FOKSA Gelar Pengajian Kitab Sullam Taufiq, KH. Badrut Tamam Jelaskan Waktu-Waktu Salat dan Keutamaannya

BONDOWOSO_nurulqarnain.net – Forum Komunikasi Santri Alumni (FOKSA) Pondok Pesantren Nurul Qarnain kembali menggelar pengajian kitab Sullam Taufiq di Pujer Baru Maesan Bondowoso, pada Sabtu (19/10/2025). Pengajian yang menjadi agenda rutin FOKSA tersebut diisi oleh KH. Badrut Tamam dengan pembahasan seputar fikih waktu-waktu salat hingga keutamaan pelaksanaannya.

Dalam pengajian tersebut, beliau menjelaskan bahwa memahami batasan waktu salat merupakan perkara mendasar dalam ibadah, karena salat termasuk ibadah yang sangat berkaitan dengan ketepatan waktu.

“Waktu Asar dimulai semenjak habis Zuhur hingga terbenamnya matahari. Sedangkan Magrib ialah sejak matahari terbenam hingga hilangnya mega merah. Inilah mengapa waktu Magrib menjadi yang paling singkat. Jika mega merah sudah hilang, berakhirlah waktu Magrib,” terang beliau.

KH. Badrut Tamam atau yang kerap disapa Gus Tamam itu juga menjelaskan bahwa penentuan mega merah dalam qaul qadim sangat dipengaruhi kondisi langit Arab yang lapang, berbeda dengan wilayah seperti Indonesia yang tertutup pepohonan dan bangunan sehingga seringkali tidak terlihat jelas.

“Adapun Isya dimulai setelah selesai waktu Magrib hingga terbitnya fajar shadiq, dan Subuh yaitu sejak terbit fajar shadiq hingga terbitnya matahari,” lanjutnya.

Gus Tamam menegaskan pentingnya menjaga salat pada waktunya, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

“Qada hanya menggugurkan kewajiban, tetapi tetap berdosa bagi orang yang sengaja meninggalkan salat. Bahkan, sebagian ulama memasukkan ini ke dalam dosa besar,” tegas Gus Tamam.

Beliau juga menerangkan terkait pengecualian bagi orang yang telah berniat salat namun lupa karena ada urusan mendesak, sehingga tidak termasuk berdosa, meskipun tetap wajib qada.

Pada kesempatan tersebut, disampaikan pula kaidah fikih tentang perempuan yang tiba-tiba haid setelah masuk waktu salat namun belum sempat melaksanakan, sehingga tetap wajib qada karena waktu asalnya masih sempat untuk salat.

Pada bagian akhir pengajian, Gus Tamam mengulas perbedaan pendapat ulama mengenai salat yang paling utama. Ada yang menilai Zuhur paling utama karena dikerjakan di tengah panas siang, ada yang mengutamakan Subuh karena beratnya bangun pagi, ada yang menilai Magrib karena dikerjakan saat fisik sedang lelah, bahkan ada yang mengatakan Asar karena dikaitkan dengan istilah “salat wustha”.

Beliau juga menyampaikan bahwa perbedaan ulama mengenai rakaat salat yang paling afdal mengindikasikan keluasan rahmat dalam ibadah. Ada yang menilai berdiri lebih utama, ada yang menilai rukuk, ada pula yang menilai sujud sebagai yang paling afdal karena bentuk tertinggi kepasrahan seorang hamba.

“Kalau salat fardu cukuplah normal, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lama. Moderasi dalam agama juga tercermin dari cara seseorang menjaga kecepatan dalam salatnya,” pungkas beliau. (*)

———————————–

Pewarta: Wildan Miftahussurur

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *