Materi pertama disampaikan oleh Ning Hj. Zulfa Yazid, S.Sos.I., M.Pd., dengan tema Orientasi ke-ISNUQ-an. Sesi yang dimoderatori oleh Ustazah Hakimatul Karimah tersebut memperkenalkan identitas, tujuan, dan nilai-nilai dasar ISNUQ kepada para peserta.
Ning Hj. Zulfa menyebut angkatan pertama memiliki tantangan tersendiri karena menjadi bagian dari proses merintis dan membangun organisasi sejak awal. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal bagi peserta untuk memahami arti perjuangan dan tanggung jawab dalam berorganisasi.

“ISNUQ adalah Satu Jiwa, Satu Langkah, Satu Pengabdian,” menjadi jargon yang diperkenalkan dalam materi tersebut. Jargon ini menekankan pentingnya menyatukan semangat, menyelaraskan gerak, dan mewujudkan pengabdian melalui organisasi.
Beliau juga menjelaskan bahwa kaderisasi ISNUQ mencakup penguatan keilmuan dan keagamaan, kepedulian sosial, keterampilan organisasi, perluasan relasi, serta loyalitas terhadap tanggung jawab yang diemban.
Materi kedua disampaikan oleh Gus Mathlubur Rhisky, S.Pd.I., M.Pd., dengan tema Aswaja ke-NU-an. Dalam sesi yang dimoderatori Ust. Muhammad Wildan Miftahussurur, S.Ag., S.H., M.Pd. tersebut, peserta diajak memahami pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritual.

Gus Rhisky menjelaskan bahwa ilmu tidak cukup hanya diperoleh melalui proses belajar, tetapi juga harus memberikan manfaat dan mendorong seseorang semakin taat kepada agama. Ia turut membahas kesinambungan sanad keilmuan, prinsip mempertahankan tradisi lama yang baik, serta keterbukaan terhadap hal baru yang membawa kemaslahatan.
Dalam kehidupan bermasyarakat, ia menekankan pentingnya menjaga tiga bentuk persaudaraan, yakni ukhuwah wathaniyah, ukhuwah islamiyah, dan ukhuwah basyariyah. Ketiganya menjadi landasan untuk membangun hubungan yang baik di tengah perbedaan.
Materi ketiga mengangkat Sejarah dan Perjalanan ISNUQ, disampaikan oleh Ust. H. Nurul Bari, S.Pd.I., selaku Ketua Umum Majelis Syuri ISNUQ, dengan moderator Ust. Choirul Fajar, M.Pd.
Ust. H. Nurul Bari menjelaskan bahwa gagasan pendirian ISNUQ berawal dari musyawarah bersama pengasuh yang menginginkan adanya wadah untuk menjaga ikatan santri dan alumni Pondok Pesantren Nurul Qarnain.

Ia mengutip dawuh pengasuh dalam bahasa Madura, “Engkok cek terronah santreh dinnak dinlah alumni otabeh santreh arua endik wadah se enyamaih Ikatan Santri Nurul Qarnain.”
Pernyataan tersebut menggambarkan keinginan pengasuh agar santri yang masih berada di pesantren maupun yang telah menjadi alumni tetap memiliki wadah bersama. Nama ISNUQ kemudian dicetuskan dan organisasi ini resmi disahkan serta dideklarasikan pada 11 Februari 2016, bertepatan dengan Haul Akbar perdana.
Menurut pemaparannya, ISNUQ pada awal pembentukan hanya memiliki enam orang anggota. Organisasi kemudian mengalami perkembangan melalui regenerasi kepengurusan pada tahun 2019 hingga memasuki periode ketiga, yakni 2026-2031. Ust. Nurul Bari mengajak peserta mempersiapkan diri agar kelak mampu mengambil peran dalam kepengurusan di berbagai tingkatan.

Materi terakhir disampaikan oleh Fathor Rozi, S.Pd., Ketua PMII Bondowoso periode 2019-2020, dengan tema Kepemimpinan dan Keorganisasian. Ia mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab kepemimpinan yang harus dijalankan dengan baik.
“Setiap manusia pada hakikatnya adalah seorang pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan yang diembannya,” menjadi salah satu pokok pembahasan dalam materi tersebut.
Fathor Rozi menjelaskan bahwa organisasi dapat menjadi ruang untuk mengembangkan potensi diri, melatih komunikasi dan public speaking, memperluas relasi, serta membangun jejaring. Ia juga membahas unsur kepemimpinan, struktur organisasi, dan pentingnya kerja sama dalam mencapai tujuan bersama.

Setelah setiap sesi selesai, panitia menyerahkan cendera mata kepada masing-masing narasumber melalui perwakilan Pengurus ISNUQ. Empat materi tersebut menjadi bagian dari pembekalan awal bagi peserta PDO ISNUQ.
Melalui pengenalan identitas organisasi, nilai Aswaja, sejarah perjuangan, serta keterampilan kepemimpinan, para peserta diarahkan untuk memahami peran kader dalam menjaga keberlanjutan organisasi dan mengembangkan pengabdian kepada pesantren serta masyarakat. (*)
—————————————–
Pewarta: Sulthon Arafat
Editor: Fathorrozi


