“Pada rakaat pertama setelah takbiratul ihram, dilanjutkan dengan 7 takbir, sedangkan di rakaat kedua 5 takbir. Di antara takbir tersebut membaca tasbih,” jelasnya.
Usai salat Id dilaksanakan, Ustaz Malik Ibrahim bertindak sebagai khatib. Ia membuka khutbah dengan ungkapan rasa syukur, lalu menjelaskan mengenai salat Id.
“Hari ini adalah hari yang dimuliakan oleh Allah Swt. Hari ini disebut dengan hari raya Id karena memang ia adalah hari yang besar, hari yang dibesarkan oleh Allah untuk kita orang-orang yang beriman. Disebut dengan Id, karena memang ia kembali datang setiap tahun. Tahun dulu ia datang, tahun ini pun ia datang. Dan Insya Allah, ia akan kembali di tahun yang akan datang,” terangnya.
Selanjutnya ia menyampaikan tentang Idul Adha kepada hadirin.
“Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita akan berjumpa dengannya di tahun yang akan datang? Sebab, bisa jadi salat Idul Adha kali ini merupakan salat Idul Adha kita yang terakhir. Boleh jadi mendengarkan khutbah kali ini adalah mendengarkan khutbah yang terakhir. Dan bisa jadi kurban yang kita lakukaan tahun ini menjadi kurban kita yang terakhir.”
“Kita patut bersyukur kepada Allah Swt., yang telah memberikan kesempatan hidup dan memberikan kesehatan kepada kita. Karena sangat banyak saudara-saudara kita yang sebenarnya mereka ingin hadir bersama kita untuk memuliakan hari yang mulia ini, hari yang besar ini, tetapi Allah mencabut nikmat kesehatan dari dirinya. Banyak pula saudara-saudara kita yang hari ini ingin bersama kita, hadir melaksanakan salat Idul Adha tetapi Allah cabut kesempatan dari dirinya,” imbuhnya.
Setelah itu, ia menerangkan hikmah dari pelaksanaan Hari Raya Idul Adha, yakni tentang teladan dari Nabi Ibrahim sebagai tonggak awal dirayakannya kurban.
“Apa hikmah yang bisa kita petik dari ibadah kurban? Yang pertama, ibadah kurban menceritakan kepada kita bagaimana dahulu seorang hamba Allah yang bernama Ibrahim, yang mendapat gelar khalilullah, kekasih Allah, selalu diuji oleh Allah. Nabi Ibrahim selalu diuji oleh Allah. Semakin baik kepada Allah, semakin diuji. Semakin dicintai Allah, semakin berat ujian yang diterima oleh Nabi Ibrahim. Beliau diuji dengan orangtua yang bernama Azar penyembah berhala. Nabi Ibrahim mengajak orang tuanya untuk masuk Islam, tetapi cobaan berat dirasakan oleh Nabi Ibrahim. Saat itu, Azar yang begitu dicintai oleh Nabi Ibrahim malah mengusirnya.”
Ia juga menyampaikan ujian berat yang dihadapi Nabi Ibrahim setelah lulus dari ujian keluarga dan umatnya, yakni ditimpakan ujian untuk menyembelih putra kesayanganya, Nabi Ismail.
“Nabi Ibrahim pun kembali lulus dari ujian besar itu. Nabi Ibrahim adalah teladan yang harus dicontoh oleh umat hari ini,” lanjut Ustaz Malik.
Di pengujung khutbah, Ustaz Malik berpesan kepada seluruh jamaah agar menggunakan sebaik mungkin momen ini bersama kedua orangtua.
“Kedua orangtua kita yang masih ada, setelah pulang dari pelaksanaan salat Id ini, ciumlah tangannya! Kecup keningnya dan peluk mereka dengan pelukan kasih sayang! Sementara orangtua kita yang sudah meninggal dunia, pulang dari salat ini, kirimkan mereka bacaan surat al-Fatihah, bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an dan angkat tangannya untuk berdoa kepada Allah, ‘Ya Allah, ampuni dosa kami dan dosa kedua orangtua kami. Sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi kami di waktu kecil.'” (*)
————————————-
Pewarta: Wildan MS.
Editor: Fathorrozi


