Di zaman ultramodern saat ini tidak sedikit budaya western atau budaya kebarat-baratan yang diikuti oleh santri dengan mudahnya. Melihat dari aspek seberapa meleknya santri terhadap revolusi teknologi 4.0 membawa dampak yang bisa terbilang buruk bagi yang tidak terlalu pintar menyaring rimbunan informasi konten di media sosial. Hingga berpengaruh pada karakter santri itu sendiri. Sehingga santri humanis sangat dibutuhkan di era generasi instan seperti saat ini. Istilahnya, menjadi santri millenial yang tetap mengedepankan karakter kesalehan sosial.
Belangan ini pesantren lebih dikenal sebagai “bengkel” atau penjara suci ketimbang pencetak ulama. Dilatar belakangi kekhawatiran wali santri yang pergaulan anak-anaknya sarat akan juvenile deliquency (kenakalan remaja), sehingga dimasukkan pesantren agar dapat diperbaiki sikap dan karakternya. Namun, tabiat dari rumah yang kurang baik itu tetap di bawa ke dalam pesantren, sehingga bukan rahasia umum lagi meskipun di pesantren, berbagai kasus kenakalan itu tetap terjadi. Inilah salah satu tanda-tanda dekadensi moral. Banyak santri tidak peduli akan nilai tata susila yang baik. Dengan berpikir pendek menciderai slogan santri, dimana seorang santri harus berakhlakul karimah dan ber-attitude yang baik.
Santri merupakan definisi dari sebutan orang yang belajar ilmu agama. Dalam percaturan global, santri sering kali disebut sebagai kaum arkais. Tertinggal akan berita perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, karena santri identik dengan tradisional yang hanya berkutat di urusan agama saja. Namun jika dilihat dari faktanya, santri tidak se-arkais itu. Santri masa kini haruslah menjadi santri yang beretos kerja baik, good attitude atau pandai menempatkan sopan santunnya sesuai dengan situasi dan kondisi. Meskipun ramai penggunaan bahasa slang (bahasa gaul sehari-hari, blak-blakan, vulgar dan jorok) pada sesama teman, namun ketika berkomunikasi dengan yang lebih tua atau di dalam forum formal, santri bisa mengkondisikan bahasanya. Inilah yang biasa kita sebut santri IGeneration atau Gen Z.
Menghadapi perubahan zaman yang kian menglobal. Santri harusnya menjadi subjek dalam berbagai lini, jangan hanya menjadi objek atau penonton belaka. Harus pandai mengamalkan ilmu yang diperoleh dari pesantren, namun juga profesional dalam pekerjaannya. Dekadensi moral ini memang menjadi PR besar tidak hanya bagi lembaga pesantren, namun juga lembaga pendidikan lainnya. Sebab membangun karakter adalah pendidikan seumur hidup. Sapi cukup dilahirkan untuk disebut sapi, tapi manusia tidak cukup hanya dengan lahir, butuh pembelajaran seumur hidup untuk dapat hidup sebagai manusia, memanusiakan manusia dan menebar manfaat bagi semesta.
Oleh: Izzatun Nafila, Pimred Majalah Elmash



Alhmdllh saya wali santri baru ajaran 2022.. merasa senang anak saya berada di NQ,.. apalagi anaknya juga seneng disana,.. lebih mengajarkan anak saya menjadi lebih baik lagi.. semoga apa yg didapat anak saya di NQ menjadikan anak yg sholehah,.. berkah barokah smuanya Amiiiinn…. matur nuwun untuk smua yang ada di NQ