Pada kesempatan yang diliputi suasana bahagia tersebut, KH. Ismail Amin Al-Kholili membagikan amalan khusus kepada dewan guru dan wali santri. Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirun As-Salafi itu, amalan yang diijazahkan beliau ini dengan izin Allah dapat mengubah tabiat santri, yang semula kurang baik akan menjadi baik dan yang awalnya kurang rajin akan menjadi rajin.
“Ini ada amalan untuk para pendidik, para ustaz, para guru atau para orang tua yang anaknya nakal. Amalan ini untuk memperbaiki akhlak anak. Amalan dari Syaikhana Kholil Bangkalan ini, dapat diniati untuk memperbaiki akhlak kita sendiri atau dapat pula diniati untuk memperbaiki akhlak orang-orang yang kita tuju, yang kita niatkan. Mungkin ada para guru, mau memperbaiki akhlak anak didiknya, silakan baca amalan ini. Namanya Shalawat Tahsinul Akhlak wa Tausiul Arzaq,” tutur kiai yang kerap disapa Lora Ismail.

Berikut ini adalah teks Shalawat Tahsinul Akhlak wa Tausiul Arzaq beserta terjemahannya.
الَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تُوَسِّعُ بِهَا عَلَيْنَا الْأرْزَاقَ وَتُحَسِّنُ بِهَا لَنَا اْلأَخْلاَقَ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammadin shalatan tuwassi’u biha ‘alainal arzaqa, wa tuhassinu biha lanal akhlaqa wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallim.
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, dengan rahmat yang dapat memperluas rezeki kami dan membaguskan akhlak kami, beserta para keluarganya dan sahabatnya.”
Beliau menambahkan, amalan shalawat ini dibaca 11 kali setiap selesai salat lima waktu. Beliau sampaikan pula bahwa amalan ini telah menjadi amaliah Syaikhana Muhammad Kholil Bangkalan dan biasa diamalkan oleh para santri Syaikhana, seperti Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqi, dan juga yang lain.
“Dibaca 11 kali setelah salat. Ini banyak diamalkan oleh para santri Syaikhana Kholil seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Utsman Al-Ishaqi. Saya dapat amalan ini dari KH. Ahmad Tajul Mafakhir, dari KH. Utsman Al-Ishaqi, dari Syaikhana Kholil,” sambung beliau.

Selain itu, Lora Ismail juga mengijazahkan salah satu amalan yang beliau dapatkan dari salah satu Masyayikh Sidogiri. Amalan yang beliau maksud ini atas izin Allah SWT juga dapat memperbaiki karakter dan kebiasaan seseorang, terutama anak atau santri.
“Amalan ini dibaca setelah Magrib. Setelah Magrib, yang pertama kalian baca surah al-Fatihah satu kali. Kemudian Ayat Kursi satu kali. Lalu surah al-Ikhlas satu kali. Kemudian Istigfar sepuluh kali. Nah, setelah itu kalian hadiahkan pahala bacaan tersebut untuk Imam al-Ghazali. Dilanjutkan dengan doa kalian. Jika tidak bisa pakai bahasa Arab, maka boleh pakai bahasa Indonesia atau Madura,” lanjut beliau.
Lora Ismail menjelaskan pula, kenapa bacaan tersebut dihadiahkan kepada Imam al-Ghazali, kenapa bukan kepada Imam Syafi’i, Imam Nawawi, Imam Bukhari, dan yang lain? Beliau pun menerangkan dua keistimewaan yang dimiliki Imam al-Ghazali.
Pertama, testimoni dari al-Imam Abul Hasan As-Syadili yang menyampaikan, “Siapapun dari kalian semua yang mempunyai hajat, maka jangan lupa ketika berdoa, silakan bertawasul kepada Imam al-Ghazali.”
Kedua, karena Imam al-Ghazali ini merupakan satu ulama yang latar belakangnya cukup unik. Biasanya para ulama itu lahir dari seorang ulama juga. Tapi, Imam al-Ghazali berbeda. Ayah beliau adalah seorang penjahit, penenun kain yang kemudian dijual ke pasar. Namun, ayah beliau sangat mencintai ilmu, sangat mencintai para ulama, dan sering menghadiri majelis-majelis ilmu.

“Setiap hadir ke majelis ilmu, setiap sowan kepada para ulama, terbersit dalam hati beliau (ayah Imam al-Ghazali) sebuah doa, ‘ya Allah, saya ini bukan ulama, saya ini bukan orang alim. Tapi, ya Allah dengan keberkahan para ulama ini, keberkahan majelis ilmu ini, keberkahan pengajian ini, meskipun bukan saya, mudah-mudahan putra-putri saya yang menjadi orang-orang alim.’ Doa ini dikabulkan oleh Allah SWT. Bukan hanya satu putra, tapi dua putra semuanya menjadi ulama besar,” sambung Lora Ismail.
Pada kesempatan itu pula, Lora Ismail Al-Kholili menguraikan makna totalitas dan loyalitas yang menjadi salah satu kunci kesuksesan seorang santri. Menurut beliau, seorang santri dalam menuntut ilmu harus sepenuh hati dan setia kepada kiai juga almamater.
“Loyalitas atau kesetiaan bisa diartikan sebuah penghormatan takzim dari santri kepada gurunya. Karena itu, kalau kita melihat di balik sosok-sosok hebat itu, selain ada orang tua yang sangat antusias, pasti ada takzim santri kepada guru yang sangat luar biasa. Pasti ada penghormatan kepada para kiai yang sangat luar biasa,” jelas beliau. (*)
——————————————
Juru Berita: Fathorrozi


