Tepat pukul 07.50 WIB acara ini dibuka oleh master of ceremony Bapak Ahmad Yulianto, S.Pd.I (guru SD Nurul Qarnain) dengan pembacaan surah al-Fatihah dengan harapan acara berjalan dengan lancar. Selanjutnya pembacaan ayat suci al-Qur’an dan shalawat nabi yang dilantunkan oleh Mohammad Irvan, Mahasantri Ma’had Aly Nurul Qarnain dengan penuh khidmat.
Selanjutnya acara inti, mauidzah oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah. Beliau menuturkan tujuan diundangnya para umana’ ma’had, pengurus pusat, ketua rayon dan subrayon ISNUQ Pondok Pesantren Nurul Qarnain.
“Maksud saya selaku pengasuh ingin silaturahmi kepada para penggerak-penggerak yang termasuk mujahidin fi sabilillah ini tanpa terkecuali. Mulai ketua kamar, wakilnya, pengurus pesantren, staf daerah, para dosen dan semuanya, saya kumpulkan jadi satu dalam silaturahmi ini.”
Selain silaturahmi, KH. Yazid Karimullah juga memberikan arahan dan semangat mengenai berjuang untuk mendidik dan membimbing santri agar para santri menjadi manusia yang beruntung, baik di dunia maupun di akhirat.
“Dalam kesempatan ini, saya hanya mengingatkan yang mungkin semuanya sudah memahami tujuan yang sebenarnya dari pendirian pesantren ini. Saya kembali ingat ketika saya berdua bersama guru saya, Hadratussyaikh KHR. As’ad Syamsul Arifin. Beliau bertutur, ‘umur saya mau saya habiskan untuk perjuangan.’ Inilah yang membuat saya semangat. Alhamdulillah, sekalipun dalam keadaan sakit, saya masih bisa memaksa untuk mengabdi kepada pesantren. Saya ceritakan ini supaya menjadi uswatun hasanah, bukan maksud riya, karena seorang pemimpin itu harus bisa memberi uswatun hasanah. Karena persyaratan menjadi seorang pemimpin harus mampu memberi uswatun hasanah kepada anak buahnya,” tutur beliau.
Selain itu, beliau menceritakan perjuangan pertama mendirikan lembaga yang semula belum maju hingga menjadi lembaga berkembang seperti saat ini.
“Dulu waktu saya berjuang mendirikan sekolah, tidak ada yang membantu. Alhamdulillah, masih berjalan walaupun bisa dikatakan belum maju. Jadi, mustahil jika sekarang ini pesantren akan gagal, sebab sekarang sudah banyak yang membantu saya. Ada wakil-wakil saya dan kepala sekolah yang semuanya sudah lulus S1 S2, bahkan S3. Maka, manfaatkan al-haya’u minal iman (malu sebagian dari iman). Seperti malu menjadi ketua kamar ketika mempunyai anak buah tidak sesuai dengan harapan pesantren. Malu menjadi staf daerah apabila mempunyai santri tidak sesuai yang diharapkan. Saya pun selaku pengasuh, malu kepada Allah jika memiliki anak buah, pengurus pesantren, dosen, dan guru yang tidak mampu melahirkan santri berilmu dan bertakwa,” tukas beliau.
Beliau juga mengajak kepada Pengurus ISNUQ untuk giat, ikhlas dan mengabdi kepada agama dan pesantren.
Hal senada juga disampaikan oleh KH. Fawaid Yazid, S.Ag., selaku Wakil Pengasuh Bidang Kepesantrenan. Menurut beliau, jika diibaratkan sebuah toko, Pondok Pesantren Nurul Qarnain ini merupakan toko yang sudah sangat lengkap.
“Artinya beli ini ada dan beli itu juga ada. Tinggal, bagaimana mengelola toko tersebut? Bagaimana agar pesantren ini tetap diminati oleh masyarakat? Tentunya harus maju,” sambung beliau.
Drs. KH. Imam Syafi’i, M.Pd.I., Wakil Pengasuh Bidang Sosial, Politik dan Ekonomi, menuturkan guru harus bisa mencetak anak didik yang bisa menguasai ilmu dunia dan ilmu akhirat, serta juga tidak canggung jika terjun di dunia politik.
“Di luar, Pesantren Nurul Qarnain ini terkenal bukan hanya kaya raya akan keilmuannya, namun juga populer sebab kaya raya dalam hal ekonomi,” tambah beliau.
Sementara KH. Badrut Tamam, M.H.I., dalam sambutannya sebagai Wakil Pengasuh Bidang Pendidikan, beliau mengimbau agar semua lembaga tidak perlu membentuk komite, karena yang akan memantau dan menvisitasi langsung adalah bagian dari Dewan Pendidikan Nurul Qarnain.
Selain itu, beliau juga mengarahkan kepada para pendidik untuk saling memangku antar lembaga, bukan hanya fokus untuk lembaga sendiri.
“Sebab, setiap lembaga membutuhkan lembaga yang ada di bawahnya. Seperti STIS dan Ma’had Aly membutuhkan siswa-siswi MDMA, MA dan SMK. MA, MDMA dan SMK butuh siswa-siswi MTs dan MDMT. Begitu pun MTs dan MDMT yang membutuhkan siswa-siswi SD,” pungkas beliau. (*)
—————————————
Pewarta: Fita Lalia
Editor: Fathorrozi


