Sebelum mengajar, rutinitas beliau adalah mendektekan surat al-Fatihah sekaligus maknanya kepada para santri agar mendapat berkah dari ummul kitab, meninjau kembali hafalan santri tentang sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah, beserta dalilnya, dengan tujuan agar santri tidak tergolong orang yang taqlid buta.
Ketika mengajar, seringkali beliau mengkolaborasikan ilmu nahwu sharaf dengan tauhid. Selain untuk memberikan contoh dan pemahaman kepada para santri tentang ilmu nahwu sharaf, hal itu juga beliau lakukan agar dapat menanami akidah ahlus sunnah yang benar.
Seperti menganalogikan kalimat isim sebagai ismullah, kalimat fi’il (pekerjaan) sebagai fi’lun nabi, kalimat huruf (penghubung) sebagai malaikat Jibril. Dan juga beliau mengatakan bahwa semua huruf hijaiyah itu terbentuk dari titik.
“Titik itu adalah Allah Swt, kemudian dari titik itu terbentuklah alif yang menunjukkan wahid (Keesaan Allah) dan dari alif terciptalah huruf-huruf hijaiyah yang lain,” tuturnya.
Tak hanya sebatas kiai spesialis nahwu sharaf, KH. Asnawi adalah guru dari bidang ilmu aqidah dan akhlaq. Seringkali dalam menjelaskan tentang peran guru terhadap murid dan masyarakat, beliau bertutur guru itu memiliki dua peran. Pertama guru figur, kedua guru nasab.
Guru figur adalah guru yang mengajarkan tentang haliyah keseharian kita, baik di pesantren maupun di masyarakat. Sedangkan guru nasab adalah guru yang menyambungkan kita kepada Allah Swt.
Guru Asnawi juga kerapkali menjelaskan makna tersirat dalam surat al-Fatihah,
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ
“Hendaklah kita memohon dan meminta kepada Allah Swt sesuai dengan kebutuhan dan keinginan kita, karena hanya kepada Allah-lah kita meminta pertolongan,” jelasnya pada suatu kesempatan.
ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧
“Agama Islam sekarang sudah banyak perbedaan dalam hal ushuliyah dan furuiyah. Ada yang salafi-wahabi,ada yang ahlul bid’ah, ada yang syi’ah, ada yang ahlussunnah wa-al jamaah, dan lain lain,” lanjut beliau.
“Tak sedikit dari sesama muslim ada yang saling mengkafirkan, saling membid’ahkan perilaku masyarakat sekitar. Maka dari itu, ketika membaca ayat ini hendaklah kita meminta kepada Allah agar dianugerahi agama yang benar. Agar kita terhindar dari kesesatan dalam berkeyakinan,” imbuhnya.
Dan terkhusus untuk para santri yang akan terjun ke masyarakat, beliau selalu membekalinya dengan ilmu-ilmu masyarakat agar dapat menyelesaikan berbagai polemik di masyarakat.
Ketika mengajar atau pun kala menghadapi problematika yang ada di masyarakat, beliau memberi peringatan kepada santri untuk selalu menyambung batin kepada gurunya.
“Panyambhung ka ghuruna, Cong, makle terak,” demikian nasihat beliau yang artinya santri harus selalu terikat batinnya kepada guru agar senantiasa terang benderang.
Alhasil, semoga segala ilmu yang beliau ajarkan kepada para santri menjadi ilmu yang berkah dan manfaat. Aamiin…
Penulis: Mumtaz Fikri, Mahasantri Ma’had Aly Nurul Qarnain
Editor: Fathorrozi


