Tak lupa juga beliau mengawali sambutannya dengan mendoakan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah beserta keluarga disehatkan dan dipanjangkan umurnya sehingga bisa istikamah mengawal Nurul Qarnain yang prestasi santrinya luar biasa.

“Padahal letak pondoknya relatif masuk ke dalam, tetapi prestasinya luar biasa,” tutur Gubernur Jawa Timur.
Sebelum menyampaikan isi sambutan, Ibu Gubernur menyebutkan beberapa nama tamu kehormatan yang turut hadir pada malam tersebut, salah satunya Syaikh Prof. Dr. Muhammad Fadhil al-Jilani al-Hasani, Dr. Nurul Gufron, dan Dr. Nurkholis.
Dalam memberi hormat kepada Syaikh Muhammad Fadhil, Ibu Khofifah memperkenalkan bahwa beliau berasal dari Turki dan merupakan cicit dari Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.
“Keputusan beliau ke Nurul Qarnain itu baru tadi siang. Karena memang besok pagi beliau ada agenda di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Jadi, malam hari ini sesungguhnya secara energi tidak ringan. Yang meringankan beliau adalah karena ingin ketemu dengan santri-santri Pondok Pesantren Nurul Qarnain,” sambung Ibu Khofifah.
“Alhamdulillah, di sini juga rawuh Bapak Dr. Nurul Gufron. Kalau ini katanya santri Nurul Qarnain,” tambahnya.
Selain itu, Ibu Gubernur juga memperkenalkan tamu kehormatan yang datang ke Nurul Qarnain bersama dirinya. Ia merupakan pejabat tinggi di Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Jawa Timur, Dr. Nurkholis, S.Sos., M.Si., CIPA., CICHM.
“Yang juga saya hormati Bapak Dr. Nurkholis yang masternya lima atau berapa, tidak tahu. Beliau kuliah di Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Universitas Pertahanan, kuliahnya banyak sekali,” lapor beliau.
Bapak Dr. Nurkholis ini bukan hanya sekali dua kali menempuh pendidikan S2, hingga dengan nada gurau Ibu Khofifah menyebut di rumah Dr. Nurkholis banyak sekali kulkas.
“Jadi kalau S2, S2, S2, S3, di rumahnya banyak kulkas, dingin sekali karena esnya banyak,” canda beliau.
“Artinya proses mencari ilmu itu tidak selesai dalam satu master saja,” imbuhnya.
Pecinta ilmu selanjutnya yang beliau bahas adalah Syaikh Prof. Dr. Muhammad Fadhil al-Jilani al-Hasani yang sudah menulis kurang lebih 50 kitab.
“Beliau mentahqiq kitab di Vatikan, manuskripnya ada di Perpustakaan Vatikan dan beliau mendapatkan utuh 30 juz. Saya hanya bertanya-tanya bagaimana proses pencarian ilmu yang dilakukan oleh Syaikh Fadhil?”

Lebih lanjut, Ibu Khofifah juga menyinggung tentang pentingnya menjaga sanad keilmuan.
“Misalkan seperti Kiai Yazid Karimullah yang sanad keilmuannya bisa teridentifikasi. Sanad keilmuannya dari Kiai A, B, C, Syaikh A, B, C dan seterusnya hingga sampai kepada Rasulullah, ini yang benar dan perlu ditiru. Kalau sanad keilmuannya mengambil dari sosmed atau internet, nah ini yang bisa membahayakan,” tegas beliau.
Gubernur Jawa Timur menyarankan agar masyarakat memilih Pondok Pesantren Nurul Qarnain sebagai tempat mencari ilmu untuk putra-putrinya, karena sanad dan keilmuannya sudah jelas menyambung kepada Rasulullah SAW.
Beliau juga mendoakan santri yang mencari ilmu semoga derajatnya dimuliakan oleh Allah dan menjadi generasi emas yang dapat memajukan negara Indonesia.
“Semoga Pondok Pesantren Nurul Qarnain ini memberikan sinar kehidupan yang luar biasa, 2045 masuk Indonesia Emas, maka dari Nurul Qarnain akan lahir generasi-generasi emas yang akan memberikan karakter luhur bangsa dan negara,” harap beliau.
Di akhir sambutannya, beliau mempertegas kembali isi sambutan dari Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain yang menyitir ayat al-Qur’an surah an-Nahl ayat 112 dan membacanya dengan lancar serta merdu.
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
“Insya Allah betul (bacaannya), karena gubernurnya adalah Pengurus Muslimat NU, gubernurnya adalah santri,” ujar beliau.
Beliau lalu menjelaskan mengenai isi kandungan ayat yang dinukil tersebut.
“Ini perumpamaan satu negeri yang dulu aman tenteram, makan tersedia, Allah menurunkan rezeki dari sangat banyak sektor dari berbagai penjuru. Mau yang di laut, mau yang sawit, mau yang tambang, mau yang perdagangan. Nah, hal-hal seperti ini yang rupanya harus kita lakukan muhasabah kembali sebagai sebuah bangsa,” tandas beliau. (*)
————————————–
Pewarta: Fita Lalia & Fathorrozi


