Di hadapan ribuan jamaah yang terdiri dari santri, pengurus, asatiz, alumni, simpatisan, dan masyarakat sekitar, beliau menyampaikan bahwa tradisi memberikan nasihat setelah khutbah Iduladha telah beliau istikamahkan sejak puluhan tahun silam.
“Saya ini istikamah berdiri di sini setelah khutbah sejak tahun 1975. Alasan saya selalu berbicara setelah khutbah adalah untuk memberikan nasihat sekaligus menyimpulkan isi khutbah tadi,” dawuh beliau.

Dalam tausiahnya, KH. Yazid Karimullah menegaskan bahwa Pondok Pesantren Nurul Qarnain memiliki cita-cita besar dalam membentuk karakter santri yang mampu meneladani Nabi Ibrahim AS beserta keluarga.
“Pesantren Nurul Qarnain ini memiliki cita-cita agar santri-santri saya bisa meneladani Nabi Ibrahim sebagai ayah, Siti Hajar sebagai ibu, dan Nabi Ismail sebagai anak. Jika ketiga-tiganya dimiliki oleh santri saya, maka sukseslah saya membangun pesantren ini,” tutur beliau.
Beliau juga menyinggung besarnya kecintaan Nabi Ibrahim AS terhadap ibadah kurban sebagai bentuk penghambaan dan ketaatan kepada Allah SWT. Dalam penyampaiannya, beliau mengisahkan bahwa Nabi Ibrahim AS dikenal sangat gemar berkurban.
“Betapa cintanya Nabi Ibrahim kepada kurban. Beliau pernah berkurban seribu ekor kambing, tiga ratus ekor sapi, dan seratus ekor unta,” imbuh beliau.

Menurut KH. Yazid Karimullah, keluarga Nabi Ibrahim AS merupakan gambaran keluarga yang sempurna dalam hal kepatuhan dan prasangka baik kepada Allah SWT. Meski diuji dengan ujian yang sangat berat, Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail tetap yakin bahwa seluruh perintah Allah pasti mengandung kebaikan.
“Mereka semua yakin bahwa apa yang diperintahkan oleh Allah pasti baik. Seberat apa pun ujiannya, Allah pasti akan membantu dan menolongnya,” tambah KH. Yazid Karimullah.
Di akhir tausiahnya, beliau memohon doa kepada seluruh jamaah agar terus diberikan kekuatan dalam memperjuangkan dan menjaga keberlangsungan pesantren.
“Saya tidak meminta doa agar panjang umur. Tetapi, saya mohon doa semoga saya terus mampu berjuang untuk keberlangsungan pesantren ini sampai kapan pun,” pungkas beliau penuh haru. (*)
————————————–
Pewarta: Sulthon Arafat
Editor: Fathorrozi


