Sebelum acara dimulai, sambil menunggu kehadiran Ustazah Syarifah Khodijah Musthofa BSA, para jamaah Shalawat Burdah dari berbagai daerah ini menikmati lantunan-lantunan senandung shalawat yang dilantunkan oleh Grup Hadrah Muslimat NU Ancab Sukowono. Acara yang dimulai pada pukul 14.50 WIB dan bertempat di Auditorium KH Yazid Karimullah ini dipandu oleh Fatna Harista. Ia membuka acara dengan pembacaan tawassul bi surat al -Fatihah yang dipimpin oleh Ustazah Syarifah Khodijah Musthofa BSA. Lalu beliau melanjutkan acara dengan sambutan.
“Insyaallah dengan pembacaan Shalawat Burdah kita tidak akan terpisahkan dari Nabi Muhammad. Kita di sini berkumpul untuk bersama-sama memberikan hati kita kepada Nabi Muhammad, meluangkan waktu kita untuk Nabi Muhammad, memberikan pikiran kita untuk Nabi Muhammad, dan kita minta kepada Allah agar diberi kemuliaan, bersama Nabi Muhammad,” tutur beliau.
Acara dilanjutkan dengan pembacaan Shalawat Burdah yang dipimpin oleh Ustazah Syarifah Khodijah Musthofa BSA dengan diiringi kesenian hadrah. Suasana menjadi sangat haru saat pembacaan Shalawat Burdah. Semua tangis pecah di tengah-tengah ruang auditorium. Dengan kalimat yang begitu menyentuh hati, renungan, serta pengakuan dosa, jamaah yang hadir tersedu-sedu. Hati dan pikiran mereka dipenuhi rasa penyesalan atas dosa-dosa yang telah diperbuat. Semua doa dan pinta dihaturkan kepada sang baginda Rasulullah Saw untuk disampaikan kepada Allah Swt.
“Sebab perantara pengaduan, curahan hati yang dihadiri Rasulullah, harapan akan segera terkabulkan,” tambah beliau.
Usai pembacaan Shalawat Burdah, Ustazah Syarifah Khodijah Musthofa BSA memberi pencerahan kepada hadirat yang hadir.
“Ketika kamu merasa bahagia, maka di sana ada rida Allah. Jika bahagia kita bisa dirasakan, rasakan juga kebahagiaan itu dengan kehadiran Rasulullah. Guru saya mengatakan, ‘di dalam hati, hadirkan Rasulullah. Ada akhlak Rasulullah, ada sunah, hadis, al-Qur’an, hadirkan itu’. Saat menanamkan cinta kepada Nabi Muhammad di dalam salat, kita akan merasa lezat. Terlihat lelah, capek, tapi ketika kita membuka pintu untuk memerangi hawa nafsu, maka kita bisa dapat cinta Rasulullah. Kita akan mempunyai ikatan dalam rasa.”
“Contoh Syeikh Ahmad Rifa’i, ketika sering hadirkan Nabi Muhammad, ia bisa melihat tangan Rasulullah yang muncul dari makam beliau di dunia secara kasat mata. Dan kita ambil hikmah dari Syeikh Ahmad Rifa’i, jika jasad kita tidak sebersih jasad Syeikh Ahmad Rifa’i yang bisa melihat tangan Rasulullah di dunia, maka hati dan tangan kita yang penuh dosa ini, kita hadirkan Rasulullah. Apapun yang terjadi dalam kehidupan di dunia ini, hadirkan! Libatkan Rasulullah! Kita bisa meraih tangan Rasulullah kelak di surga dan mendapatkan air di bibir kita yang harumnya lebih harum dari kasturi, lebih manis dari madu, dan lebih putih dari susu,” imbuh beliau.
Acara ditutup dengan doa yang juga dipimpin oleh beliau sendiri. Usai acara, hadirat berbondong-bondong ingin mencium tangan lembut beliau. Namun, tidak semua jamaah bisa berkesempatan mencium tangan beliau, karena jamaah diminta segera tunaikan salat Ashar. Dalam acara ini, tidak satu pun dari jamaah yang berani mengambil gambar beliau, karena sejatinya beliau memang tidak suka dan tidak pernah mengunggah foto beliau di mana pun. (*)
————————————–
Juru berita: Fita Lalia
Editor: Fathorrozi


