Namun, tidak banyak yang mengetahui siapa pencipta lagu tersebut. Dialah KH. Ahmad Wahab Chasbullah, seorang ulama nasionalis, penyemai semangat perjuangan, sekaligus pelopor nasionalisme dalam kalangan santri dan pesantren.
KH. Ahmad Wahab Chasbullah, yang sering dikenal dengan sebutan Mbah Wahab, lahir pada 31 Maret 1888 M di Jombang. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Hasbullah Sa‘id dan Nyai Latifah, Pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas Jombang.
Riwayat pendidikannya sangat panjang, karena beliau menuntut ilmu di beberapa pesantren besar, seperti Pondok Pesantren Langitan Tuban, Pondok Pesantren Mojosari, Pondok Pesantren Tawangsari Sepanjang, hingga belajar langsung kepada Hadratussyaikh KHR. Muhammad Kholil Bangkalan Madura dan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy‘ari di Tebuireng Jombang. Beliau juga sempat menimba ilmu di Tanah Suci Makkah kepada Syaikh Mahfudz at-Tarmasi dan Syaikh Muhammad al-Yamani.
Semangat Kiai Wahab muda mulai terlihat sekitar tahun 1914, setelah beliau kembali dari menuntut ilmu di Makkah. Pada masa itu, beliau aktif dalam organisasi Serikat Islam (SI) yang dipimpin oleh H.O.S. Tjokroaminoto. Namun, beliau merasa belum puas karena SI lebih dominan bergerak dalam ranah politik praktis, sedangkan Kiai Wahab memiliki pandangan bahwa penguatan nasionalisme seharusnya ditumbuhkan melalui pendidikan dan pembinaan pemuda.
Pada tahun 1916, Kiai Wahab berhasil mendirikan perguruan Nahdlatul Wathan dengan dukungan beberapa kiai, dan beliau menjadi pemimpin dewan guru. Sejak saat itu, Nahdlatul Wathan menjadi markas penggemblengan pemuda—mendidik mereka agar memiliki ilmu sekaligus cinta Tanah Air. Dari sinilah lahir syair yang kemudian dikenal sebagai Mars Yalal Wathan atau Syubbanul Wathan (Pemuda Cinta Tanah Air), yang kini menjadi lagu kebanggaan pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU).
Semangat nasionalisme Kiai Wahab tidak hanya berhenti dalam bentuk pendidikan. Beliau turut menggagas dan terlibat dalam berbagai organisasi produktif, seperti Taswirul Afkar (1919), Indonesiasche Studie Club (ISC), Syubbanul Wathan, serta kursus Masa’il Diniyyah, semuanya untuk memperkuat kesadaran kebangsaan dan melawan penjajahan melalui penguatan intelektual pemuda.
KH. Wahab Chasbullah wafat pada 29 Desember 1971, dalam usia 83 tahun di Jombang. Perjuangannya membuktikan bahwa internalisasi semangat nasionalisme melalui jalur pendidikan sangat efektif dan berpengaruh besar. Atas jasa dan ketokohannya dalam perjuangan bangsa, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada beliau pada 7 November 2014. (*)
———————————–
Penulis: Sulthon Arafat
Editor: Fathorrozi


