komandan Moh. Sawi juga menekankan bahwa seorang muslim terlebih santri harus bermimpi untuk menjadi pemimpin, pandai di segala bidang, serta siap untuk membela negara.

“Rasul itu pemimpin, pandai berdagang. Maka, santri harus seperti Rasulullah, terlebih untuk menjaga keutuhan agama dan negara,” ungkapnya.

Setelah itu, ia memaparkan tiga kunci keberhasilan santri saat pulang ke masyarakat.

“Santri dipandang berhasil pulang ke masyarakat jika telah memenuhi tiga kunci ini, yaitu belajar, beramal, dan mengajar,” pungkasnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *