Acara ini diisi dengan mauizah hasanah oleh KH. Yazid Karimullah dan KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy, dua tokoh penting dalam estafet dakwah dan barakah KHR. As’ad Syamsul Arifin.
KH. Yazid Karimullah memulai mukadimahnya pakai bahasa Indonesia, lalu membuka ceramahnya menggunakan bahasa Madura.
“Saya sejak di pondok hanya menggunakan bahasa Madura. Kiai As’ad sempat membuat semacam undang-undang pesantren agar santri berbicara menggunakan bahasa Indonesia, tapi saya tetap tidak bisa berbahasa Indonesia,” ujar beliau disambut tawa hadirin.
Di balik canda, KH. Yazid menyampaikan pesan mendalam mengenai barakah dan sambungan spiritual yang diwarisi oleh Kiai As’ad.
“Barakah ini yang sulit. Untuk nyambung zahir batin ke guru ini yang sulit. Begitu pun dengan nyambung kepada Allah, itu tidak gampang. Seperti saat kita bertakbiratul ihram, ‘Allahu Akbar’, tapi tiba-tiba ingat dunia. Karena setan memang akan selalu menjadi penghalang agar kita tidak bisa nyambung kepada Allah,” tambah beliau.
Kiai Yazid mengisahkan pula bagaimana beliau mendirikan pesantren bukan karena bekal ijazah atau akademik, tetapi karena amanah yang diyakini sebagai titipan dari Allah dan barakah dari Kiai As’ad. Kini, pesantren tersebut berkembang hingga sampai memiliki lembaga perguruan tinggi dan Ma’had Aly.
“Saya yakin ini karena barakah dari Kiai As’ad,” tegas beliau penuh haru.

Kiai Yazid mengungkapkan bahwa dirinya menerima dawuh langsung dari Kiai As’ad mengenai sejarah spiritual pendirian Pondok Pesantren Sukorejo.
Dikisahkan bahwa Kiai As’ad mendapatkan petunjuk dari orang bertapa yang mengarahkan beliau untuk beranjak ke arah timur hingga sampai ke tanah Sukorejo, tempat yang kemudian menjadi pusat keilmuan pesantren.
Lebih lanjut, beliau menceritakan perjalanan KHR. Syamsul Arifin, ayahanda Kiai As’ad, ketika memondokkannya dan melatih dengan keras. Beliau bahkan mengisahkan kejadian saat Kiai As’ad pulang dari pesantren, lalu dimarahi oleh sang ibunda dengan dipukul pakai tongkol jagung.
“Kenapa kamu sudah pulang, padahal abahmu yang bertapa (tirakat) di atas pohon masih belum turun?” kenang beliau. Cerita ini menunjukkan betapa tinggi proses tirakat dalam membentuk seorang ulama sejati.
“Kiai As’ad itu kalau makan cuma pakai tiga lidi. Saya belum bisa meniru beliau,” imbuh Kiai Yazid.
Beliau juga menekankan bahwa untuk menjadi ulama pewaris para nabi, bukan hanya cukup ilmu, tetapi juga perlu tirakat yang berat dan istikamah.
Dalam pandangan Kiai Yazid, Kiai As’ad bukan hanya seorang mursyid spiritual, tetapi juga peletak dasar perjuangan yang lengkap.
“Saya bangun pondok dengan tiga hal: pendidikan, pembangunan, dan ekonomi. Itu semua karena dawuh beliau,” jelasnya.
Kiai Yazid mengingatkan pula kepada para anggota IKSASS agar tidak hanya menyambung secara emosional kepada para kiai, tapi juga meniru langkah perjuangan dan pitutur mereka.
“Kalau bisa meniru, tirulah! Kalau belum bisa, niati dulu. Karena Allah menghitung niat dan keinginan kita,” tegasnya.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy, menekankan pentingnya mengenang orang-orang salih.
“Bahkan Nabi Muhammad saja diperkuat dengan kisah para nabi terdahulu, padahal beliau adalah insan kamil,” ungkap Kiai Azaim.

Mengutip tafsir kitab Bahrul Madid karya Imam Ibnu Ajibah, Kiai Azaim menyebut bahwa ada maqam syahid bagi para arifin yang wafat di atas pembaringan, karena kedekatannya kepada Allah.
“Para masyayikh kita itu maqamnya tinggi, dan saya yakin, mereka masih mengawasi kita sampai hari ini,” tutur beliau.
Dalam mauizahnya, KHR. Azaim juga menegaskan bahwa meskipun kita tidak mampu menyamai zuhud dan tirakat para kiai, setidaknya ada keinginan untuk meneladani.
“Allah akan hitung keinginan itu. Kalau kata Kiai Yazid, ‘Apa kamu mampu?’ Maka pertanyaannya, ‘Apakah kita punya niat untuk mencoba?” sambung beliau.
Beliau membagikan pula cerita tentang sosok Kiai As’ad yang dikenali oleh para ulama dunia. Seorang jamaah haji pernah bertanya kepada Abuya Sayyid Al-Maliki tentang Kiai As’ad.
“Jawaban beliau ‘dia adalah mujahid, kiprahnya luar biasa’,” tegas Kiai Azaim. Hal ini menunjukkan bahwa KHR. As’ad Syamsul Arifin memiliki reputasi internasional.
Tak kalah penting, beliau mengingatkan bahwa wasiat para ulama harus terus dihidupkan.
“Wasiat beliau yang kita jalankan sebagian pun sudah cukup. Salah satunya perjuangan pendidikan, ekonomi masyarakat, dan membaca Ratibul Haddad secara istikamah,” pungkas beliau. (*)
————————————
Pewarta: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


