Pondok Pesantren Nurul Qarnain telah menyediakan semua kebutuhan para santri, termasuk dalam bidang kuliner. Peraturan pesantren melarang santri untuk keluar dari area pesantren tanpa ada alasan yang dibenarkan, terlebih hanya untuk mencicipi makanan di luar. Meskipun demikian pesantren sudah mengupayakan sepenuhnya.
Satu contoh, tidak jarang santri merasakan lapar setelah seharian melakukan kegiatan. Keadaan demikian yang dimanfaatkan oleh beberapa santri abdi dalem sembari mencari barakah dengan berjualan sekaligus mengenyangkan perut teman-teman santri.
Harga Bersahabat, Rasanya Nikmat
Dengan membuka warung darurat di halaman pesantren, sekitar empat orang yang diketuai oleh Ustaz Ibad memulai kedai berjualan nasi goreng setelah Riyadah Batiniyah pukul 21.00 WIB. Dengan gerobak dan beberapa wajan, mereka mengolah nasi yang dijual kepada para santri.
Antusiasme santri selaku konsumen juga demikian. Mereka berbondong-bondong datang untuk membeli nasi goreng yang harganya murah meriah, tidak membuat kantong menjerit, dan cocok bagi kondisi keuangan santri di pondok pesantren untuk memanjakan lidah.
Dari Santri untuk Pesantren
Beberapa harga dipatok di kedai nasi goreng ini. 3.000 rupiah untuk sebungkus nasi goreng, 5.000 rupiah untuk seporsi nasi goreng plus telur dadar, dan toping sosis ayam yang dibandrol hanya 1.000 rupiah.
Omset yang didapat juga tidak sedikit. Berjualan nasi goreng di halaman pesantren dalam waktu semalam, mampu melayani santri menikmati nasi goreng hingga kurang lebih 200 bungkus. Semua penghasilan dari berjualan nasi goreng tersebut masuk ke kas pesantren. Petugas kedai nasi goreng tidak mengambil sepeserpun uang hasil penjualan. Dengan berjualan nasi goreng ini, mereka berharap mendapat aliran barakah dari pesantren, sebab telah membantu ekonomi pesantren dan membuat senang para santri.


