Digitalisasi Santri Sebagai Relevansi Pendidikan

Digitalisasi zaman yang kian pesat seiring berjalannya waktu bukanlah hambatan bagi santri untuk tidak mengikuti perkembangnya. Santri memiliki kesempatan emas untuk menggunakan media digital sebagai ladang dakwah atas pengetahuan yang mereka dapatkan selama di pesantren. Oleh karena itu, tidak sedikit santri banyak menerima kepercayaan untuk ikut andil mengurusi berbagai instansi besar media yang berkiprah di media digital saat ini.

Kepercayaan kepada santri ini bukanlah hasil yang mereka dapat dengan cara laduni, namun jatuh bangkit penuh perjuangan yang mereka alami. Selain itu, pendidikan yang mereka tempuh pada masa sekarang ini tidaklah selalu tentang kitab kuning sebagai pembelajaran utama, akan tetapi mereka juga didorong untuk peka dalam menyikapi hiruk piruk permasalahan duniawi, terlebih yang terjadi pada zaman digitalisasi. Santri bukanlah orang yang ketinggalan zaman seperti banyak rumor yang beredar. Kendati demikian, beberapa pesantren masih membatasi penggunaan media sosial bagi santri, sehingga seolah keberadaan santri di era digital masih dianggap samar dan diam tanpa peran.

Diamnya mereka menyikapi zaman bukan berarti ketinggalan. Di dalam pesantren, santri diajarkan untuk memutuskan dan ikut campur dalam beberapa permasalahan yang terjadi di dunia luar. Tidak sembarangan, mereka masih menelaah dan merelevansi kejadian yang terjadi dengan beberapa ilmu yang didapat dari kitab yang mereka dalami agar tidak menyesatkan dan bisa dijadikan pegangan.

Pemecahan masalah yang mereka dalami ini dibantu dengan sebuah program pendidikan yang biasa dikenal dengan Bahtsul Masail. Program ini mendidik santri untuk tidak gegabah memutuskan masalah. Sebagian contohnya adalah mereka ikut andil dalam meneliti dan ikut bersuara dalam menyikapi simpang siur penggunaan toa, pembunuhan Brigadir J, pro-kontra lirik lagu Joko Tingkir, dan banyak lagi masalah yang sempat viral lainnya yang tidak luput menjadi bahan pembahasan mereka. Sebab inilah, sebagian instansi kepolisian, pemerintahan, dan lainnya menginginkan para santri untuk mengisi struktural yang ada di dalamnya.

Intinya, pendidikan santri dalam mengikuti digitalisasi zaman yang sudah mendarah-daging di segala lini sangatlah cukup efisien dan bisa dipertanggungjawabkan validitasnya, karena pendidikan yang mereka lakukan dalam menyikapi hiruk piruk kehidupan tidaklah sembarangan. Mereka akan mengerahkan pikiran demi menjaga kepercayaan dan relevan. Santri bukanlah mereka yang ketinggalan zaman, tapi santri adalah mereka yang meluruskan zaman menuju rahmat Ilahi yang semua kita harapkan: santri di zaman digital adalah santri yang juga bisa dikategorikan sebagai pemuda yang melek digital.

 

Penulis: Kak Lucqi, Mahasantri Ma’had Aly Nurul Qarnai

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *