Acara mengangkat tema Perjalanan Spiritual Nabi Muhammad SAW: Inspirasi Penghambaan dan Ketaatan kepada Allah SWT. M. Iqbal bertindak sebagai pembawa acara. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Surah al-Fatihah, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ahmad Si’ad, serta dimeriahkan lantunan Selawat Qiyam oleh Majelis Shalawat Al-Wishol.
Tausiah dan irsyadat disampaikan oleh Ustaz Mohammad Firmansyah, M.H., M.Pd., Wakil Rektor I INSYAKA Bidang Akademik dan Kelembagaan. Mengawali penyampaiannya, ia menyampaikan tentang amanah yang diembannya pada momen tersebut.

“Ini kali keempat saya diminta mengisi ceramah Isra Mikraj di sini. Tiga kali sebelumnya saya menolak, karena merasa masih banyak yang lebih mampu dan pantas,” ujarnya di hadapan para santri.
Dalam penjelasannya, ia menguraikan makna Surah Al-Isra ayat 1, dengan merujuk tafsir Imam At-Tabari tentang perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian dilanjutkan hingga Sidratul Muntaha.
Menurutnya, inti dari peristiwa Isra Mikraj bukanlah semata perjalanan fisik, melainkan perintah salat.
“Banyak keterangan ulama yang menegaskan bahwa salat adalah afdhalul amal. Siapa yang meninggalkan salat, sejatinya ia telah merobohkan tembok kokoh keimanannya sendiri,” tegasnya.
Ustaz Firman, sapaan akrabnya, juga menekankan bahwa Isra Mikraj adalah peristiwa yang secara akal tampak mustahil. Hingga kini, manusia belum mampu menembus langit ketujuh, sementara bumi sendiri dijaga oleh lapisan-lapisan pelindung.

“Tidak semua peristiwa syariat bisa didekati dengan logika. Ada wilayah iman yang harus diyakini sepenuhnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengutip riwayat dari Sayyidatina Aisyah bahwa setelah peristiwa Isra Mikraj, banyak sahabat membicarakan perjalanan Nabi. Dalam situasi itu, keimanan Sayyidina Abu Bakar tampil luar biasa hingga beliau digelari as-Siddiq.
“Apapun yang berasal dari Rasulullah, baik ucapan maupun perjalanan beliau, pasti benar. Itulah keimanan Abu Bakar yang melampaui level manusia kebanyakan,” tuturnya.
Ia juga mengisahkan proses penyucian hati Nabi Muhammad SAW sebelum Isra Mikraj, sebagaimana disebutkan dalam Simtud Durar, bahwa para malaikat membelah hati nabi agar benar-benar suci dan steril. Dari kisah ini, para santri diajak untuk meneladani upaya menjaga kebersihan hati dari penyakit-penyakit batin.
Sebagai contoh konkret, ia menuturkan kisah sufi besar Imam Hatim al-Asham, murid Imam Syaikh Syaqiq al-Balkhy, yang berpura-pura tuli demi menjaga perasaan seorang perempuan agar tidak malu di hadapan umum.

“Inilah latihan menjaga hati. Membersihkan hati bukan hanya dengan ibadah, tetapi juga dengan akhlak,” ujarnya.
Dalam membahas kekhusyukan salat, Ustaz Firman menyampaikan metode Imam Hatim al-Asham.
“Bayangkan Ka’bah di depanmu, Shirathal Mustaqim di bawahmu, surga di kananmu, neraka di kirimu, dan malaikat pencabut nyawa di belakangmu. Minimal khusyuk dalam salat adalah paham apa yang dibaca dan yang dikerjakan,” jelasnya.
Ia menegaskan pula bahwa salat adalah bentuk pengabdian total kepada Allah yang menuntut komitmen penuh.
“Hidup kita ini sejatinya adalah menunggu waktu salat, lalu di sela-selanya kita isi dengan amal kebaikan,” pungkasnya. (*)
——————————
Pewarta: Sulthon Arafat
Editor: Fathorrozi


