Dalam mauizah hasanahnya, Nyai Uswatun Hasanah mengingatkan pentingnya melanjutkan semangat perjuangan para ulama untuk membangun peradaban masa depan. Beliau menekankan bahwa seorang santri tidak hanya harus berilmu, tetapi juga berakhlak mulia.

Mengutip dawuh Sayyid Alawi al-Maliki, beliau menyampaikan bahwa ilmu dapat melekat dengan dua kunci utama, yaitu kesungguhan dalam belajar dan keberkahan guru yang diperoleh melalui khidmah atau pengabdian.
“Melaksanakan tugas sederhana seperti menjaga kebersihan saat piket, itu termasuk bentuk khidmah kepada guru dan pesantren yang insya Allah, dengan khidmah tersebut, ilmu kita menjadi berkah,” tutur beliau.
Dalam kesempatan tersebut, Nyai Uswatun Hasanah juga mengingatkan satu pesan KHR. As’ad Syamsul Arifin, “Meskipun ilmunya menembus langit, namun jika tidak berakhlak, maka ilmunya tidak ada gunanya,” pesan beliau.
Lebih lanjut, beliau berpesan pula bahwa santri yang sudah menyelesaikan masa belajar di pesantren harus berusaha pulang dengan membawa rida dari para guru. Sebab, rida guru diyakini menjadi pintu keberkahan ilmu yang akan bermanfaat di berbagai bidang kehidupan, tidak terbatas hanya kepada pengajar saja, tetapi juga dalam bidang usaha seperti pertanian, bisnis, ataupun bidang lainnya.

Nyai Uswatun menjelaskan juga bahwa khidmah kepada pesantren tidak berhenti meskipun seseorang sudah menjadi alumni.
“Bahkan setelah pulang (menjadi alumni), tetaplah berkhidmah. Jangan pernah merasa lepas dari pesantren,” pesan beliau.
Beliau juga mengingatkan bahwa santri yang pulang tanpa membawa rida guru dikhawatirkan akan mendapat konsekuensi buruk, sebagaimana disebutkan, ia bisa mendapat laknat dari alam semesta, na’uzubillah.
Acara ditutup dengan doa bersama, berharap agar seluruh santri dan asatizah Pondok Pesantren Nurul Qarnain diberi kemudahan dalam mengamalkan ilmu dan menjadi penerus perjuangan ulama demi membangun peradaban masa depan yang lebih baik. (*)
————————————-
Pewarta: Silfin & Wildan
Editor: Fathorrozi


