“Pesantren bukan hanya tempat belajar ilmu agama, tetapi juga tempat menempa mental dan karakter. Jika orang tua tidak sepenuhnya pasrah dan justru terlalu banyak ikut campur, maka pendidikan di pesantren tidak akan berjalan maksimal,” ujar Ust. Malik.
Ia kemudian memaparkan empat ciri utama orang tua yang gagal dalam memondokkan anaknya. Menurut Ust. Malik, salah satu kunci keberhasilan pendidikan di pesantren adalah sikap pasrah dan kepercayaan penuh dari orang tua kepada pengasuh, guru dan pengurus pesantren. Jika setiap kebijakan yang ditetapkan pesantren selalu dipertanyakan dan dicampuri, maka anak akan kesulitan belajar disiplin dan mandiri.
“Bagaimana anak bisa belajar hidup teratur jika orang tuanya sendiri tidak bisa menerima aturan yang diterapkan di pesantren?” ungkapnya.
Beliau juga menyampaikan pendapat dari kitab Ta’limul Muta’alim, “di kitab Ta’lim Syaikh Az Zarnuji mengatakan ‘Sesungguhnya guru dan dokter tidak akan memberikan nasihat yang tulus jika keduanya tidak dihormati’,” Ust. Malik melanjutkan.
Sebagian orang tua lebih fokus pada kekurangan pesantren tanpa mengakui peran besar pengurus dalam mendidik anak-anak mereka. Hal ini dapat berdampak buruk, karena anak cenderung meniru sikap orang tuanya. Jika orang tua sering mengkritik pengurus, maka anak pun akan kehilangan rasa hormat terhadap gurunya.
“Mereka lupa bahwa yang mendampingi anak sehari-hari adalah para pengasuh dan pengurus. Jika hanya mencari kesalahan, maka anak pun akan mengikuti pola yang sama,” jelasnya.
Banyak kasus di mana santri mengadu kepada orang tuanya dengan cerita yang belum tentu sesuai dengan kenyataan. Ketika anak mengeluh soal disiplin atau aturan ketat, sebagian orang tua langsung percaya dan menyalahkan pesantren.
Ada orang tua yang terlalu sering mengirim bekal berlebihan atau terus-menerus menuruti permintaan anak tanpa memperhatikan aturan pondok. Akibatnya, anak sulit beradaptasi dengan lingkungan pesantren yang menekankan kesederhanaan dan kedisiplinan.
“Rasulullah telah mencontohkan kesederhanaan dalam mendidik anak-anaknya. Jika kita ingin anak-anak kita menjadi generasi yang kuat dan mandiri, maka kita juga harus belajar menahan diri agar tidak terlalu memanjakan mereka,” ujar Ust. Malik.
“Maka bersabarlah dengan penyakitmu jika engkau menyepelekan dokter, dan terimalah kebodohanmu jika engkau menyepelekan guru,” Pungkasnya.
Dengan adanya penyampaian ini, diharapkan orang tua semakin memahami peran penting mereka dalam mendukung pendidikan anak di pesantren, bukan hanya secara finansial, tetapi juga dengan memberikan kepercayaan penuh kepada pengasuh dan pengurus dalam membentuk karakter santri yang tangguh dan berakhlak.
Pewarta: Wildan Ms
Editor: M. Firmansyah


