Perkembangan dunia saat ini semakin sulit diprediksi. Berbagai konflik, persaingan antarnegara, perang, hingga ketegangan politik internasional menjadi berita yang hampir setiap hari kita lihat. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia.
Di tengah situasi tersebut, santri sebagai bagian dari generasi muda juga perlu memiliki sikap yang tepat. Santri tidak cukup hanya memahami persoalan agama, tetapi juga perlu memiliki wawasan tentang kondisi sosial, politik, ekonomi, dan perkembangan dunia. Dengan begitu, santri dapat melihat persoalan global secara lebih luas dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar.
Hal pertama yang perlu dimiliki santri adalah sikap kritis. Kenapa begitu penting seorang santri yang berada di lingkup pesantren untuk memiliki sikap kritis? Karena saat ini informasi mengenai konflik dan politik internasional sangat mudah ditemukan melalui media sosial. Sayangnya, tidak semua informasi tersebut benar. Banyak berita yang dipotong, dibesar-besarkan, bahkan sengaja dibuat untuk memengaruhi opini masyarakat.
Sebab itu, santri harus membiasakan diri melakukan tabayyun/bertanya, yaitu memeriksa dan memastikan kebenaran suatu informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Jangan sampai karena terbawa emosi, kita justru ikut menyebarkan berita palsu atau provokasi.
Santri perlu belajar membedakan antara fakta, opini, dan propaganda. Sikap seperti ini sangat penting agar kita tidak mudah terjebak dalam konflik yang sebenarnya tidak kita pahami secara utuh, dan hanya sebatas FOMO (Fear of Missing Out), atau biar dikenal selalu update terhadap dunia.
Kemudian, santri juga harus memiliki sikap mengutamakan keadilan dan kemanusiaan. Dalam menghadapi konflik geopolitik, santri juga harus menjadikan keadilan dan kemanusiaan sebagai dasar dalam bersikap. Kita boleh memiliki pandangan politik dan keberpihakan terhadap suatu persoalan, tetapi jangan sampai keberpihakan tersebut membuat kita kehilangan sikap adil.
Ketika masyarakat sipil menjadi korban perang, misalnya, perhatian utama seharusnya adalah keselamatan dan kemanusiaan mereka. Perbedaan agama, bangsa, atau kewarganegaraan tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan rasa empati.
Sikap tersebut sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam. Membela kebenaran tidak berarti harus membenci semua orang yang berbeda dengan kita. Kita dapat menolak kekerasan dan ketidakadilan tanpa menyebarkan kebencian terhadap suatu kelompok.
Tidak mudah terprovokasi. Kegaduhan geopolitik sering kali dimanfaatkan untuk membangun emosi masyarakat. Berbagai narasi tentang “kawan” dan “lawan” dapat membuat orang berpikir secara hitam-putih. Akibatnya, seseorang bisa langsung membenci pihak tertentu tanpa memahami akar masalahnya. Santri seharusnya mampu mengambil jarak dari provokasi tersebut. Sikap tenang bukan berarti tidak peduli. Justru dengan ketenangan, seseorang dapat melihat persoalan secara lebih objektif.
Tradisi pesantren yang mengajarkan adab, musyawarah, dan penghormatan terhadap ilmu dapat menjadi bekal penting. Sebelum berbicara, santri perlu memahami masalah. Sebelum menyebarkan informasi, santri perlu memeriksa kebenarannya. Dan sebelum menghakimi pihak lain, santri perlu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.
Santri juga harus melek dunia. Di masa lalu, mungkin persoalan geopolitik terasa jauh dari kehidupan santri. Namun sekarang keadaan berbeda. Konflik di suatu negara dapat berdampak pada harga bahan bakar, ekonomi, perdagangan, teknologi, bahkan kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Maka dari itu, santri perlu memperluas wawasan. Belajar agama tetap menjadi dasar, tetapi pengetahuan tentang sejarah, ekonomi, politik, teknologi, dan hubungan internasional juga penting. Santri yang memahami dunia akan lebih mampu menjalankan perannya di tengah masyarakat. Ia tidak hanya mampu memberikan nasihat keagamaan, tetapi juga dapat membantu masyarakat memahami berbagai persoalan secara bijak.
Dari media sosial menuju aksi nyata. Di era digital, kepedulian terhadap konflik global sering kali hanya diwujudkan melalui unggahan di media sosial. Membagikan informasi memang bisa menjadi salah satu bentuk kepedulian, tetapi seharusnya tidak berhenti di sana. Santri dapat mengambil tindakan yang lebih nyata, misalnya melalui kegiatan sosial, penggalangan bantuan kemanusiaan, pendidikan, dakwah yang menyejukkan, dan kampanye literasi digital. Dengan cara tersebut, kepedulian santri tidak hanya terlihat dari kata-kata, tetapi juga melalui tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menjadi penyejuk di tengah kegaduhan. Menurut saya, peran santri yang paling penting dalam menghadapi kegaduhan geopolitik global adalah menjadi penyejuk. Dunia sudah cukup ramai dengan konflik dan perdebatan. Jangan sampai santri justru menambah kegaduhan dengan menyebarkan kebencian dan informasi yang tidak jelas.
Santri harus mampu menunjukkan bahwa perbedaan pendapat dapat disikapi dengan ilmu dan akhlak. Kita dapat memiliki pandangan yang berbeda, tetapi tetap menghormati orang lain. Kita dapat mengkritik kebijakan suatu negara, tetapi tidak perlu membenci seluruh rakyatnya. Kita dapat membela korban, tetapi tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Terlebih, kita semua, terutama seluruh santri Pondok Pesantren Nurul Qarnain, untuk bisa bersikap luas, bukan hanya sebatas tahu terhadap keadaan karena banyak berita hoaks yang selalu update di media sosial atau di media cetak.
Santri harus mampu menempatkan diri sebagai generasi yang cerdas membaca keadaan, kritis terhadap informasi, adil dalam menilai, dan peduli terhadap sesama. Kegaduhan geopolitik global seharusnya menjadi momentum bagi santri untuk memperluas wawasan dan memperkuat karakter. Dengan ilmu dan akhlak, santri tidak hanya mampu menghadapi perubahan dunia, tetapi juga dapat memberikan kontribusi untuk menciptakan masyarakat yang lebih damai, adil, dan manusiawi. (*)
——————————————-
Penulis: Sulthon Arafat
Editor: Fathorrozi


