Bagi Yudhi, mengikuti MTQ tingkat nasional menjadi pengalaman tersendiri. Kesempatan tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk berkompetisi, tetapi juga untuk mengembangkan hasil kajian Al-Qur’an agar dapat berhubungan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Dalam Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an, Yudhi mengangkat persoalan kelestarian lingkungan dan kerukunan umat beragama. Kedua tema tersebut dipilih karena dinilai memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat dan membutuhkan perhatian melalui pendekatan nilai-nilai Al-Qur’an.
“Saya mencoba mengangkat dua persoalan yang menurut saya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, yaitu kelestarian lingkungan dan kerukunan umat beragama. Keduanya saya kaji dengan melihat bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dapat memberikan perspektif terhadap persoalan tersebut,” ujar Yudhi.
Ia menyebut, latar belakang pendidikan di pesantren turut memberikan bekal dalam proses penyusunan karya. Kajian Al-Qur’an dan berbagai khazanah keilmuan yang dipelajari selama berada di Ma’had Aly menjadi bagian dari proses dalam mengembangkan gagasan.

“Belajar di pesantren memberikan banyak bekal, terutama dalam memahami Al-Qur’an dan khazanah keislaman. Bekal tersebut kemudian saya coba kembangkan dengan melihat persoalan yang ada di masyarakat,” ungkapnya.
Keikutsertaannya di MTQ XXXI juga memiliki makna tersendiri karena terdapat nama almamater dan daerah asal yang turut dibawa. Yudhi merasa kesempatan tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab untuk menunjukkan bahwa lulusan pesantren juga memiliki ruang untuk berkiprah di tingkat nasional.
“Ketika mengikuti ajang seperti ini, tentu ada nama almamater yang saya bawa. Saya juga berasal dari Bali, sehingga ada kebanggaan sekaligus tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik,” tuturnya.
Perjalanan Yudhi bermula dari Bali, kemudian berlanjut ke Ma’had Aly Nurul Qarnain Jember. Dari lingkungan pesantren tersebut, ia terus mengembangkan kemampuan hingga memperoleh kesempatan tampil dalam ajang nasional di Semarang.
“Perjalanan ini bagi saya adalah proses. Dari Bali, kemudian belajar di Ma’had Aly Nurul Qarnain, dan sekarang mendapat kesempatan berada di panggung nasional. Apa yang saya jalani tidak lepas dari proses belajar dan bekal yang saya dapatkan selama di pesantren,” katanya.
Menurut Yudhi, santri memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan diri. Keilmuan yang diperoleh di pesantren dapat menjadi dasar untuk melahirkan gagasan dan karya yang relevan dengan perkembangan masyarakat.
“Santri harus terus belajar dan mengasah gagasan. Pesantren memberikan dasar ilmu dan nilai, kemudian kita memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan ilmu tersebut agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas,” pungkasnya. (*)
——————————————-
Pewarta: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


