Masyarakat kerap mengeluhkan tentang kurangnya etika dan sopan santun remaja. Kurangnya sikap etika dan sopan santun remaja, yang menyebabkan maraknya kenakalan remaja. Disebabkan karena lemahnya pendidikan karakter yang terintegrasi dalam pendidikan formal, informal, maupun nonformal.
Beberapa faktor yang mempengaruhi krisis moral pelajar saat ini, diantaranya:
- Kehadiran gadget
- Kurangnya interaksi antara anak dan orang tua
- Faktor keluarga
- Krisis identitas
- Kontrol diri yang lemah, dan
- Sikap mental yang tidak sehat
Maka dari itu, penerapan pendidikan karakter di sekolah terus dikerahkan oleh pemerintah demi mengatasi permasalahan yang telah disebutkan. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus mendorong sekolah di seluruh Indonesia untuk menerapkan pendidikan karakter, khususnya penguatan pendidikan karakter (PPK). Lebih lanjut, PPK merupakan gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter melalui proses pembentukan, transformasi, transmisi, dan pengembangan potensi peserta didik dengan cara harmonisasi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi), dan olah raga (kinestetik) sesuai falsafah hidup Pancasila (Kemendikbud, 2017: 17).
Secara umum, tujuan program PPK adalah menanamkan nilai-nilai pembentukan karakter bangsa secara masif dan efektif melalui implementasi nilai-nilai utama Gerakan Nasional Revolusi Mental (religius, nasionalis, mandiri, gotong-royong dan integritas) yang akan menjadi fokus pembelajaran, pembiasaan, dan pembudayaan. Oleh karena itu, pendidikan karakter bangsa sungguh dapat mengubah perilaku, cara berpikir dan cara bertindak seluruh bangsa Indonesia menjadi lebih baik dan berintegritas (Kemendikbud, 2017: 2).
Penerapan pendidikan karakter sangat minim untuk keadaan dunia pendidikan di Era Revolusi 4.0 saat ini, akibat berkembangnya zaman yang semakin lama semakin merekah dan semakin menyibakkan perubahannya. Membawa dampak yang sedikit banyak harus diterima oleh kalangan kaum pelajar dan masyarakat negeri kita ini.
Banyak faktor yang mempengaruhi rusaknya pendidikan karakter. Pendidikan karakter digaungkan agar masyarakat dapat memilih dan memilah budaya bangsa sendiri, dapat menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai karakter dan budaya bangsa sendiri yang berbudi. Lantas, nilai-nilai budaya bangsa yang berbudi luhur itu yang seperti apa? Pendidikan karakter yang baik memiliki beberapa nilai-nilai pendidikan karakter sebagai prioritas. Dan lima pilar utama pentingnya pendidikan karakter yaitu:
- Religius
- Nasionalis
- Integritas
- Mandiri
- Gotong royong
Dengan adanya kerja sama yang baik antara guru, orang tua, masyarakat, dan pemerintah maka saya yakin tidak ada anak Indonesia yang akan mengalami “krisis moral”. Yang ada hanyalah murid yang berkarakter, berprestasi, bermoral, serta berakhlak mulia untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia. Anak-anak harus ditanamkan pendidikan moral serta etika yang baik sejak dini, agar mereka bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Menurut Thomas Lickona (1991) terdapat enam (6) elemen pembudayaan karakter di sekolah:
1. Kepemimpinan dari kepala sekolah
2. Kebijakan untuk menegakkan disiplin
3. Upaya membangun rasa kekeluargaan
4. Pengelolaan kelas yang demokratis
5. Upaya menciptakan kerjasama yang erat
6. Upaya menangani masalah karakter
Sehingga bukan tidak mungkin anak-anak saat ini tumbuh menjadi tunas bangsa yang akan berkembang menjulang tegar. Sebab hanya ranting tua yang mudah dipatah, kita adalah ranting muda yang akan tumbuh menjulang meski diterpa badai.
Tentang Penulis :
Izzatun Nafila, Merupakan Santri pondok Pesantren Nurul Qarnain sekaligus Siswi Madrasah Plus Keterampilan Nurul Qarnain yang sekarang sedang duduk di bangku kelas XI IPS 3.


