Ia tertidur pada malam itu dalam keadaan tertekan karena tidak memiliki sesuatu pun di saat kelahiran putrinya. Ia bermimpi didatangi Nabi Muhammad Saw. dan bersabda, “Janganlah bersedih hati, sebab anak perempuanmu yang baru lahir ini adalah seorang suci yang agung, yang pengaruhnya akan dianut oleh 7.000 umatku.”
Dalam mimpi tersebut Nabi juga memberi perintah agar besok menemui Isa Zaidan, seorang Amir, dengan menyampaikan sepucuk surat yang berisi pesan Nabi seperti yang diperintahkan dalam mimpi.
Isi surat itu: “Hai Amir, engkau biasanya membaca selawat seratus kali setiap malam dan empat ratus kali tiap malam Jum’at. Tetapi dalam Jum’at terakhir ini engkau lupa melaksanakannya. Oleh karena itu, hendaklah engkau membayar empat ratus dinar kepada yang membawa surat ini, sebagai kafarat atas kelalaianmu.”
Ayah Rabi’ah terbangun dan menangis. Ia lalu bangkit dari tempat tidurnya dan langsung menulis surat serta mengirimkannya kepada Amir melalui pembawa surat pemimpin itu. Ketika Amir telah selesai membaca surat itu ia berkata: “Berikan dua ribu dinar kepada orang miskin itu sebagai tanda terima kasihku, sebab Nabi telah mengingatkanku untuk memberi empat ratus dinar kepada orang tua itu dan katakanlah kepadanya bahwa aku ingin agar ia menghadapku supaya aku dapat bertemu dengannya. Tetapi aku rasa tidaklah tepat bahwa orang seperti itu harus datang kepadaku. Akulah yang akan datang kepadanya untuk menyelesaikan penderitaannya.”
Kisah di atas menggambarkan bahwa kehidupan Rabi’ah sejak dini telah sufi, tanpa dinodai oleh barang-barang syubhat, apalagi barang yang diperoleh dengan maksiat. Kehidupan Rabi’ah sejak awal tanpa dipengaruhi oleh perilaku-perilaku yang merugikan orang lain, bahkan Nabi telah memberi suatu tanda, bahwa kelak Rabi’ah akan menjadi manusia yang terpandang.
Bagi sebagian orang, masa kecil merupakan masa yang indah dan bahagia, ternyata tidak berlaku begitu bagi Rabi’ah. Masa-masa manis bersama ayah ibunya tidak dapat dinikmatinya lagi, karena ayahnya telah wafat, disusul kemudian oleh ibunya. Kepergian orang tuanya merupakan ujian bagi Rabi’ah, karena sang ayah merupakan tulang punggung keluarga, kemudian disusul ibunya tercinta. Betapapun cobaan yang dihadapi, Rabi’ah tetap tidak kehilangan pedoman. Sepanjang siang dan malam Rabi’ah selalu berzikir dan tafakur pada Allah Swt. Hanya kepada Allah ia berserah diri, mengadukan nasib dan mempersembahkan seluruh hidupnya.
Meski ia telah kehilangan ayah ibunya yang sekaligus sebagai guru, akan tetapi semua itu tidak mengendurkan semangat Rabi’ah untuk menggembleng jiwanya guna lebih rindu kepada Allah. Kehidupan Rabi’ah beserta empat saudaranya menurut Atiyah Khamis, dalam karyanya yang mengupas kehidupan Rabi’ah, diceritakan bahwa untuk mempertahankan hidup mereka dari kelaparan, maka mereka giat bekerja. Saudara-saudara Rabi’ah bekerja di rumah, menenun kain atau memintal benang. Sedangkan Rabi’ah sehari-harinya bekerja di sungai menyeberangkan orang dengan perahu kecilnya. Meski demikian, Rabi’ah dan saudara-saudaranya tetap tabah menjalani hidup yang ditakdirkan.
Tidak cukup itu penderitaan Rabi’ah. Saat berada di kota Basrah, bencana alam melanda berupa kemarau panjang dan kekeringan berkepanjangan yang menyebabkan kelaparan penduduk kota. Kota yang mulanya makmur dan berkembang, berubah menjadi kota yang dilanda kemiskinan. Kondisi demikian diperparah dengan meningkatnya pencurian dan perampokan. Hal ini tidak hanya membuat penduduk menderita, tetapi juga dilanda ketakutan. Orang miskin semakin miskin dan terlunta-lunta. Mereka sering dihadang perampok dan menjualnya sebagai budak. Rabi’ah dan saudaranya semakin parah kondisinya, sehingga memaksa mereka untuk meninggalkan gubuknya. Mereka berkelana ke berbagai daerah mencari hidup. Dalam pengembaraan ini menyebabkan Rabi’ah terpisah dari kakaknya. Kemudian Rabi’ah jatuh ke tangan perampok dan dijual sebagai hamba sahaya dengan harga sangat murah, yaitu sebesar enam dirham.
Kehidupan dalam belenggu perbudakan telah mengisi lembar hidup Rabi’ah. Tuan yang telah membelinya sebagai budak memperlakukannya dengan amat kasar, bengis, tanpa rasa perikemanusiaan dan rasa belas kasihan. Tubuh Rabi’ah semakin kering kerontang, yang dimakan hanya sisa-sisa tuannya. Pakaiannya pun hanya sepotong, itupun telah compang-camping. Pahitnya kehidupan dijalani dengan tabah dan sabar. Salat malam tetap dilakukan dengan rutin, lisannya tidak pernah berhenti berzikir; istigfar. Musibah yang tiada henti semakin membuat Rabi’ah mendekatkan diri kepada Ilahi.
Rabi’ah sangat mencintai Allah, sehingga ia tidak silau terhadap kemewahan dunia. Rabi’ah bersikap bijaksana ketika melihat suatu kemewahan. Pada suatu saat, ia pernah melihat emas yang memenuhi gudang. Namun, ia tidak merasakan kegembiraan berlebihan, tidak kagum terhadap emas itu. Ia ingat bahwa dirinya tidak ingin tenggelam dalam kemewahan dunia. Rabi’ah hidup dalam kesederhanaan. Rumahnya sederhana, pakaiannya sederhana, makan dan minum pun tidak dilakukannya secara berlebihan. Rumah Rabi’ah begitu kecil. Pernah suatu saat ada orang yang ingin membantu Rabi’ah dengan bermaksud memberikan rumah yang lebih layak untuk Rabi’ah, namun Rabi’ah menolaknya dengan sangat halus. Ia tidak ingin menyusahkan orang lain. Ia juga tidak ingin meminta belas kasihan dari orang lain. Rabi’ah merasa malu meminta kekayaan dari orang lain.
Bukanlah sebuah alasan bahwa kelemahan, kekurangan dan ketergantungan sosok perempuan kepada laki-laki sebagai penghambat menjadi orang yang terpandang, baik di dunia atau pun di akhirat. Kendati pun sifat lemah sudah melekat terhadap perempuan, namun kisah Rabi’ah ini membuktikan bahwa perempuan tidak selamanya bergantung terhadap laki-laki, harta dan lainnya.
Penulis: Febri Firmansyah, Mahasantri Semester 5 Ma’had Aly Nurul Qarnain
Editor: Fathorrozi


