Ketua Panitia PDO, Muhammad Lutfi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan program kerja Divisi Kaderisasi ISNUQ yang ditujukan kepada santri aktif. Menurutnya, kaderisasi perlu dimulai sejak santri masih berada di pesantren agar hubungan mereka dengan organisasi tetap terjaga setelah menyelesaikan pendidikan.

“Bagaimanapun, santri maupun alumni tetap terwadahi di dalam ISNUQ. Tidak jarang kita temui banyak yang tidak bergabung dalam ISNUQ. Oleh karena itu, hal ini harus dimulai dari santri. Ketika santri sudah memiliki rasa kepemilikan terhadap pesantren dan ISNUQ, mereka akan terpanggil secara langsung,” jelasnya.
Muhammad Lutfi menambahkan, melalui PDO, ISNUQ akan menyiapkan kepengurusan khusus dari kalangan santri aktif yang disebut ISNUQ Istimewa. Kepengurusan tersebut diharapkan menjadi penghubung antara aktivitas organisasi di pesantren dan keberlanjutan ISNUQ setelah para santri menjadi alumni. Nantinya, organisasi juga diharapkan berkembang melalui pembentukan kepengurusan di berbagai daerah.
Ia menjelaskan bahwa sertifikat PDO menjadi salah satu persyaratan dalam proses rekomendasi boyong dari pesantren. Dengan demikian, kegiatan tersebut menjadi bagian dari tahapan kaderisasi untuk membekali santri sebelum terlibat lebih jauh di tengah-tengah masyarakat.

Sambutan sekaligus pembukaan resmi disampaikan oleh Ust. Ahmad Sanusi, M.Pd. Ia menegaskan bahwa peserta PDO bukan sekadar mengikuti kegiatan, tetapi sedang dipersiapkan menjadi kader penggerak yang mampu memikul tanggung jawab.
“Hari ini saya ingin menyampaikan, kalian di sini hadir bukan sekadar mengikuti kegiatan, tetapi dipersiapkan menjadi kader penggerak. Tanamkan bahwa kalian hadir untuk belajar dan ditempa,” ujarnya.
Menurut Ust. Sanusi, kader tidak lahir hanya melalui rapat atau surat keputusan kepengurusan, tetapi melalui perjuangan, pengalaman, dan pengabdian.
“Kader tidak lahir dari hasil rapat, SK pengurus, tetapi kader lahir melalui perjuangan dan dibentuk oleh pengabdian. Jangan takut jika diberi tanggung jawab. Jika ingin menjadi kader yang kuat, carilah organisasi yang banyak masalah,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa ISNUQ lahir dari pesantren sehingga para kader harus mencerminkan nilai-nilai kepesantrenan. Meski belum memiliki jabatan, pengalaman, atau dikenal banyak orang, peserta diminta tetap bersedia belajar dan menjalani proses pembinaan.
“Mungkin kalian hari ini belum punya job, belum dikenal, belum mempunyai pengalaman. Itu bukan masalah, karena semua pemimpin besar pernah tidak punya pengalaman, tetapi harus ditempa,” lanjutnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah, turut menyampaikan dawuh kepada para peserta mengenai arah perjuangan ISNUQ. Beliau mengaku bangga karena santri yang sebelumnya hanya menyelesaikan pendidikan dan pulang kini mulai dihimpun dalam organisasi serta mendapatkan pembinaan melalui pendidikan dasar.
“Alhamdulillah, saya merasa bangga dengan adanya ISNUQ. Dulu hanya sebatas santri pulang, sekarang sudah dikumpulkan dan ada pendidikan dasar,” dawuh beliau.
KH. Yazid menekankan bahwa akhlak harus menjadi perhatian utama dalam proses kaderisasi. Menurut beliau, ISNUQ memiliki tanggung jawab untuk ikut menjawab persoalan kemerosotan akhlak yang terjadi di tengah masyarakat.
“Yang ingin saya tekankan adalah akhlak, karena sekarang ini banyak kemerosotan akhlak. Ini adalah tugas dari ISNUQ,” tegasnya.
Beliau juga berpesan agar para kader membersihkan hati, menjaga kedisiplinan, serta melanjutkan perjuangan pesantren dengan tetap mengharapkan keberkahan dari orang tua dan guru.
“Teruskan perjuangan saya, kuncinya adalah barakah: barakah dari orang tua dan guru. Saya berharap kalian menjadi ISNUQ yang sejati, jangan hanya perkumpulan saja,” dawuh KH. Yazid.

Beliau berharap ISNUQ mampu melahirkan generasi muda yang benar-benar menjadi penerus perjuangan pesantren, berbekal ilmu dan ketakwaan. Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keberadaan organisasi harus diwujudkan melalui pengabdian nyata, bukan sebatas perkumpulan.
“Jadilah pemuda yang benar-benar penerus. Hidupnya pemuda adalah dengan ilmu dan takwa. Yang paling pokok adalah teruskan perjuangan saya. Semoga ISNUQ mendapat rida Allah dan mendapatkan hidayah,” pungkas beliau.
Pendidikan Dasar Organisasi ke-1 ini menjadi langkah awal ISNUQ dalam menyiapkan kader yang memahami organisasi, berani menerima tanggung jawab, dan siap mengamalkan nilai-nilai pesantren.
Melalui kaderisasi yang berkelanjutan, ISNUQ diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan santri, alumni, dan pesantren dalam meneruskan perjuangan di berbagai bidang. (*)
—————————————-
Pewarta: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


