Menurut Dr. Bachrul Ulum, S.Sy., M.H.I., selaku Ketua STIS Nurul Qarnain, pengembangan perguruan tinggi di lingkungan pesantren membutuhkan perhatian khusus karena karakteristiknya berbeda dengan perguruan tinggi negeri.
“Kami membutuhkan dukungan penuh agar perguruan tinggi pesantren tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menunjukkan daya saing dan memberikan dampak positif, dari baik menjadi lebih baik, dan dari lebih baik menuju sangat baik,” ujarnya.

Arahan juga datang dari Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Arskal Salim GP., M.Ag. Ia menegaskan pentingnya membangun fasilitas penunjang, seperti perpustakaan di area pesantren. Hal ini karena berangkat dari ketakjubannya terhadap pembangunan di Pondok Pesantren Nurul Qarnain yang begitu pesat sejak terakhir ia berkunjung pada tahun 2019.
“Perpustakaan adalah jantung pengetahuan. Semoga pengembangan ini diberi kelancaran, sehingga bisa menggenerasikan kualitas keilmuan di pesantren,” ucap Prof. Arskal.
Lebih lanjut, Prof. Arskal juga menekankan bahwa silaturahmi dalam acara ini bukan sekadar ajaran agama, tetapi bagian dari strategi peningkatan kualitas pendidikan tinggi Islam. Ia mencontohkan bagaimana pesantren di Jawa Timur kini tidak lagi stagnan, melainkan turut berkembang menjadi institut hingga universitas dan melahirkan banyak sarjana santri lulusan pesantren.
“Santri dulu mungkin hanya bermodal ijazah seadanya. Tetapi berkat keberkahan dan penguasaan ilmu serta berkah kiai, mereka diterima dan diakui. Kini, peluang lebih besar dibuka untuk mereka. Tugas kita adalah memanfaatkan peluang ini sebaik-baiknya,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Prof. Arskal mengingatkan pula bahwa membangun bangsa melalui pendidikan berbasis pesantren adalah sebuah misi besar.
“Mengutip pernyataan Gus Dur dalam jurnal Brisma, beliau menyatakan bahwa pesantren adalah bagian dari subkultur bangsa yang memiliki potensi luar biasa dalam mencetak generasi berilmu dan berakhlak mulia.”
Sejalan dengan hal tersebut, H. Alip Nuryanto, M.Hum., Sekretaris Jenderal Bidang Publikasi dan Humas juga mengingatkan agar perguruan tinggi aktif pula dalam pemberitaan lewat media sosial.
“Aktivitas sekecil apapun yang dilaksanakan oleh perguruan tinggi harus diberitakan. Publikasi itu penting. Sekalipun kegiatannya kecil, tapi dipublikasi dan bahan beritanya bagus, maka akan bagus juga. Sebaliknya meskipun kegiatanya bagus, namun tidak terpublis, maka kurang optimal,” tegasnya.
Acara pembinaan ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk memperkuat sinergi antara pesantren dan perguruan tinggi Islam, guna mencetak lulusan yang siap berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan negara. (*)
———————————
Pewarta: Wildan Ms.
Editor: Fathorrozi


