Atas Nama Cinta, Uwais Al Qarni Rela Gendong Sang Ibu dari Yaman hingga Makkah

nurulqarnain.net – Dahulu, di tanah Yaman, hiduplah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni. Ia bukan siapa-siapa. Hidupnya miskin, tubuhnya penuh belang akibat penyakit sopak yang dideritanya sejak lama. Tapi, di balik kekurangannya, tersembunyi satu kelebihan yang membuat langit pun mencatat namanya: ia anak yang sangat berbakti kepada ibunya.

Ibunya sudah tua dan lumpuh. Setiap hari Uwais merawatnya dengan penuh kasih dan sabar. Ia mencuci tubuh ibunya, menyuapinya, bahkan menyeka air matanya ketika sang ibu menangis rindu pada Tanah Suci. Sampai pada suatu hari, sang ibu berkata lirih, “Nak, andai aku bisa ke Makkah, aku ingin berhaji sebelum menutup mata…”

Kata-kata itu menusuk hati Uwais. Ia tahu ibunya tak sedang meminta, tapi merindukan sesuatu yang baginya mustahil. Dengan harta yang tak seberapa, dengan kondisi ibunya yang lumpuh, dan jarak ribuan kilometer yang membentang dari Yaman ke Makkah, permintaan itu seperti mimpi yang tak mungkin jadi nyata. Tapi bagi Uwais, rida ibunya lebih besar dari dunia dan isinya. Ia tak akan menyerah.

Lalu Uwais membeli seekor anak lembu dan membangun kandang di atas bukit. Setiap pagi, ia gendong lembu itu naik turun bukit. Orang-orang menatap heran, mencemooh, bahkan menuduhnya gila.

“Uwais gila… Uwais gila…” begitu kata mereka.

Akan tetapi, Uwais diam. Ia terus menggendong lembu itu setiap hari. Semakin hari lembu itu membesar, dan tubuh Uwais semakin kuat.

Delapan bulan berlalu. Musim haji pun tiba. Lembu itu kini beratnya lebih dari 100 kilogram dan Uwais sanggup mengangkatnya. Kini orang-orang baru menyadari, bahwa apa yang mereka anggap kegilaan adalah cinta. Uwais telah melatih tubuhnya untuk menggendong ibunya sendiri berjalan kaki dari Yaman ke Makkah.

Perjalanan pun dimulai. Di bawah panas mentari padang pasir dan dinginnya malam yang menggigil, Uwais memikul tubuh ibunya. Langkah demi langkah, tapak demi tapak, ia jalani dengan penuh cinta dan keikhlasan. Tidak sekalipun ia mengeluh. Tidak sekalipun ia meminta digantikan. Setiap peluh yang menetes adalah bukti cintanya kepada sang ibu. Setiap langkah yang berat adalah doa tanpa suara.

Dan ketika akhirnya kaki Uwais berdiri di depan Kakbah, air matanya jatuh. Ia menangis sambil tetap memanggul ibunya yang kini menangis haru di punggungnya.

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa Ibuku,” ucapnya lirih saat tawaf.

Sang ibu bertanya, “Bagaimana dengan dosamu sendiri, Anakku?”

Uwais tersenyum, “Cukuplah jika Ibu diampuni. Jika Ibu masuk surga, aku yakin, ridamu akan membawaku bersamamu.”

Langit pun tersentuh oleh cinta seperti ini. Allah menyembuhkan penyakit sopaknya, meninggalkan hanya satu bulatan kecil di telapak tangannya tanda untuk dikenali oleh orang-orang mulia di masa depan. Rasulullah bahkan pernah bersabda kepada Umar dan Ali, “Suatu saat, akan datang seorang lelaki dari arah Yaman. Doanya sangat makbul. Carilah dia, karena dia adalah manusia langit yang tersembunyi di bumi.”

Uwais Al Qarni tak dikenal di bumi, tapi sangat dikenal di langit. Ia bukan ulama besar, bukan saudagar kaya, bukan pula panglima perang, tapi ia dicintai Allah, karena ia mencintai ibunya melebihi dirinya sendiri. (*)

——————————–

Penulis: Silfin Aisyah

Editor: Wildan & Rozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *