Beginilah Etika Bertamu Sesuai Ajaran Islam

JEMBER_nurulqarnain.net. Silaturahmi dengan cara bertamu merupakan amalan yang dianjurkan, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi orang yang akan berkunjung. Berikut beberapa tatacara bertamu sesuai hadis Rasulullah SAW.

Pertama, minta izin sebelum berkunjung.

Sebelum berkunjung ke rumah kerabat, ada baiknya untuk meminta izin terlebih dahulu. Hal ini juga bertujuan agar kehadiran tamu tidak mengganggu aktivitas pemilik rumah (ini dalil yang harus dipegang tamu bukan tuan rumah).

Rasulullah SAW mengajarkan umat Islam untuk meminta izin maksimal sebanyak tiga kali. Jika pemilik rumah tidak mengizinkan, maka jangan memaksa.

Dari Abu Musa al-Asy’ary Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak, maka pulanglah!'” (HR. Bukhari dan Muslim).

Meminta izin terlebih dulu sebelum bertamu ini juga dimaksudkan agar tuan rumah agar lebih bisa sempurna persiapannya dalam menghormat dan menjamu tamu (ini dalil untuk dipegang tuan rumah).

Kedua, mengucap salam sebelum masuk rumah.

Saat tiba di rumah kerabat, maka usahakanlah untuk mengucapkan salam. Jangan langsung masuk ke rumah sebelum pemilik rumah mengizinkan masuk.

Hal ini termaktub dalam al-Qur’an surah an-Nur ayat 27:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَدْخُلُوا۟ بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا۟ وَتُسَلِّمُوا۟ عَلَىٰٓ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. an-Nur: 27).

Dalam hadis juga dijelaskan. Dari Kildah ibn al-Hambal Radhiallahu ‘Anhu, ia berkata: “Aku mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu aku masuk ke rumahnya tanpa mengucap salam. Maka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Keluar dan ulangi lagi dengan mengucapkan ‘Assalamu’alaikum’, boleh aku masuk?'” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, berkata: Hadis Hasan)

Ketiga, mengucapkan permisi.

Adab berikutnya adalah mengetuk pintu dengan sopan dan mengucapkan permisi. Mengetuk pintu menjadi tanda bahwa seseorang datang untuk berkunjung. Jangan langsung masuk tanpa dipersilakan. Setelah ucap salam usahakan tetap berdiri di luar pintu sampai tuan rumah datang menyambut dan mempersilakan masuk.

Diceritakan oleh Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, “Kami di masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengetuk pintu dengan kuku-kuku.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad bab Mengetuk Pintu).

Keempat, jangan mengintip dan melihat isi rumah secara penasaran.

Beberapa orang secara tidak sadar mengintip ke dalam rumah atau memandang isi rumah secara penasaran. Kalau zaman sekarang, memotret ruangan-ruangan tertentu tanpa izin, sebenarnya ini hukumnya tidak boleh.

Namun, sah-sah saja asalkan masih di tempat-tempat yang biasa tamu dipersilakan masuk, bukan seperti kamar pribadi, gudang, dan lain-lain. Terlebih, misalnya di ruang tamu tersebut memang disediakan spot untuk berfoto.

Rasulullah SAW sangat mencela perbuatan mengintip isi rumah dengan rasa kepo ini, dan memberi ancaman kepada orang-orang yang penasaran dengan hal-hal yang tidak seharusnya diketahui.

“Andaikan ada orang melihatmu di rumah tanpa izin, engkau melemparnya dengan batu kecil lalu kamu cungkil matanya, maka tidak ada dosa bagimu.” (HR. Bukhari di dalam Kitabul Isti’dzan).

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki mengintip sebagian kamar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu Nabi berdiri menuju kepadanya dengan membawa anak panah yang besar atau beberapa anak panah yang besar, dan seakan-akan aku melihat beliau menanti peluang untuk menusuk orang itu.” (HR. Bukhari dalam Kitabul Isti’dzan).

Kelima, dianjurkan membawa hadiah.

Saat bertamu, sebaiknya membawa hadiah untuk tuan rumah (ini dalil bagi orang yang mau bertamu). Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

“Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari).

Seorang muslim tidak dibenarkan menolak kedatangan sesama muslim untuk bertamu. Seorang muslim harus menerima kedatangan saudaranya dengan penyambutan yang penuh sukacita.

Merujuk kepada kitab Ihya’ Ulumuddin, keutamaan memuliakan tamu tercantum dalam salah satu hadis Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya orang yang berakhlak baik dalam memuliakan tamu, akan mendapat derajat kemuliaan orang yang banyak berpuasa dan mendirikan salat sunnah.” (Hadis Shahih).

Demikian etika bertamu sesuai ajaran Islam. Betapa kebahagiaan dirasakan saat Allah menganugerahi kita kemampuan untuk menjamu tamu dengan rezeki yang berlimpah.

Mari, letakkan dalil (sebagaimana telah disebutkan di atas) sesuai kebutuhan. Jangan sampai dalil yang direkomendasikan untuk tamu dipakai oleh tuan rumah. Dan sebaliknya, tidak disarankan dalil untuk tuan rumah dipakai oleh tamu. Semoga tulisan ini bermanfaat. (*)

————————————–

Penulis: Anna Mahnan, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nurul Qarnain Sukowono Jember.

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *