Orasi Hikmah Wisuda Ma’had Aly dan STIS Nurul Qarnain, Ketua LPPD Jawa Timur Kupas Nilai Plus Pendidikan Pesantren

JEMBER_nurulqarnain.net. Banyak tokoh penting yang hadir pada acara Wisuda IV Ma’had Aly Marhalah Ula Nurul Qarnain dan Wisuda II STIS Nurul Qarnain pada Senin (28/10/2024) di Auditorium KH. Yazid Karimullah. Salah satu tokoh besar tersebut adalah Prof. Dr. KH. Abdul Halim Soebahar, M.A., selaku Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Jawa Timur dan Dr. Drs. KH. Ilhamullah Sumarkan, M.Ag., selaku Wakil Koordinator Kopertais IV sekaligus Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Timur.

Menurut pengakuannya, guru besar bidang ilmu pendidikan Islam di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember ini, hadir ke Pondok Pesantren Nurul Qarnain dengan beberapa alasan. Pertama, sebab beliau menilai kebiasaan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah, yang memegang alat pertukangan usai mengajar kitab sama persis dengan kebiasaan almarhum ayah beliau.

“Jadi, abah saya, Kiai Soebahar itu, dulu nyantri di Sukorejo pada tahun 1934 sampai tahun 1941. Saat saya berkunjung ke sini, saya lihat persis profil abah saya. Abah saya kalau habis Subuh, ngaji kitab. Setelah ngaji kitab, pegang cetok, alat pertukangan. Saya bertemu KH. Yazid pertama kali itu pegang cetok, pakai sarung, terus saya diajak ke belakang. Itu persis dengan abah saya yang wafat pada bulan Desember tahun 1991,” tutur Prof. Halim saat mengisi orasi hikmah pada acara wisuda tersebut.

Sementara alasan kedua, beliau berkenan hadir ke Pondok Pesantren Nurul Qarnain sebab beliau ingin secara langsung bertemu dengan kader-kader unggul pesantren yang dibekali dengan Al-Qur’an dan dasar-dasar keagamaan.

Prof. Dr. KH. Abdul Halim Soebahar, M.A., saat beri orasi hikmah
Prof. Dr. KH. Abdul Halim Soebahar, M.A., saat beri orasi hikmah

“Saya akan melihat Pondok Pesantren Nurul Quran ini tidak dari Sukowono, tapi dari Jawa Timur, dari Indonesia, bahkan dari Mesir. Karena dengan penglihatan seperti itu, kita semakin yakin bahwa Pondok Pesantren Nurul Qarnain Sukowono ini memberikan dasar-dasar keagamaan yang sangat kuat untuk membekali lulusan dalam menghadapi masa depan yang sangat panjang,” tambah beliau.

Dalam orasi hikmahnya, profesor yang lahir di Bondowoso pada tahun 1961 itu melanjutkan bahwa terdapat dua santri Nurul Qarnain yang lolos program beasiswa Mesir. Di antaranya adalah Gus Kafa putra dari pasangan KH. Badrud Tamam, M.H.I., dan Ning Hj. Zulfa Yazid, S.Sos.I., M.Pd.

“Satunya itu, dua tahun sebelumnya adalah santri asal Maesan Bondowoso yang mondok di sini. Dia sudah biasa juara baca kitab di Jawa Timur, tetapi tahun yang lalu dia juara baca kitab di Mesir. Luar biasa itu. Itu terjadi hanya sekali ini dalam sepuluh tahun terakhir. Juara baca kitab di Mesir yang mahasiswanya dari seluruh dunia itu ternyata alumni Pondok Pesantren Nurul Qarnain,” imbuh beliau.

Lebih lanjut, Prof. Halim ingat terhadap sosok mantan Menteri Agama Republik Indonesia pada Kabinet Pembangunan II, Dr. KH. Abdul Mukti Ali yang melakukan penelitian pada tahun 1983. Dalam penelitiannya tersebut, beliau menyatakan bahwa tidak ada perguruan tinggi yang lebih baik dibanding perguruan tinggi yang ada di pondok pesantren. Tidak ada sekolah yang lebih baik dibanding sekolah di pondok pesantren. Dan tidak ada madrasah yang lebih baik dibanding madrasah yang ada di pondok pesantren.

“Kalau sekolah atau madrasah yang ada di luar pesantren, itu hanya berhasil membina otak, tapi gagal membina watak. Jadi, kalau sekolah atau madrasah di luar kompleks pondok pesantren, apalagi masa sekarang, memang berhasil membina otak, tapi gagal membina watak,” tegasnya.

“Sampai sekarang, tidak ada yang merevisi hasil penelitian itu. Artinya, hingga sekarang statemen tersebut masih sangat relevan untuk memagari agar generasi kita betul-betul berbasis pesantren, berbasis agama, berbasis mental dan lain-lain,” tandas beliau.

Senada dengan sambutan dari Wakil Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (Kopertais) Wilayah IV yang membawahi 190 perguruan tinggi Islam swasta se-Jawa Timur, Dr. Drs. KH. Ilhamullah Sumarkan, M.Ag., merasa takjub terhadap gedung Sekolah Tinggi Ilmu Syariah yang berada di Pondok Pesantren Nurul Qarnain.

“Kebetulan tadi saya lewat, ternyata kampus ini sangat mewah, mepet sawah dan memang gedungnya mewah. Tadi sempat mengira bukan kampus, ternyata luar biasa, gedungnya megah seperti ini,” tutur Dr. Drs. KH. Ilhamullah Sumarkan, M.Ag.

Tak lupa, beliau juga berikan ucapan selamat kepada Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nurul Qarnain yang telah menyelenggarakan wisuda kedua. Beliau berharap STIS segera berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam, atau bahkan Institut Agama Islam.

“Mewakili Kopertais Wilayah IV, tentu kami memberikan ucapan selamat kepada STIS Nurul Qarnain di wisuda yang kedua ini. Ke depan saya berharap STIS ini bisa menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI), bahkan kalau perlu menjadi Institut Agama Islam (IAI) Nurul Qarnain,” imbuhnya.

Sambutan Wakil Kopertais Wilayah IV, Dr. Drs. KH. Ilhamullah Sumarkan, M.Ag.
Sambutan Wakil Kopertais Wilayah IV, Dr. Drs. KH. Ilhamullah Sumarkan, M.Ag.

Dengan pantun khasnya, Wakil Koordinator Kopertais Wilayah IV tersebut memberikan ucapan serta doa kepada para wisudawan-wisudawati STIS Nurul Qarnain.

“Beli baju ke kota Panggul, semoga maju dan unggul. Sebuah pesawat terbang di awan, landing di Bandara Kramat Jati, kami ucapkan selamat untuk para wisudawan dan wisudawati. Terbang ke Brazil singgah di Honolulu, semoga berhasil dan berkah selalu,” ucap beliau.

Kepada pimpinan STIS Nurul Qarnain, Dr. Ilhamullah menyarankan agar STIS mempunyai kartu Telkomsel. Artinya, terus lakukan komunikasi selalu. Selain kartu Telkomsel, beliau juga titip kartu Indosat kepada para mahasiswa-mahasiswi.

“Agar hidup kalian berhasil, jangan lupa kartu Indosat. Indosat adalah intensif doa usaha dan tawakal. Terus komunikasikan dengan Allah, intensif doa usaha dan tawakal. Ada juga Indosat yang selama ini sudah diajarkan dan diaplikasikan di pondok ini yang dapat menunjang keberhasilan tertinggi, yaitu Indosat yang berarti indahnya doa saat tahajud,” tandas beliau.

Sementara itu, KH. Yazid Karimullah selaku Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain menuturkan bahwa acara Wisuda IV Ma’had Aly Marhalah Ula Nurul Qarnain dan Wisuda II STIS Nurul Qarnain ini merupakan bagian dari perjalanan beliau sebagai khadim at-thalabah.

“Sejak Nurul Qarnain didirikan pada tahun 1968 dan sekarang sudah sampai ke acara Wisuda Ma’had Aly dan STIS, ini adalah perjalanan selama 56 tahun dari Pondok Pesantren Nurul Qarnain. Menurut almarhum KH. Mujib Ridwan Surabaya, nama Nurul Qarnain ini mungkin hanya satu-satunya di dunia. Ini juga termasuk luar biasa,” ujar Kiai Yazid.

Diketahui, pada tahun 1984, KHR. As’ad Syamsul Arifin bersama KH. Mujib Ridwan Surabaya menghadiri acara Haflatul Imtihan di Pondok Pesantren Nurul Qarnain. Dalam ceramahnya, KH. Mujib Ridwan menyampaikan bahwa Nurul Qarnain merupakan nama yang langka untuk pondok pesantren. Menurut beliau, di dunia ini barangkali hanya ada satu pondok pesantren yang memiliki nama Nurul Qarnain.

Dalam sambutan pada acara wisuda itu pula, sambil bergurau KH. Yazid Karimullah mengaku sedikit kecewa, sebab saat sambutan atas nama Wakil Koordinator Kopertais IV, Dr. Drs. KH. Ilhamullah Sumarkan, M.Ag., tidak menyebut gelar di belakang nama beliau.

“Saya merasa agak kecewa karena tadi gelar saya tidak disebut, padahal saya ini SLB alias Sarjana Luar Biasa. Mengapa saya katakan sarjana luar biasa? Karena saya tidak punya ijazah SD/MI, SMP, SMA maupun perguruan tinggi, tapi alhamdulillah berkat hidayah dari Allah, pada tahun 1968 saya mempunyai tanah seluas 40 meter persegi, lalu mendirikan pondok pesantren sampai akhirnya seperti saat ini,” ucap Kiai Yazid.

“Kalau saya saja yang sarjana luar biasa sudah dapat membentuk pesantren seperti sekarang ini, lalu bagaimana kelak Nurul Qarnain saat berada di tangan para doktor ini? Apakah semakin maju? Yang justru saya khawatirkan, para doktor ini kalah sama sarjana luar biasa,” sambung beliau.

Kiai Yazid juga menyatakan, selama pendirian pondok pesantren ini, beliau tidak menggantungkan nasib pesantren kepada orang lain. Awal mula pendirian, beliau memfokuskan kepada sistem pendidikan, bangunan dan ekonomi.

Sambutan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah
Sambutan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah

“Alhamdulillah, jadi perjalanan pondok pesantren ini, mohon maaf, memang tidak pernah ada ketergantungan sejak mulai didirikan pada tahun 1968. Memang tiga hal yang saya rintis, satu pendidikan, dua bangunan, dan tiga ekonomi. Sejak mulai berdiri, ekonomi sudah saya pikir, biar tidak termasuk ‘man ittakala ala zadi ghairihi, thala ju’uhu.’ Jika ada ketergantungan kepada orang lain, maka masa laparnya akan menjadi lama. Akibatnya, pesantren akan mengalami kesulitan untuk maju jika selalu ada ketergantungan kepada orang lain,” tambah beliau.

Di akhir sambutannya, Kiai Yazid berharap dan memohon doa kepada hadirin agar cita-cita beliau untuk mendirikan universitas di bumi Nurul Qarnain segera terwujud.

“Mohon doa, semoga ke depannya Pondok Pesantren Nurul Qarnain bisa mendirikan universitas. Ini semua demi kepentingan masyarakat, agama, dan negara. Menjadi pengasuh di pendidikan pesantren itu harus meniru para nabi dan sahabat, semua hartanya dikorbankan, bukan mencari kekayaan lewat pendidikan. Itulah pesan guru saya, KHR. As’ad Syamsul Arifin, agar meniru Sayyidina Abu Bakar yang harta, ilmu, dan tenaganya dikorbankan semua demi keberhasilan pendidikan,” tutup beliau. (*)

———————————–

Juru Berita: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *