Pesan tersebut disampaikan saat Pendidikan Dasar Organisasi (PDO) ke-1 ISNUQ di Aula Lantai 2 Kantor Pusat Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Sabtu (10/10/2026). Dalam dawuh-nya, KH. Yazid mengawali dengan menjelaskan bahwa dirinya lebih senang dipanggil khadim atau pelayan umat, karena ingin menempatkan diri sebagai hamba yang mengabdi.
“Saya lebih senang dipanggil khadim karena saya ingin menampakkan diri sebagai hamba. Saya menganggap juragan saya adalah Rasulullah, dengan dasar firman Allah dan ajaran Rasulullah SAW, kemudian disempurnakan oleh para ulama salafus shalih yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah,” tutur beliau.
KH. Yazid mengaku bangga dengan keberadaan ISNUQ yang kini mulai menghimpun santri dalam sebuah organisasi dan memberikan pembinaan melalui pendidikan dasar. Menurut beliau, langkah tersebut menjadi perkembangan penting dalam menjaga keterhubungan santri dengan pesantren.
“Saya merasa bangga dengan adanya ISNUQ. Dulu hanya sebatas santri pulang, sekarang sudah dikumpulkan dan ada pendidikan dasar,” ungkapnya.

Beliau kemudian berpesan agar para santri melanjutkan perjuangan pesantren dan terus mengembangkan berbagai bidang yang telah dirintis. KH. Yazid berharap generasi penerus tidak hanya mempertahankan apa yang sudah ada, tetapi juga mampu membawa perkembangan yang lebih baik dengan tetap meminta izin dan menjaga adab kepada guru.
“Saya berpesan kepada seluruh santri, lanjutkan perjuangan saya. Lihatlah perkembangan pesantren. Kalau bisa melebihi saya, saya sangat bangga. Saya sangat yakin organisasi ini akan berjalan dengan baik karena sudah berpengalaman semua,” imbuh beliau.
Dalam sambutannya, KH. Yazid secara khusus menyoroti pentingnya akhlak di tengah kehidupan masyarakat. Beliau mengingatkan bahwa pembentukan kader tidak cukup hanya melalui pengetahuan organisasi, tetapi harus disertai pembenahan perilaku dan hati.
“Yang ingin saya tekankan adalah akhlak, karena sekarang ini banyak kemerosotan akhlak. Apalagi ada sound horeg, dan ini adalah tugas dari ISNUQ,” tegasnya.

Beliau meminta para kader membersihkan hati dan menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam setiap program yang dijalankan. Menurutnya, program organisasi akan lebih mudah diwujudkan apabila disertai hati yang baik dan kedisiplinan.
“Saya ingin hati nurani dibersihkan dan masukkan program ke dalam hati. Kalau hatinya baik, sudah pasti organisasi ini sukses,” tambah KH. Yazid.
Beliau juga menekankan bahwa keberlanjutan perjuangan pesantren tidak dapat dilepaskan dari keberkahan orang tua dan guru. Oleh karena itu, para kader diminta menjaga hubungan dengan keduanya serta menjadikan ilmu dan ketakwaan sebagai bekal utama kehidupan.
“Teruskan perjuangan saya, kuncinya adalah barakah, barakah dari orang tua dan guru. Saya minta ISNUQ yang sejati, jangan hanya perkumpulan saja,” pesannya.
KH. Yazid mengingatkan bahwa generasi muda harus benar-benar mempersiapkan diri menjadi penerus. Beliau mengaitkan rasa syukur atas kemampuan berpikir yang diberikan Allah SWT dengan kewajiban untuk terus belajar dan meningkatkan kecerdasan.
“Jadilah pemuda yang benar-benar penerus. Hidupnya pemuda adalah dengan ilmu dan takwa. Mensyukuri otak yang diberikan Allah adalah dengan menjadi orang cerdas. Harus cerdas, karena Nabi orangnya cerdas,” tegasnya.

Di akhir sambutan, KH. Yazid menyampaikan pesan khusus mengenai pentingnya menjaga keutuhan keluarga besar pesantren. Beliau mengingatkan agar ISNUQ turut menjaga hubungan baik di antara keturunan pengasuh sehingga tidak terjadi perpecahan yang dapat mengganggu keberlangsungan pesantren.
“Jangan sampai membuat anak cucu saya terpecah. Saya melihat banyak pesantren yang sudah lama berdiri akhirnya gagal karena anak keturunannya saling bertengkar. Saya berwasiat kepada kalian semua, catat, jika ada anak cucu saya yang menyeleweng dari rel atau tujuan saya, silakan berikan nasihat,” tandas beliau.
KH. Yazid Karimullah berharap ISNUQ dapat menjalankan peran lebih dari sekadar organisasi perkumpulan. Beliau menginginkan organisasi tersebut menjadi wadah kader yang menjaga akhlak, mengembangkan ilmu, merawat persatuan, serta meneruskan perjuangan Pondok Pesantren Nurul Qarnain dengan tetap mengharap rida dan hidayah Allah SWT. (*)
——————————————
Pewarta: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


