Salah satu kisah yang paling menggambarkan kenyataan tersebut adalah kisah Al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi. Ia merupakan salah seorang bangsawan terbesar Quraisy, pemimpin yang disegani, sekaligus saudagar yang sangat kaya. Kedudukannya begitu tinggi sehingga pendapatnya menjadi rujukan para pembesar Makkah. Kekayaannya melimpah, keluarganya terpandang, dan anak-anaknya banyak. Hampir semua ukuran kemuliaan dunia telah terkumpul pada dirinya.
Namun Allah mengingatkan bahwa seluruh kenikmatan itu bukanlah hasil mutlak usaha manusia, melainkan karunia yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali.
ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَمْدُودًا وَبَنِينَ شُهُودًا وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيدًا ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ
“Biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang yang Aku sendiri telah menciptakannya. Aku telah memberinya harta yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersamanya, serta Aku lapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya. Kemudian dia masih menginginkan agar Aku menambahnya lagi.” (QS. Al-Muddatsir: 11-15)
Ketika Rasulullah ﷺ datang membawa risalah Islam, Al-Walid bukanlah orang yang tidak memahami kebenaran. Sebagai seorang yang dikenal memiliki kecerdasan dan kemampuan sastra yang tinggi, ia mampu membedakan mana syair, mana pidato, mana sihir, dan mana kalam yang berada di luar kemampuan manusia. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa setelah mendengar bacaan Al-Qur’an, ia mengakui keagungan dan keindahannya. Ia memahami bahwa Al-Qur’an bukanlah karya manusia.
Akan tetapi, ada sesuatu yang lebih kuat daripada pengetahuannya, yaitu kesombongan. Ia takut apabila menerima Islam, kedudukannya di mata Quraisy akan runtuh. Ia khawatir kehilangan penghormatan yang selama puluhan tahun ia bangun. Akhirnya, demi mempertahankan gengsi, ia memilih menolak kebenaran yang telah diyakininya di dalam hati.
Allah mengabadikan pergulatan batin tersebut dalam firman-Nya:
إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ثُمَّ نَظَرَ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ
“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang akan dikatakannya). Maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian dia memandang, lalu dia bermasam muka dan merengut. Kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata, ‘Ini hanyalah sihir yang dipelajari. Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.'” (QS. Al-Muddatsir: 18-25)
Di sinilah letak ironi terbesar dalam kehidupan Al-Walid. Ia tidak jatuh karena miskin, tidak pula karena kurang cerdas. Ia jatuh karena menjadikan kehormatan dunia lebih berharga daripada kebenaran. Kesombongan mengubah mata yang mampu melihat menjadi buta, telinga yang mampu mendengar menjadi tuli, dan hati yang mengenal kebenaran menjadi keras. Ia rela kehilangan ridha Allah demi mempertahankan tepuk tangan manusia.
Hari ini tidak ada seorang pun yang mengingat berapa banyak harta Al-Walid, seberapa luas tanahnya, atau semegah apa rumah-rumahnya. Semua itu telah hilang ditelan zaman. Namun nama Al-Walid tetap disebut hingga hari ini, bukan sebagai lambang kejayaan, melainkan sebagai pelajaran tentang bahayanya kesombongan. Inilah bukti bahwa sejarah manusia mungkin dapat melupakan kekayaan seseorang, tetapi Al-Qur’an akan terus mengabadikan sikapnya.
Pelajaran terbesar dari kisah ini adalah bahwa manusia sering salah menilai arti sebuah kemuliaan. Banyak orang mengira jabatan membuat seseorang lebih mulia, kekayaan menjadi tanda kesuksesan, dan penghormatan manusia adalah tujuan hidup. Padahal, semua itu hanyalah titipan Allah yang dapat diberikan dan diambil kapan saja. Tidak sedikit orang yang ketika berada di puncak kekuasaan menggunakan jabatan dan pengaruhnya untuk merendahkan, memfitnah, bahkan menindas mereka yang lebih lemah. Mereka merasa kedudukannya akan selalu melindungi dan membenarkan setiap tindakan yang dilakukan.
Namun sejarah membuktikan bahwa tidak ada kekuasaan yang abadi. Ketika Allah berkehendak, jabatan dapat dicabut, harta dapat lenyap, dan orang yang dahulu disegani bisa kehilangan seluruh kehormatannya dalam waktu yang singkat.
Oleh karena itu, jangan pernah merasa bangga dengan kedudukan yang dimiliki, sebab yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah bukanlah tinggi rendahnya jabatan, melainkan bagaimana jabatan itu digunakan. Kemuliaan sejati bukan terletak pada pangkat, kekayaan, atau banyaknya pengikut, tetapi pada kejujuran, kerendahan hati, dan keberanian membela kebenaran. Pada akhirnya, manusia hanya akan dikenang melalui amalnya, sementara di hadapan Allah, yang menjadi ukuran kemuliaan hanyalah iman dan ketakwaannya.
Karena itu Allah menegaskan bahwa hanya Dia yang memiliki hak mutlak atas segala bentuk kekuasaan.
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai Allah, Pemilik segala kerajaan. Engkau berikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebaikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.'” (QS. Ali ‘Imran: 26)
Maka, jangan pernah merasa aman dengan jabatan yang sedang dipegang, jangan berbangga dengan harta yang sedang dimiliki, dan jangan terlena oleh pujian yang sedang didengar. Sebab semua itu adalah titipan yang suatu saat akan kembali kepada Pemiliknya. Yang akan tetap tinggal hanyalah amal, kejujuran, dan keberanian untuk berpihak kepada kebenaran.
Al-Walid bin al-Mughirah pernah memiliki hampir seluruh kemuliaan dunia, tetapi kehilangan satu hal yang paling berharga, yaitu hidayah. Dari kisahnya kita belajar bahwa manusia tidak dihancurkan oleh kekurangan yang dimilikinya, melainkan oleh kesombongan yang dipeliharanya. Sebab, ketika hati menolak kebenaran, saat itulah awal dari kehancuran yang sesungguhnya.
Allah telah menetapkan sebuah sunatullah yang berlaku sepanjang zaman:
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
“Dan katakanlah, ‘Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isra’: 81)
Karena pada akhirnya, bukan manusia yang menentukan siapa yang mulia, melainkan Allah. Bukan dunia yang mengabadikan kemuliaan, melainkan kebenaran. Dan ketika kebenaran datang, segala bentuk kesombongan, kebatilan, dan kemegahan dunia akan runtuh dengan sendirinya. (*)
————————————–
Penulis: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


