JEMBER_nurulqarnain.net – Cahaya ilmu dan keberkahan al-Qur’an terpancar dalam Haflah Lajnah Qiraatuna 3 yang berlangsung khidmat di Auditorium KH. Yazid Karimullah. Total ada 99 wisudawan dan wisudawati yang dikokohkan dalam acara tersebut, Sabtu (01/02/2025).
Orasi agama disampaikan oleh Wakil Rais ‘Aam PBNU sekaligus Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, KH. Afifuddin Muhajir, sosok ulama kharismatik yang dikenal luas dalam dunia pesantren. Dalam ceramah pembukanya, beliau mengupas tentang kemuliaan al-Qur’an serta tantangan dalam mengamalkannya di tengah kehidupan modern.
Dengan mengutip sabda Nabi SAW, Wakil Rais ‘Aam PBNU itu menyampaikan, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya. Akan tetapi di masyarakat sekarang ini beda, yang mengajarkan al-Qur’an malah kurang mendapat perhatian.”

KH. Afifuddin menegaskan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang berpegang teguh kepada wahyu Ilahi. Namun, realitas di masyarakat kerap menunjukkan fenomena yang berlawanan.
“Sering kali kita melihat sesuatu yang besar justru diremehkan, sedangkan hal kecil diagungkan. Ini adalah kekeliruan besar, itu yang salah,” ujar beliau.
Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo itu menegaskan bahwa al-Qur’an memiliki kemuliaan yang tak tertandingi karena merupakan Kalamullah, firman terbaik dari Zat Yang Maha Sempurna.
“Al-Qur’an itu istimewa karena ia diturunkan kepada makhluk paling utama, yaitu Nabi Muhammad SAW, melalui perantara malaikat yang paling mulia, yaitu Jibril Alaihis Salam, lalu diberikan kepada umat yang paling agung,” terang beliau.
Di hadapan hadirin, KH. Afifuddin menekankan pentingnya membaca, memahami, dan mengamalkan al-Qur’an. Menurut beliau, membaca al-Qur’an dengan mushaf lebih utama daripada membaca tanpa mushaf, karena melibatkan seluruh indera.

“Mata melihat, jari menyentuh, tangan membawa, dan hati menghayati. Ini bukan sekadar bacaan, tapi keterlibatan penuh dalam interaksi dengan Kalamullah,” ungkap beliau.
Beliau juga mengingatkan bahwa al-Qur’an tidak hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga pedoman utama dalam kehidupan. Yang mana, menurut beliau al-Qur’an mencakup tiga aspek penting; akidah, akhlak tasawuf, dan syariat.
“Akidah adalah fondasi keyakinan. Akhlak-tasawuf berperan dalam membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, mengosongkan hati dari sifat tercela dan mengisi dengan hal yang terpuji. Sedangkan syariat adalah untuk mengatur tata kehidupan yang berhubungan dengan ibadah kepada Allah SWT, yang biasa dikenal dengan ilmu fikih,” jelasnya.
Dalam mengakhiri ceramah, KH. Afifuddin mengajak para santri untuk terus berusaha memperbaiki bacaan al-Qur’an yang sesuai dengan kaidah tajwid.
“Kita diharuskan untuk membaca al-Qur’an dengan tajwid yang benar dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, khusunya yang bersifat amaliah,” pungkas beliau penuh harap.

Dalam acara ini juga digelar Demonstrasi Qira’ah oleh para wisudawan dan wisudawati, kemudian pengukuhan oleh KH. Fawaid Yazid, LH. Nakhlid Syafi’i, dan Ning Hj. Zulfa Yazid. Selanjutnya, M. Ikrom Sahroni dan Fikayatul Hidayah dinobatkan sebagai lulusan yang terbaik.
Haflah Lajnah Qiraatuna 3 ini menjadi momentum yang menginspirasi bagi para hadirin untuk semakin mencintai, memahami, dan mengamalkan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Semoga cahaya al-Qur’an senantiasa menerangi hati umat Islam di mana pun berada. (*)
———————————–
Pewarta: Wildan Ms.
Editor: Fathorrozi


