Pesan Pengasuh pada Pertemuan ISNUQ di Kalibaru: Cintai Pesantren Nurul Qarnain, Jangan Hina Pesantren Lain

BANYUWANGI_nurulqarnain.net – Ikatan Santri Nurul Qarnain (ISNUQ) kembali menyelenggarakan Pertemuan Rutinan Istighatsah dan Ratibul Haddad pertiga bulan sekali yang dipusatkan di Masjid Al Fatah Tegal Pakis Kalibaru Banyuwangi, Ahad (21/12/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh alumni Pondok Pesantren Nurul Qarnain sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kesinambungan silaturahmi, kekompakan, serta penguatan nilai-nilai ruhaniyah pesantren.

Usai pembacaan Ratibul Haddad dan Shalawat Nabi yang dipimpin oleh KH. Fawaid Yazid, S.Ag., selaku Wakil Pengasuh Bidang Kepesantrenan, acara kemudian dilanjutkan dengan kajian kitab Nuzhatu at-Thalib fi Raudhati ar-Ratib.

KH. Fawaid Yazid, S.Ag., memimpin pembacaan Ratibul Haddad
KH. Fawaid Yazid, S.Ag., memimpin pembacaan Ratibul Haddad

Sebelum sesi pembacaan kitab tersebut, KH. Badrut Tamam, M.H.I., selaku Wakil Pengasuh Bidang Pendidikan, menegaskan bahwa pertemuan alumni ini memiliki dimensi strategis yang tidak dapat digantikan oleh komunikasi virtual semata. Silaturahim, menurut beliau, harus diwujudkan melalui perjumpaan langsung agar terjalin kedekatan emosional dan spiritual yang lebih kuat.

Beliau juga menekankan pentingnya menjaga kekompakan antaralumni serta terus menjalin hubungan ruhaniyah dengan ahlul bait Pondok Pesantren Nurul Qarnain. Hubungan ini dipandang sebagai wasilah keberlanjutan nilai, adab, dan keberkahan pesantren yang diwariskan dari para masyayikh.

Terkait amaliah Ratibul Haddad, KH. Badrut Tamam menjelaskan bahwa kitab Nuzhatu at-Thalib fi Raudhati ar-Ratib disusun dengan pendekatan ilmiah yang bertanggung jawab. Setiap bacaan diupayakan memiliki landasan dalil, meskipun sebagian bersumber dari hadis gharib sebagaimana diriwayatkan Imam at-Tirmidzi. Kitab tersebut sekaligus menjadi bantahan akademik terhadap pandangan yang menuduh Ratibul Haddad sebagai amalan bid‘ah tanpa dasar.

KH. Badrut Tamam, M.H.I., menguraikan kitab Nuzhatu at-Thalib fi Raudhati ar-Ratib
KH. Badrut Tamam, M.H.I., menguraikan kitab Nuzhatu at-Thalib fi Raudhati ar-Ratib

Beliau menambahkan bahwa dalam persoalan doa, yang terpenting adalah substansi maknanya yang berisi kebaikan dan tidak bertentangan dengan syariat. Membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa merupakan bentuk sedekah bagi orang fakir yang tidak memiliki kemampuan bersedekah dengan harta. Semangat istikamah dalam membaca ayat atau surah Al-Qur’an, menurutnya, juga lahir dari pemahaman terhadap fadilah atau keutamaan yang terkandung di dalamnya.

Tidak seperti pertemuan-pertemuan ISNUQ sebelumnya, pada pertemuan kali ini dihadiri pula oleh KH. Yazid Karimullah selaku Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain.

Dalam tausiahnya, KH. Yazid Karimullah mengajak alumni untuk mengenang kembali sejarah berdirinya pesantren yang kini telah berusia 57 tahun. Beliau menceritakan masa-masa awal pendirian pesantren yang dijalani dengan penuh kesederhanaan, termasuk mengelola administrasi dan kebutuhan pesantren secara mandiri sebagai wujud pengabdian dan keikhlasan.

KH. Yazid Karimullah memberi tausiah kepada alumni
KH. Yazid Karimullah memberi tausiah kepada alumni

Pengasuh berharap kegiatan rutin yang difasilitasi melalui ISNUQ ini mampu menghadirkan dua keberkahan sekaligus, yakni keberkahan bagi pribadi alumni dan keberkahan bagi pesantren. Beliau menegaskan bahwa tujuan utama mendirikan pesantren bukan semata mencetak seorang kiai, melainkan membentuk generasi yang mampu menguasai urusan akhirat sekaligus cerdas membaca dinamika dunia.

Beliau juga berpesan agar alumni selalu mencintai pesantren tempat mereka belajar dan meraup berkah, namun tidak menghina pesantren lain.

“Jadilah alumni yang mencintai pesantrennya sendiri, jangan mencela pesantren yang lain,” pesan beliau.

KH. Yazid Karimullah juga menekankan pentingnya istikamah dalam setiap amal kebaikan serta kecerdasan (fathanah) dalam menyikapi realitas kehidupan. Nilai-nilai pesantren, tegas beliau, senantiasa berlandaskan sifat shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah, sebagaimana sifat wajib bagi para utusan.

Pada kesempatan tersebut, beliau juga menguraikan fadilah Shalawat Nariyah 4.444 yang jika diamalkan setiap malam insya Allah akan meraih kesuksesan dunia dan akhirat.

“Saya coba mengamalkan shalawat ini dari bakda Isya (jam 19.00 malam) selesai jam 07.00 pagi. Jika kalian mau mengamalkan, saya ijazahkan,” tutur beliau diselingi candaan.

Selain itu, beliau juga menganjurkan pembacaan doa Nabi Sulaiman sebagaimana termaktub dalam Surah Shad ayat 35 sebagai amalan penguat spiritual dan permohonan keberkahan hidup.

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي ۖ  إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak layak dimiliki oleh seorang pun sesudahku. Sungguh, Engkau-lah Maha Pemberi.” (QS. Shad: 35)

Sebagai penutup, beliau mengajak alumni untuk terus istikamah membaca Al-Qur’an, melaksanakan salat lima waktu dengan khusyuk, dan tidak lupa berinfak.

“Tiga amalan yang tercantum di dalam Al-Qur’an surah Fatir ayat 29 ini, jika istikamah kalian amalkan, maka tidak akan pernah rugi,” tandas beliau.

Kegiatan pertemuan antaralumni dan dewan pengasuh ini diharapkan menjadi ruang konsolidasi spiritual dan intelektual alumni, sekaligus memperkuat komitmen menjaga nilai-nilai pesantren di tengah tantangan zaman. (*)

—————————–

Juru Berita: Zaenol Hasan

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *