Kehancuran Baghdad Usai Pembakaran Karya Emas oleh Bangsa Mongol

nurulqarnain.net – Pada masa keemasannya, peradaban Islam telah menjelma sebagai pusat intelektual dan ilmiah dunia. Yang paling mencolok terlihat pada masa kekhalifahan Abbasiyah, khususnya sejak masa pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid (786–809 M) hingga putranya, al-Ma’mun (813–833 M).

Baghdad, ibu kota kekhalifahan saat itu, tumbuh menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan global. Di kota ini berdiri institusi ternama Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan), sebuah lembaga yang tidak hanya berfungsi sebagai perpustakaan, tetapi juga sebagai pusat penerjemahan dan riset ilmiah. Di sinilah karya-karya besar dari Yunani, Persia, dan India diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan dikaji secara kritis oleh para ilmuwan muslim hingga dikembangkan sedemikian rupa.

Para ilmuwan muslim memberikan sumbangan luar biasa dalam berbagai bidang. Al-Khawarizmi meletakkan dasar-dasar aljabar dan algoritma. Ibn Sina (Avicenna) menulis al-Qanun fi al-Tibb (Canon of Medicine), yang menjadi rujukan dunia medis selama berabad-abad di Timur dan Barat. Al-Farabi, Al-Razi, Al-Biruni, Al-Khawarizmi dan banyak tokoh lainnya melahirkan karya-karya yang bukan hanya mencerminkan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan klasik, tetapi juga menunjukkan kemampuan orisinal dalam berpikir dan mengembangkan teori-teori baru bahkan cerita 1001 Malam dengan kisah salah satu adalah Aladinnya juga terlahir pada masa ini.

Namun, kejayaan itu tidak berlangsung selamanya. Pada abad ke-13, dunia Islam menghadapi ancaman besar dari arah timur, yakni bangsa Mongol. Di bawah kepemimpinan Jenghis Khan dan para penerusnya, bangsa Mongol menaklukkan wilayah yang sangat luas, mulai dari Tiongkok hingga Eropa Timur. Setelah kematian Jenghis Khan, cucunya, Hulagu Khan, ditugaskan untuk memimpin ekspedisi ke wilayah Timur Tengah. Tujuannya adalah menundukkan kekuatan Islam yang masih bertahan, termasuk kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad yang sedang mencapai masa jayanya.

Sekitar tahun 1258 M, pasukan Mongol yang sangat besar diperkirakan mencapai 200.000 prajurit mengepung Baghdad dengan senjata lengkapnya. Meskipun Baghdad dikenal sebagai kota yang kaya dan berpengaruh, secara militer kota ini tidak dipersiapkan untuk menghadapi kekuatan sebrutal pasukan Mongol. Khalifah terakhir Abbasiyah, Al-Musta’sim Billah, meremehkan ancaman tersebut dan gagal menyusun strategi pertahanan yang memadai. Setelah pengepungan selama dua minggu, tembok kota berhasil dijebol, dan dimulailah salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah Islam.

Penaklukan Baghdad oleh Hulagu Khan disertai pembantaian besar-besaran. Menurut banyak sumber sejarah, ratusan ribu penduduk dibunuh tanpa ampun. Khalifah sendiri dibunuh secara tragis, dan keluarganya turut dibinasakan.

Akan tetapi lebih dari sekadar keruntuhan politik, yang paling menyakitkan dari peristiwa ini adalah kehancuran warisan intelektual Islam. Baytul Hikmah yang dikenal sebagai perpustakaan terbesar pada masanya dan berbagai perpustakaan besar lainnya dibakar. Ribuan manuskrip dan buku, hasil kerja keras berabad-abad para ilmuwan muslim, dilemparkan ke Sungai Tigris. Para saksi mata sejarah mencatat bahwa air sungai menghitam karena tinta dari kitab-kitab yang hancur, dan memerah karena darah para pembela ilmu pengetahuan yang terbantai hingga peristiwa ini dikenal sebagai Tragedi Sungai Tinta Emas.

Kehancuran Baghdad pada 1258 M bukan sekadar kekalahan militer atau keruntuhan pemerintahan, melainkan runtuhnya pusat peradaban Islam klasik. Dunia Islam kehilangan pusat gravitasi intelektual. Banyak ilmuwan terbunuh, dan yang selamat melarikan diri ke wilayah lain, seperti ke Mesir, Damaskus, atau Persia dan beberapa tempat terpencil lainnya.

Meskipun ilmu pengetahuan Islam tidak sepenuhnya padam, kemunduran yang terjadi sangat terasa dan membutuhkan waktu lama untuk pulih.

Peristiwa ini juga menandai akhir dari kekhalifahan Abbasiyah sebagai institusi yang kuat. Meskipun kemudian kekhalifahan secara simbolis dilanjutkan di Kairo di bawah perlindungan Mamluk, kekuasaan nyata Abbasiyah tidak pernah pulih. Serangan Mongol mengubah wajah dunia Islam untuk selama-lamanya, dan dikenang sebagai salah satu pukulan paling mematikan terhadap warisan keilmuan dan kemajuan peradaban Islam.

Ini menjadi sejarah bahwa dulu IsIam begitu berjaya dengan berbagai kekayaan intelektual yang dituliskan oleh para cendikiawan dan dibaca oleh generasi emas pada masanya. Lantas sekarang ke mana? (*)

*) Artikel ini disarikan dari buku Sejarah Daulah Umayyah & Abbasiyah karya Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi.

—————————————

Penulis: Wildan Ms.

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *