Khutbah Iduladha di Masjid Dzul Qarnain: Belajar Empat Nilai Kehidupan dari Nabi Ibrahim dan Keluarganya

JEMBER | nurulqarnain.net – Pelaksanaan Salat Iduladha 1447 H di Masjid Dzul Qarnain Pondok Pesantren Nurul Qarnain berlangsung penuh khidmat pada Rabu pagi (27/05/2026). Ribuan jamaah yang terdiri dari santri, pengurus, asatiz, simpatisan, hingga masyarakat sekitar memadati area masjid sejak pagi hari. Turut hadir Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah, beserta para wakil pengasuh.

Salat Id dipimpin oleh Ustaz Ali Murtadlo Al-Hafiz sebagai imam, sementara khutbah Iduladha disampaikan oleh Kepala Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Ustaz Malik Ibrohim, S.Pd., M.H., dengan tema “Berguru kepada Nabi Ibrahim dan Keluarganya.”

Dalam khutbahnya, ia menegaskan bahwa Iduladha bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum untuk belajar dari perjuangan Nabi Ibrahim AS, Sayyidah Hajar, dan Nabi Ismail AS.

“Sekurang-kurangnya ada empat pelajaran yang bisa kita petik dari kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya,” ungkapnya.

Pelajaran pertama adalah pentingnya berbaik sangka kepada Allah SWT. Khatib mengisahkan bagaimana Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail yang masih bayi di lembah tandus atas perintah Allah SWT. Dalam keadaan tanpa makanan dan air yang cukup, Siti Hajar tetap yakin bahwa Allah tidak akan menelantarkan mereka.

“Jika ini perintah Allah, maka Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan kami,” demikian keyakinan Siti Hajar sebagaimana disampaikan dalam khutbah.

Pelajaran kedua ialah semangat mencari rezeki yang halal. Dalam khutbah tersebut dijelaskan bahwa Siti Hajar awalnya mencari air untuk dirinya sendiri karena kehausan dan air susunya mulai mengering, sementara Nabi Ismail AS yang masih belum disapih terus menangis kehausan. Dengan penuh ikhtiar, Siti Hajar berlari bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali hingga akhirnya Allah SWT mengirimkan air zamzam sebagai pertolongan.

“Kita diajari untuk bersungguh-sungguh mencari rezeki, tetapi tetap menjaga halal dan haram,” tegas Ustaz Malik Ibrohim.

Pelajaran ketiga adalah tentang pengorbanan untuk Allah SWT. Ia mengisahkan ujian berat Nabi Ibrahim AS ketika diperintahkan untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail AS. Meski berat, keduanya menunjukkan kepatuhan dan keikhlasan yang luar biasa kepada Allah SWT.

“Kurban bukan hanya menyembelih hewan, tetapi belajar ikhlas dan rela berkorban demi agama Allah,” ujarnya.

Sementara pelajaran terakhir adalah pentingnya mendidik keluarga. Menurutnya, keteguhan Nabi Ismail AS dan kesabaran Siti Hajar lahir dari pendidikan iman yang dibangun Nabi Ibrahim AS dalam keluarganya.

“Kita mendambakan generasi yang berakhlak, kuat, hormat kepada orang tua, dan siap menghadapi tantangan hidup,” pungkas Ustaz Malik.

Khutbah tersebut berlangsung penuh kekhusyukan dan menjadi pengingat bagi jamaah tentang pentingnya meneladani keluarga Nabi Ibrahim AS dalam kehidupan sehari-hari. (*)

——————————————

Pewarta: Wildan Ms.

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *