Usai dibuka dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an, KH. Badrut Tamam, M.H.I., menyampaikan sambutan mewakili Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain serta Ketua Panitia PHBI. Dalam sambutannya, beliau memohon maaf jika terdapat kekurangan kepada para hadirin.
“Apa pun sudah kami maksimalkan. Andaikata masih ada kekurangan, kami mewakili pengasuh dan seluruh panitia, mengucapkan beribu-ribu maaf,” tutur beliau.
Selanjutnya, penganugerahan para pemenang Musabaqah Qiraatil Kutub Kader Ulama yang telah digelar beberapa hari sebelum perayaan maulid Nabi. Penganugerahan ini diberikan oleh KH. Abdul Moqsith Ghazali dan KH. Yazid Karimullah beserta beberapa tamu kehormatan lainnya kepada enam peraih juara dari dua cabang lomba, yakni lomba membaca kitab Fathul Qarib dan Mukhtashar Jiddan dari siswa-siswi Satuan Pendidikan Muadalah Nurul Qarnain.
Mengisi ceramah pertama, KH. Abdul Moqsith Ghazali langsung membuka dengan menantang para santri Pondok Pesantren Nurul Qarnain.
“Sebelum saya mulai mauidzah, saya ingin mengetest hafalan 1000 bait Alfiyah santri Nurul Qarnain. Mari santri putri maju ke depan,” ajak beliau.
“Jika tidak ada santri putri, sekarang santri putra, saya minta yang 1000 bait,” tegas beliau.
Sontak, ajakan beliau langsung ditanggapi oleh salah satu santri bernama Muhammad Amirul Hasan. Usai mengenalkan diri, Amirul Hasan langsung diuji hafalan 1000 bait Alfiyah oleh KH. Abdul Moqsith Ghazali. Meski pertama agak gugup, namun dengan tangkas Amirul Hasan mampu melanjutkan nadzam Alfiyah yang bagian awal bait dibacakan oleh Katib Syuriah PBNU tersebut.
Berhasil melanjutkan semua bait yang dibacakan oleh KH. Abdul Moqsith Ghazali, beliau serta merta menunjukkan kekagumannya terhadap santri Nurul Qarnain.
“Subhanallah, Nurul Qarnain yang dikenal mampu mencetak calon-calon ulama itu bukan mitos lagi,” puji beliau.
“Saya tidak akan memberikan hadiah, tapi KH. Badrut Tamam yang akan memberikan nanti,” canda beliau.
Candaan beliau akhirnya ditanggapi serius oleh KH. Badrut Tamam. Berlembar-lembar uang diserahkan oleh beliau kepada Amirul Hasan di depan para hadirin yang disambut tepuk tangan membahana. Tidak sampai itu, Kepala Kemenag Jember yang diikuti juga oleh Kepala Desa Baletbaru turut memberikan sejumlah uang untuk hadiah kepada Amirul Hasan.

“Seluruh santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Nurul Qarnain bisa menjadi ulama. Menjadi ulama itu ada jalan. Pertama, sebab keturunan. Kedua, dengan menjadi menantu seorang kiai, seperti yang dilakukan oleh KH. Badrut Tamam,” jelas beliau dibumbui candaan.
Beliau juga menegaskan program PBNU untuk kaderisasi ulama dapat diikuti pula oleh santri Pondok Pesantren Nurul Qarnain.
“Kami di PBNU mempunyai program Kaderasi Ulama, santri Nurul Qarnain dapat mengikutinya, tapi syaratnya harus bisa baca Fathul Wahab dan Syarah Jam’ul Jawami’.”
Tidak hanya itu KH. Muqshit Ghazali juga menyampaikan rasa kagum beliau kepada KH. Yazid Karimullah.
“KH. Yazid Karimullah ini sama dengan saya. Sama-sama lahir dari rahim yang sama, berguru kepada guru yang sama di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.”
“KH. Yazid Karimullah begitu hebat mengelola pesantren. Lima tahun yang lalu saya berkunjung ke Nurul Qarnain belum seperti ini, tapi dalam waktu singkat disulap oleh beliau, Nurul Qarnain menjadi sebesar ini,” imbuhnya.
Ceramah kedua, disampaikan oleh KH. Muhammad Sholeh, Pengasuh Pondok Pesantren Ihyaus Sunnah Probolinggo. Dalam isi ceramahnya, KH. Sholeh menyampaikan pentingnya berguru di era gawai android seperti sekarang.
“Zaman sekarang penting berguru, salah satunya dengan belajar di pesantren, karena di pesantren putra-putri Bapak dilarang menggunakan HP. Dan yang terpenting, belajar kepada kiai di pesantren sanad keilmuannya menyambung kepada Rasulullah Saw,” pungkas beliau (*)
———————————-
Reporter: Wildan MS.
Editor: Fathorrozi



Mantab