KH. Yazid Karimullah Mengenang Masa Perjuangan Merintis Pesantren Lewat Jam’iyah Qura’ wal Hufadz

JEMBER_nurulqarnain.net – Pada Sabtu (25/10/2025), KH. Yazid Karimullah membuka kenangan lama ketika merintis Pondok Pesantren Nurul Qarnain Sukowono Jember. Beliau beserta keluarga melakukan perjalanan menuju dusun Ajung Mangli Slateng Ledokombo. Tempat tersebut menjadi saksi momen bersejarah bagi perjalanan beliau dalam merintis Nurul Qarnain, yang waktu itu bernama Pesantren Karang Sawu.

Diketahui, tahun 1969 (satu tahun dari berdirinya Pesantren Karang Sawu), KH. Yazid Karimullah membentuk Jam’iyah Qura’ wal Hufadz. Anggota jam’iyah tersebut dilatih untuk membaca al-Qur’an dan kasidah-kasidah Islam.

Gerakan jam’iyah ini nyatanya membuahkan hasil yang memuaskan. Banyak masyarakat yang terpikat. Tidak sedikit dari mereka yang berminat untuk mengundang, salah satunya seringkali diundang di desa Slateng Ledokombo.

KH. Yazid bersama salah satu anggota Jam'iyatul Qura' wal Hufadz
KH. Yazid bersama salah satu anggota Jam’iyatul Qura’ wal Hufadz

“Atas kedekatan saya dengan masyarakat di sana, saya dan Jam’iyah Qura’ wal Hufadz sering diundang. Kami mengendarai dokar, melintasi sungai. Waktu itu di sungai tersebut belum ada jembatan seperti sekarang,” kisah Kiai Yazid.

Selain itu, beberapa kali beliau berjalan kaki menuju Slateng (kadangkala pakai sepeda onthel bersama KH. Abdul Warits) untuk menjual minyak wangi yang hasil penjualannya digunakan membangun pondok bambu sebagai asrama santri.

“Parfum itu saya antarkan ke tiga pemilik rumah di Slateng, yaitu ke rumah Pak Kus, Pak Tik, dan Pak Li Atwi. Ini salah satu perjuangan saya waktu ingin membangun pondok bambu. Saya tidak meminta-minta sumbangan, karena memang tidak suka,” imbuh beliau.

Kiai Yazid bersama keluarga pun meneruskan perjalanan menuju desa Arjasa Sukowono. Beliau mengenang saat berjuang membangun Masjid Dzul Qarnain.

Jalan menuju rumah Haji Nur desa Arjasa Sukowono
Jalan menuju rumah Haji Nur desa Arjasa Sukowono

“Tahun 1975 saya membangun masjid. Waktu kekurangan biaya, saya bersama santri (Zainuddin alias Pak Ifat), menangkap ikan di kolam, lalu dijual ke Haji Nur di Arjasa dengan berjalan kaki,” tambah Kiai Yazid.

Dengan mata berkaca-kaca, beliau menyampaikan kisah perjuangan saat menggagas asrama santri dan masjid.

“Dengan perjalanan napak tilas yang saya lakukan tadi itu, saya jadi ingat penderitaan saya dalam berjuang,” tutur beliau.

Lebih lanjut, Kiai Yazid mengisahkan kembali perjuangan ini mengandung maksud agar diketahui oleh khalayak dan menjadi teladan bagi santri, alumni dan masyarakat luas.

“Sekarang banyak orang mengatakan ‘Nurul Qarnain maju. Nurul Qarnain besar’. Ternyata itu tidak mudah. Semua pasti butuh perjuangan dan pengorbanan. Semua butuh proses. Maka dari itu, semoga ini menjadi teladan,” tegas Kiai Yazid.

“Kuncinya adalah tabah dan istikamah. Apapun kalau sudah istikamah, pasti sukses,” tandas beliau. (*)

———————————-

Juru Berita: Fathorrozi

2 Comments:
26 October 2025

Kisahnya sangat inpriratif ustadz, semiga bisa menjadi teladan

Avatar photo
26 October 2025

Aamiin ya Rabbal Alamiin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *