Ibu Adalah Pesantren yang Tidak Pernah Libur

OPINI_nurulqarnain.net – Hari Ibu sering hadir sebagai perayaan simbolik: bunga, kartu ucapan, dan kalimat manis yang beredar di ruang publik maupun media sosial. Semua itu tidak keliru, tetapi menjadi kurang bermakna jika berhenti pada romantisme. Ibu bukan sekadar figur yang diperingati setahun sekali, melainkan fondasi peradaban yang bekerja setiap hari, dalam sunyi, tanpa panggung, dan tanpa jeda.

Sebelum seorang anak mengenal sekolah, madrasah, atau kitab kuning, ia terlebih dahulu “mondok” dari rahim hingga di pangkuan ibunya. Di sanalah pendidikan paling awal berlangsung.

Dari ibu, seorang anak belajar arti sabar melalui sentuhan, belajar adab melalui tutur kata, dan belajar iman melalui keteladanan sehari-hari. Pesantren pertama ini tidak memiliki kurikulum tertulis, tetapi hasil pendidikannya sering jauh lebih kokoh daripada institusi formal: karakter dan kepekaan nurani.

Islam memuliakan ibu bukan karena alasan sentimental, melainkan karena kesadaran mendalam tentang asal-usul manusia. Sabda Nabi bahwa “surga berada di bawah telapak kaki ibu” adalah pernyataan etis tentang bagaimana kehidupan harus dijalani. Ibu adalah ruang pertama tempat manusia belajar tentang kasih, pengorbanan, dan tanggung jawab. Peradaban yang meremehkan peran ibu sejatinya sedang melemahkan sendi-sendi kemanusiaannya sendiri.

Di lingkungan pesantren, kita mengenal figur nyai yang memperlihatkan dengan jelas bagaimana peran ibu bekerja dalam dunia pendidikan. Beliau mungkin tidak selalu tampil di mimbar, tetapi kehadirannya mengatur ritme kehidupan pondok. Banyak santri tumbuh dengan adab yang kuat bukan semata karena aturan tertulis, melainkan karena keteladanan harian seorang ibu pesantren. Tatapan yang menenangkan, teguran yang sederhana, dan sikap konsisten seringkali lebih membekas daripada nasihat panjang.

Hari Ibu seharusnya menjadi momen refleksi sosial, bukan sekadar seremoni tahunan. Apakah ibu hanya kita muliakan dalam pidato dan poster, sementara dalam kehidupan nyata ia dibiarkan memikul beban berlapis? Banyak ibu mengasuh anak, menjaga rumah, sekaligus menopang ekonomi keluarga, seringkali tanpa dukungan yang adil dan perlindungan yang memadai. Pujian yang tidak diiringi kepedulian nyata mudah berubah menjadi basa-basi moral.

Karena itu, merayakan Hari Ibu berarti belajar menghormati kerja sunyi yang menopang kehidupan. Mengingat bahwa sebelum kita menjadi apapun: santri, pelajar, atau pemimpin, kita terlebih dahulu adalah anak dari seorang ibu. Dialah pesantren paling setia dalam hidup kita: mendidik tanpa libur, mencintai tanpa syarat, dan mendoakan tanpa pernah menuntut balasan. (*)

——————————

Penulis: Wildan Miftahussurur

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *