Dewan Eksekutif Mahasiswa STIS Nurul Qarnain Gelar Kajian Ramadan dan Santunan Anak Yatim

JEMBER_nurulqarnain.net. Pada Minggu (31/3/2024) Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Nurul Qarnain gelar Kajian Ramadan dan Santunan Anak Yatim dengan mengusung tema “Membangun Identitas Islami di Tengah Arus Modernisasi.” Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh Mahasiswa STIS, Mahasantri Ma’had Aly, Ikatan Santri Pondok Pesantren Nurul Qarnain di Masjid Jamik Nurur Rahman, Kecamatan Tamanan.

Rangkaian acara dibuka oleh Muhammad Riski selaku perwakilan panitia dari DEMA STIS Nurul Qarnain yang dilanjutkan dengan Tausiah Keagamaan oleh KH. Badrut Tamam selaku Wakil Pengasuh Bidang Pendidikan sekaligus Ketua Majelis Fatwa MUI Jember. Pada kesempatan tersebut, beliau menceritakan seorang atheis Perancis yang membangun masjid setelah menjadi mualaf.

Beliau menceritakan, Albert yang terlahir dari keluarga atheis kerapkali terkendala ekonomi hingga membenci keberadaan agama. Dalam ceritanya, Albert tidak mampu melanjutkan kuliah sehingga berpikiran agama tidak dapat membantu manusia.

“Ketika kuliah Albert sambil bekerja, karena keluarganya tidak mampu secara ekonomi. Karena kendala ekonomi inilah Albert yang awalnya meski atheis tidak membenci agama, menjadi sangat benci sampai ia berpikir agama tidak akan membantu manusia sama sekali, justru uanglah yang memiliki andil besar,” cerita beliau.

KH. Badrut Tamam melanjutkan cerita Albert yang terbuka sedikit hatinya saat terjadi turbulensi di pesawat yang ia kendarai dan melihat orang-orang berdoa, ia pun mendapat teguran karena tidak berdoa. Sejak saat itu, ia terbuka hatinya.

KH. Badrut Tamam saat menyampaikan tausiah pada acara Kajian Ramadan

Kemudian beliau melanjutkan kisahnya, saat Albert jatuh sakit parah hingga tidak satu pun dokter dan obat yang dapat menyembuhkannya, ia melihat seorang muslimah sedang membaca al-Qur’an dan bertanya kepadanya tentang Tuhan.

“Albert bertanya kepada muslimah yang membaca al-Qur’an ini, ‘apa yang kau berikan kepada Tuhan?’ Muslimah itu menjawab, ‘tidak penting apa yang Tuhan berikan kepadaku, tapi yang penting adalah apa yang telah aku berikan kepada Tuhan.’ Dari itu, Albert sadar, lantas masuk Islam dan mendirikan masjid yang ia beri nama Nurullah di Perancis, kemudian ia ajak seluruh keluarganya untuk masuk Islam,” tutur beliau.

Gus Tamam juga mengaitkan cerita Albert ini sebagai hikmah keimanan, yakni Allah menyadarkan seorang hamba terkadang dengan datangnya musibah. Beliau menukil pendapat Imam al-Ghazali dengan 4 tingkatan iman. Pertama, iman yang senantiasa meningkat meski tanpa adanya nikmat dan musibah. Kedua, iman yang meningkat dengan datangnya nikmat. Ketiga, iman yang meningkat dengan adanya musibah. Dan keempat, iman yang tidak meningkat meski mendapat nikmat dan musibah.

“Inilah tingkat iman yang paling rendah,” tandas beliau.

Setelah doa bersama, acara ditutup dengan penyerahan secara simbolis kepada beberapa penerima santunan oleh DEMA STIS Nurul Qarnain. Kemudian bagi-bagi takjil kepada para pengguna jalan. Meski hujan lumayan deras, semangat DEMA dan Mahasiswa STIS Nurul Qarnain tidak surut untuk membagikan ratusan takjil kepada pengguna jalan raya di depan Masjid Jamik Nurur Rahman, Tamanan. (*)

————————————

Pewarta: Wildan & Endang

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *