Kegiatan ini diikuti oleh seluruh perwakilan lembaga madrasah anggota KKMA 4 sebagai bagian dari penguatan implementasi kurikulum yang berorientasi pada nilai, karakter, dan kemanusiaan.
Kegiatan diawali dengan registrasi peserta sejak pukul 07.00 WIB, lalu pembukaan pukul 08.00 WIB dengan lantunan nasyid yang menciptakan suasana khidmat dan religius.

Rangkaian seremonial meliputi pembukaan resmi, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Madrasah, serta doa bersama. Dalam kegiatan ini, Kepala Kemenag Kabupaten Jember, Dr. Santoso, S.Ag., M.Pd., berhalangan hadir, namun acara tetap dilanjutkan sesuai agenda yang telah ditetapkan oleh panitia.
Sebelum beranjak ke sesi bimtek, Ketua KKMA 4 Kabupaten Jember, Drs. KH. Imam Syafi’i, M.Pd.I, berharap para peserta bimtek mengikuti kegiatan bimbingan ini dengan penuh antusias.
“Jadi, apa yang disampaikan oleh narasumber nanti, silakan didengar dengan seksama, kemudian diimplementasikan dalam pembelajaran di madrasah masing-masing,” pesan beliau.

Beliau juga menegaskan agar para pendidik tidak meninggalkan tugasnya, serta benar-benar tulus dan penuh cinta dalam mengajar peserta didik.
“Sekarang para pendidik itu sudah enak. Honornya bisa tiga juta. Tapi, ingat, kalau sampai meninggalkan tugas utama (mengajar dan mendidik) suatu saat bisa kena tulah,” ungkap beliau sambil bercanda.
Bimtek sesi pertama dimulai pukul 08.30-09.30 WIB. Selaku narasumber sekaligus Pengawas KKMA 4 Jember, Drs. Zurni, S.Pd., M.Pd., menyampaikan materi terkait kebijakan Kementerian Agama dalam pengembangan pendidikan madrasah.
Ia menegaskan bahwa arah kebijakan madrasah saat ini menuntut adanya pembelajaran yang bermutu, insklusif, dan berorientasi kepada pembentukan karakter peserta didik.
“Madrasah tidak cukup hanya kuat pada aspek akademik, tetapi juga harus menghadirkan pembelajaran yang manusiawi dan penuh nilai,” ujarnya.
Pada sesi berikutnya, bimtek dimulai lagi pada pukul 10.00-13.00 WIB. Peserta mendapatkan pemaparan mendalam mengenai konsep Kurikulum Berbasis Cinta yang menekankan Panca Cinta (lima pilar cinta), yaitu Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, Cinta kepada Ilmu, Cinta kepada Lingkungan, Cinta kepada Diri dan Sesama, serta Cinta kepada Tanah Air.

“Kurikulum Berbasis Cinta dirancang untuk menanamkan nilai spiritual, sosial, dan kebangsaan secara terintegrasi dalam proses pembelajaran di kelas,” tutur Drs. Zurni.
Ia juga menjelaskan bahwa implementasi KBC mendorong guru untuk merancang pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan peserta didik.
“Pembelajaran harus mampu menghidupkan empati, kepedulian, dan daya pikir kritis, sehingga peserta didik tidak hanya pintar, tetapi juga berakhlak dan bertanggung jawab,” tambahnya.
Materi ini sekaligus menegaskan bahwa KBC selaras dengan tuntutan kompetensi abad ke-21 yang inklusif dan humanis.
Setelah istirahat dan salat Duhur, kegiatan dilanjutkan pada pukul 14.00-16.00 WIB dengan praktik penyusunan modul ajar integratif berbasis pembelajaran mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta.

Dalam sesi ini, peserta dibimbing untuk menyusun modul ajar yang memadukan tujuan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, serta penilaian yang mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi.
“Guru perlu menghadirkan pembelajaran yang tidak sekadar menuntaskan materi, tetapi juga mampu membangun kesadaran dan pengalaman belajar peserta didik,” jelas narasumber.
Selain itu, peserta juga mendapatkan penguatan tentang supervisi pembelajaran sebagai bagian penting dari implementasi kurikulum. Supervisi dipahami sebagai proses pendampingan yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran.

“Supervisi pembelajaran bukan untuk mencari kesalahan guru, melainkan untuk membimbing, memfasilitasi, dan meningkatkan mutu pembelajaran secara berkelanjutan,” tegas Drs. Zurni.
Rangkaian Bimtek Kurikulum Berbasis Cinta ini ditutup dengan lantunan nasyid yang kembali mengiringi puncak acara. Melalui kegiatan ini, peserta berharap nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta dapat diimplementasikan secara nyata di madrasah masing-masing, sehingga terwujud pembelajaran yang berkarakter, humanis, dan berdaya saing, sekaligus menguatkan jati diri madrasah sebagai lembaga pendidikan yang menebarkan nilai cinta dan kemaslahatan. (*)
——————————-
Juru Berita: M. Akmal Marzuqin
Editor: Fathorrozi


