“Saya merasa bersyukur acara ini di luar perkiraan, karena saya hanya mengundang pimpinan lembaga, asatidz, dan santri saja, tapi para jamaah shalawat banyak juga yang hadir. Tidak lain, itu semua karena saking cintanya kepada sang junjungan, Baginda Nabi Muhammad Saw,” ungkap KH. Yazid Karimullah.
“Saya juga demikian. Saya seringkali memanggil Nabi Muhammad untuk menyelesaikan setiap masalah saya, agar dihaturkan kepada Allah Swt. Pada tahun 1964, ketika pondok ini masih bernama Pesantren Karang Sawu, saya hanya punya tanah dengan luas 40 meter. Dengan sering memanggil Nabi Muhammad, akhirnya Allah menolong saya hingga memiliki tanah seluas seperti yang disaksikan sekarang ini,” imbuh beliau.
Pada kesempatan itu, KH. Yazid Karimullah juga mengisahkan sejarah Tahun Baru Hijriah.
“Tahun Baru Hijriah berawal dari Sayyidina Umar yang menerima masukan dari Gubernur Abu Musa al-Asy’ari karena setiap mengirim surat selalu tidak ada tanggalnya,” buka beliau.
“Akhirnya Khalifah Abu Bakar, meskipun beliau seorang khalifah tapi beliau selalu bermusyawarah salah satunya tentang tahun baru ini. Abu Bakar mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawah. Banyak ikhtilaf dari penentuan tanggal Isra Mi’raj, Maulid Nabi hingga bulan Muharram,” jelas beliau.
Beliau juga meminta agar para jamaah dan santri yang hadir dalam majelis shalawat untuk intropeksi diri selama setahun yang telah berlalu sebagai cerminan perbaikan ke tahun berikutnya.
“Yang santri, bagaimana kesantriannya. Yang pengajar, apakah sudah penuh mengajarnya. Yang kepala sekolah, bagaimana kinerjanya. Yang buruk tahun sebelumnya, ubah menjadi baik. Yang sudah maju, upayakan semakin maju,” pesan beliau.
“Hakikat sukses itu jika dapat menghasilkan generasi yang bisa menguasai dunia dan akhirat,” imbuh beliau.
Pengasuh pada malam Tahun Baru Islam 1445 H itu, juga memimpin hadirin untuk membaca doa akhir tahun dan doa awal tahun sebanyak tiga kali, serta dilanjutkan dengan membaca ayat kursi sebanyak tujuh kali.
Lebih lanjut, beliau juga meminta seluruh pimpinan lembaga agar istikamah hadir dan duduk di depan pada setiap Majelis Al-Wishol digelar.
“Saya selaku pengasuh meminta kepada seluruh pimpinan lembaga untuk hadir setiap ada Majelis Al-Wishol,” pinta beliau.
“Dan semoga keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Qarnain, dan jamaah Majelis Shalawat Al Wishol selalu dilimpahi keberkahan oleh Allah, baik dalam urusan dunia maupun akhirat,” pungkas KH. Yazid Karimullah. (*)
—————————————-
Pewarta: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


