Kajian pada Pertemuan FOKSA Putri dan Tashih Ratib al-Haddad

Kemarin, Ahad (27/11/2022) Forum Komunikasi Santri Alumni (FOKSA) Putri gelar pertemuan rutin setiap 2 bulan sekali. Pertemuan kali ini bertempat di kediaman saudari Wacik Qomariyah, Sukokerto, Sukowono, Jember, dan dihadiri oleh 89 alumni putri. Susunan acara pada pertemuan kali ini sedikit berbeda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya.

Kali ini  dibuka dengan pembacaan surah al-Fatihah, dilanjutkan dengan lantunan Selawat Nabi yang dipimpin oleh saudari Intan Nur Layli, kemudian dilanjutkan dengan Tashih Ratibul Haddad dan kajian kitab al-Masail as-Shufiyah wa Asraru al-Qulubiyah oleh Ning Hj. Zulfa Yazid, S.Sos.I, S.Pd.I selaku Pembina FOKSA Putri. Acara berikutnya pembacaan Ratibul Haddad yang dipimpin saudari Mabruroh, sebelum acara ramah tamah, tak lupa acara ini ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ning Hj. Zulfa Yazid, S.Sos.I, S.Pd.I.

Sebelum Ning Zulfa men-tashih beberapa bacaan yang ada pada Ratibul Haddad, sesuai dengan hasil keputusan Tim Tashih Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo, Situbondo, beliau menceritakan tentang  Habib Abdullah ‘Alawi al-Haddad penyusun Ratibul Haddad. Habib Abdullah  ‘Alawi al-Haddad lahir pada malam Senin, 5 Safar  1044 H di Subair (pinggiran kota Tarim, Hadramaut, Yaman).

Pada usia 4 tahun beliau mengalami sakit keras yang mengakibatkan kehilangan penglihatan. Hal ini membuat Syarifah Salma, ibunda beliau, bersedih hati. Dan untuk menenangkan dirinya, Syarifah Salma berziarah ke makam Habib Abdullah Alaydrus. Di sana Syarifah Salma mencurahkan segala sedihnya kepada Allah.

Beliau berkata, “Ya Allah, jika anakku sebab buta lalu hidupnya tak dapat memberi manfaat, hamba rela Engkau cabut nyawanya. Namun, jika hidupnya akan banyak memberi manfaat, maka panjangkanlah umurnya dengan umur yang berkah dan manfaat.”

Doa ibunda Habib Abdullah ‘Alawi al-Haddad dikabulkan Allah Swt. Beliau diberi umur panjang dan berkah. Hal ini terbukti, walau dengan keterbatasan penglihatan, beliau dapat melahirkan beberapa karya, baik berupa kitab-kitab atau pun Ratib yang dapat kita baca hingga kini. Mata beliau memang buta, namun batin beliau dapat melihat melebihi penglihatan mata kita.

Di antara kitab karangan beliau adalah an-Nashaihu ad-Diniyah wa al-Washaya al-Imaniyah, ad-Da’watu at-Tammah wa at-Tadzkiratu al-‘Ammah, Risalatul Mu’awanah wal Muzhoharah wal Muazaroh, al-Fushul ‘Ilmiyyah, Sabilul Iddikar, Kitabul Hikam, An-Nafaisul ‘Uluwiyah, Risalatul Mudzakarah, Ithafus Sail Bijawabil Masail, Tatsbitul Fuad, Risalatu Adabi Suluki Murid, Risalah Shalawat (yang di dalamnya terdapat selawat Thibbil Qulub ). Dan Ratib yang beliau susun adalah Ratib al-Haddad.

Ratib ini beliau susun saat beliau berusia 27 tahun. Kala itu, beberapa orang (Syi’ah) Zaidiyah masuk ke Yaman yang mengakibatkan para ulama khawatir akidah masyarakat akan rusak akibat pengaruh ajaran mereka. Sehingga para ulama meminta Habib Abdullah ‘Alawi al-Haddad untuk menyusun doa yang kemudian disebut Ratib al-Haddad. Ratib ini dibaca pertama kali di Masjid al-Hawiy, Yaman.

Tak hanya sampai di sini, Ning Zulfa juga menambahkan cerita tentang keistimewaan mata batin si penyusun Ratib Al-Haddad. Beliau bertutur, “Pada suatu ketika ada sebagian masyarakat yang tidak mempercayai kepiawaian Habib Abdullah ‘Alawi al-Haddad dalam menulis karya-karya. Karena seolah mustahil seorang yang buta dapat menghasilkan karya tulis yang tidak sedikit. Akhirnya, mereka berkunjung ke kediaman Habib Abdullah ‘Alawi al-Haddad. Sampai di sana mereka disuguhi minuman. Dan ternyata sebelum diminum, ada lalat yang jatuh pada minuman itu. Namun, para tamu itu tidak mengetahuinya. Kemudian Habib Abdullah ‘Alawi al-Haddad melarang para tamunya minum minuman tersebut. Beliau berkata, ‘Jangan diminum! Ada lalat jatuh di minuman itu.'”

Awalnya mereka kaget, mana mungkin orang buta dapat melihat ada lalat jatuh pada minuman. Dan alangkah terkejutnya mereka, ternyata benar dalam minuman itu ada lalat yang jatuh. Dan semenjak saat itu mereka percaya bahwa Habib Abdullah ‘Alawi al-Haddad sekalipun buta matanya, namun batinnya melihat dengan lebih tajam sehingga dapat menghasilkan banyak karya.

Pada kajian kitab al-Masail as-Shufiyah wa Asraru al-Qulubiyah, Ning Zulfa membaca tentang masalah menghina ulama. Dijelaskan oleh beliau bahwa kita tidak boleh menghina ulama karena kita tidak pernah tahu terhadap misi dakwah yang terselubung pada ulama tersebut. Ulama juga manusia yang tidak akan pernah luput dari kesalahan. Oleh karena itu, sebisa mungkin kita harus bisa menutupi kesalahan mereka, terlebih guru kita.

Ning Zulfa juga menyampaikan, “Fanatik pada kiai atau guru wajib sebagai bentuk militansi pada pesantren, namun jangan sampai menghina kiai atu guru orang lain. Karena para ulama yang berbeda mazhab pun saling menghormati, sebagaimana dalam kitab Tabaqah as-Syafi’i bahkan mereka saling mendoakan.”

Di akhir kajian, beliau menjelaskan, sesama ulama tidak akan saling menghina. Seharusnya yang bukan ulama juga tidak menghina ulama, kecuali dia termasuk orang yang bodoh.

 

Pewarta: Fatna Harista

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *