Salah satu tujuh belas titik tersebut adalah Pulau Sumatera, beberapa wilayah di Nusa Tenggara Barat (NTB), Riau, Sulawesi, Bali, Madura, Banyuwangi, Situbondo dan Jember.
Dalam taujihatnya, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain menyampaikan agar mahasantri tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keluhuran dan akhlak karimah.
“Tunjukkan akhlak, sebab sebelum ilmu yang harus didahului adalah akhlak karimah,” tutur Kiai Yazid.
Selain itu, pada kesempatan tersebut pengasuh juga berharap mahasantri yang sudah memiliki bekal ilmu baca kitab supaya menambah daftar bacaan kitab tasawuf serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Tentunya kalian sudah menguasai ilmu Nahwu dan Sharaf. Menguasai ilmu alat itu bukan hanya untuk mendalami kitab Fiqh, bacalah kitab-kitab tasawuf seperti al-Hikam, Bidayatul Hidayah, Ihya’ Ulumiddin, dan lain semacamnya agar kalian juga menguasai ilmu tasawuf dan akhlak sebagaimana akhlak yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabat dan waliyullah.”
“Saya sampaikan demikian karena khawatir saya kecolongan: memiliki santri yang pandai membaca kitab, namun tak bisa menampakkan akhlak,” imbuh beliau.

Lebih lanjut, Kiai Yazid tak ingin Mahasantri Ma’had Aly Nurul Qarnain yang berkonsentrasi di bidang ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh hanya fokus mendalami ilmu Fiqh saja. Sebaliknya, beliau berkeinginan mahasantri tersebut juga menguasai ilmu pertanian, perdagangan dan lain sebagainya.
“Jangan sampai kalian hanya memperdalam ilmu Fiqh, lalu mengabaikan ilmu-ilmu yang lain. Saya tahu dan paham jurusan kalian adalah Fiqh dan Ushul Fiqh, tapi saya berharap kalian juga mengetahui ilmu pertanian, perdagangan, keterampilan dan lain-lain, sebab ilmu Fiqh juga erat hubungannya dengan ilmu pertanian serta ilmu yang lain,” sambung beliau.
Kiai Yazid lalu memberi misal seorang petani yang memanen hasil tanamannya kemudian ingin membayar kewajiban zakat.
“Itu ilmu Fiqh yang menjelaskan. Tapi, bagaimana jika pertaniannya gagal, apa yang mau dihukumi?”
“Maka dari itu, alangkah sempurnanya jika kalian juga menguasai ilmu-ilmu lain yang ada hubungannya dengan Fiqh,” tegas Kiai Yazid.

Beliau juga menukil al-Qur’an surah al-Qashash ayat 77 yang berkenaan dengan anjuran Allah kepada hamba-Nya untuk mencari kebahagiaan akhirat (beribadah) dengan tidak meninggalkan urusan dunia (bekerja).
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. al-Qashash: 77).
“Alangkah baiknya jika kalian juga mengetahui dan menguasai ilmu-ilmu yang lain, seperti ilmu pertanian, perekonomian, perdagangan, teknologi, dan lain semacamnya. Seperti inilah nasihat dari KHR. As’ad Syamsul Arifin kepada saya sewaktu saya mengabdi kepada beliau,” tandas beliau. (*)
————————————–
Juru Berita: Fathorrozi


