Pertanyaan tersebut menjadi penting di tengah zaman ketika keberhasilan sering kali diukur dari apa yang tampak: seberapa besar usaha, berapa banyak aset, setinggi apa jabatan, atau sebesar apa keuntungan. Pada saat yang sama, kesalehan terkadang masih ditempatkan dalam gambaran yang seolah berjarak dengan kemapanan. Seakan-akan menjadi dekat dengan Allah mengharuskan seseorang menjauh dari dunia, sementara keberhasilan ekonomi identik dengan ambisi material.
Sufipreneur datang membawa tawaran cara pandang yang berbeda. Tasawuf dan kewirausahaan tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat bertemu ketika kerja dipahami sebagai ikhtiar, harta sebagai amanah, keuntungan sebagai sesuatu yang harus diperoleh secara halal, dan keberhasilan sebagai sarana untuk menghadirkan kemanfaatan.
Di sinilah gagasan Doni Ekasaputra menemukan daya tariknya. Ia tidak sedang mengajak pembaca meninggalkan dunia demi mengejar akhirat, tetapi mengajarkan bagaimana berada di tengah dunia tanpa kehilangan orientasi akhirat. Seseorang boleh bekerja keras, membangun perusahaan, memperoleh keuntungan, memiliki rumah yang baik, bahkan mengendarai kendaraan mewah. Persoalannya bukan terletak pada apa yang dimiliki, melainkan pada siapa yang menguasai hati. Dunia boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai menjadi penguasa jiwa.
Pembahasan tentang zuhud menjadi salah satu bagian yang paling menarik. Dawuh almarhum Kiai Abu Zairi, “Engkok terro endik santreh se sufi, se numpa’ mobil Alphard,” membuka ruang refleksi yang sederhana tetapi dalam. Apakah seorang sufi harus identik dengan kemiskinan? Apakah kendaraan mewah otomatis menunjukkan kecintaan berlebihan kepada dunia? Ataukah zuhud justru merupakan kemampuan batin untuk tidak diperbudak oleh apa pun yang dimiliki? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membuat buku ini tidak sekadar berbicara tentang bisnis, tetapi juga mengajak pembaca melakukan koreksi terhadap pemahaman spiritual yang mungkin selama ini terlalu menyederhanakan hubungan manusia dengan harta.
Sebagai Owner Adeeva Group, alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, dosen Ma’had Aly Nurul Qarnain, sekaligus penulis, Doni Ekasaputra memiliki pengalaman yang mempertemukan dunia pesantren, akademik, dan kewirausahaan. Latar tersebut membuat gagasan sufipreneur terasa dekat dengan realitas. Pembahasan tentang Nabi Muhammad saw., para nabi, sahabat, dan ulama memperlihatkan bahwa Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi manusia yang pasif terhadap kehidupan. Kerja keras, ikhtiar, mencari nafkah, membangun kemandirian, dan memberikan manfaat kepada sesama merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim.
Buku ini juga menarik karena tidak berhenti pada romantisme kewirausahaan. Muamalah, fikih bisnis, kejujuran, wara’, mujahadah, riyadah, wirid, zuhud, hingga persoalan memperoleh keuntungan yang halal ditempatkan dalam satu rangkaian pemikiran. Dengan demikian, bisnis tidak hanya dilihat dari pertanyaan “berapa yang diperoleh?”, tetapi juga “bagaimana cara memperolehnya?” Sebab dalam perspektif Islam, keuntungan yang besar tidak otomatis berarti keberhasilan apabila di dalamnya terdapat ketidakjujuran, kezaliman, atau kemudaratan bagi orang lain. Ada dimensi etika yang tidak boleh ditinggalkan, dan ada keberkahan yang tidak dapat diukur hanya dengan angka.
Gagasan ini juga memiliki relevansi kuat bagi dunia pesantren. Pesantren tidak semestinya hanya melahirkan generasi yang saleh secara personal, tetapi juga generasi yang memiliki kapasitas intelektual, kemandirian ekonomi, profesionalitas, dan keberanian menghadirkan kemanfaatan di tengah masyarakat. Santri tidak perlu dipaksa memilih antara kitab dan dunia usaha, antara kesalehan dan profesionalitas, atau antara masjid dan pasar. Justru ilmu agama harus menjadi kompas ketika seseorang memasuki dunia profesional, sementara kemampuan ekonomi dapat menjadi instrumen untuk memperluas kemanfaatan dan menjaga martabat umat.
Sebagai penutup, Sufipreneur bukan buku tentang bagaimana menjadi kaya semata. Ia berbicara tentang bagaimana menjadi manusia ketika kekayaan telah datang. Bagaimana memiliki tanpa diperbudak oleh kepemilikan, bekerja tanpa menjadi budak pekerjaan, mencari keuntungan tanpa kehilangan kejujuran, dan menikmati keberlimpahan tanpa kehilangan rasa syukur. Sebab kekayaan yang paling berbahaya bukanlah kekayaan yang banyak, melainkan kekayaan yang membuat manusia lupa kepada siapa ia akan kembali.
Barangkali, inilah pesan terdalam buku Doni Ekasaputra: kita tidak harus meninggalkan dunia untuk menjadi dekat dengan Allah. yang harus ditinggalkan adalah keterikatan hati yang membuat dunia mengambil tempat Tuhan. Sebab keberlimpahan tidak selalu menjadi jalan menuju kelalaian.
Di tangan manusia yang memiliki kesadaran spiritual, harta dapat berubah menjadi amanah, usaha menjadi ibadah, keuntungan menjadi keberkahan, dan kesuksesan menjadi jalan untuk memberi manfaat. Pada akhirnya, yang menentukan bukan seberapa banyak dunia berada di tangan kita, melainkan apakah hati kita masih tetap berada di tangan Allah. (*)
————————————–
Penulis: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


