Kuliah Umum Fiqh an-Nisa’ Kiai Imam Nakho’i “Perempuan Harus Berkarya”.

 

Emansipasi perempuan telah diperjuangkan sedemikian rupa agar dapat setingkat dengan laki-laki, baik dalam mengisi ruang publik maupun yang lainya tidak terkecuali dengan santriwati yang ada pondok pesantren. Maka dalam mewujudkan hal tersebut perlu adanya upaya yang intens, salah satunya dengan meningkatkan intelektual keilmuan dari para perempuan itu sendiri, dalam jenjang pendidikan maupun ranah yang lainya.

 

Hal ini menjadi penggerak bagi pondok pesantren Nurul Qarnain Putri untuk menghadirkan Dr. Kiai Imam Nakho’i, M.H.I (Komisioner Komnas Perempuan RI) sebagai pengisi materi dalam pembahasan Fiqh an-Nisa’ kepada seluruh santriwati tingkat Madrasah Muadalah Aliyah, Madrasah Aliyah, Mahasiswa STIS, dan Mahasantriwati Ma’had Aly Nurul Qarnain(Sabtu, 04 Juli 2022).

 

Bertempat di Auditorium KH Yazid Karimullah, tak kurang dari 350 peserta putri hadir di tengah acara. Acara dimulai setelah jamaah salat Isya dengan dibuka oleh Ustazah Devin sebagai moderator. Ia mewakilkan rasa terimakasih dan syukur dari seluruh santriwati atas kehadir Dr. Kiai Imam Nakho’i di pondok pesantren Nurul Qarnain.

 

“Saya mewakili santriwati Nurul Qarnain merasa sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Kiai, karena telah menyempatkan diri untuk hadir di malam hari ini, semoga apa yang beliau sampaikan menjadi ilmu yang barokah manfaat bagi kita” sambut Ustazah Devin Hidayati.

 

Setelah itu, Dr. Kiai Imam Nakho’i memulai ceramah mengisi kuliah umum malam tersebut. Kuliah dibuka dengan pembahasan mengenai haid perempuan. Dengan merujuk kepada kitab salaf, beliau memaparkan seluk beluk tentang masalah haid beserta dengan hukum-hukumnya, serta berbagai kasus yang sering terjadi kepada perempuan saat mengalami haid. Sengaja dibuka dengan pembahasan haid kerena mengingat intensnya haid ini harus benar-benar dipahami oleh perempuan itu sendiri.

 

Materi selanjutnya, Kiai Iman Nakho’i memberikan motivasi kepada seluruh santriwati untuk semangat dalam berkarya. Terjunnya seorang perempuan bukan hanya dalam ruang lingkup dapur dan mengurusi suami, akan tetapi perempuan juga memiliki ruang untuk berkarya sama halnya dengan derajat laki-laki. Beliau menuturkan bahwa seorang perempuan sekarang ini beda dengan masa yang kelam dahulu. Ketika kesenjangan antara perempuan dan laki-laki sangat kental terjadi pada masa jahiliah.

 

“Dahulu nasib perempuan ketika ia lahir sangat miris, entah dia harus dikubur hidup-hidup oleh orang tuanya atau dinikahkan sebelum mengalami haid”cerita beliau.

 

Lanjut beliau menyampaikan. Sekarang bukan masa jahiliah lagi, perempuan kini sudah bebas menentukan karirnya sendiri. Sehingga perempuan harus memiliki tingkat keilmuan dan pendidikan yang tinggi, bahkan menyaingi laki-laki, memaparkan tentang tokoh-tokoh dari golongan perempuan yang sangat berpengaruh dalam Islam dan Dunia.

 

Setelah motivasi belaiu juga memberikan bimbingan tentang berkeluarga, dengan harapan akan menjadi pegangan bagi audien saat hendak berkeluarga nantinya. Kiai Imam Nakho’i juga mengingatkan tentang bagaimana memilih calon suami

“Suami yang baik adalah suami yang tidak pernah memukul istrinya”.

 

Acara diakhiri doa bersama serta ditutup dengan foto bersama seluruh Santriwati dan Mahasantriwati dengan Kiai Imam Nakho’i dan pemberian cinderamata dari pondok pesantren Nurul Qarnain putri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *