Jamaah dipimpin oleh Ust. Ali Murtadlo sebagai Imam Salat dan Ust. Muhammad Frmansyah, M.H.I sebagai Khotib. Membuka khutbah, Ust. Firman mengingatkan kepada hadirin khususnya para santri untuk senantiasa meneguhkan keimanan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. terlebih dengan adanya momentum Idul Adha yang di dalamnya tarangkai berbagai kisah dari figur-figur teladan bagi umat Muslim.
Di tanggal 10 Dzulhijjah selalu menjadi momen spesial bagi umat Islam. Setidaknya, ada 2 momentum pokok yang selalu menonjol dalam tanggal tersebut; pertama Ibadah Haji, jutaan umat Muslim di seluruh dunia berkumpul di Tanah Suci untuk memenuhi rukun Islam yang kelima. Kedua, penyembelihan sejumlah hewan kurban.
Kemudian, Ust. Firman mengingat, pondasi besar dari kedua kejadian di atas adalah berdasarkan kisah tauladan ketaatan dari Nabi Ibrahim As dan keluarga; Ismail As putranya, serta istri Nabi Ibrahim; Siti Hajar. “keluarga ini adalah figur suri teladan bagi umat Muslim dari berbagai hal, seperti ketaatan, dan kepasarahan diri, kesabaran dan keikhlasan menjalankan perintah Allah”. Ingat beliau.
“Dengan peristiwa inilah, kemudian disyariatkan kesunnahnan berkurban yang kita dilaksanakan hingga saat ini,” lanjutnya.
Kisah Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s.
Khutbah dilanjutkan dengan mengisahkan kelurga Ibrahim a.s, ketika Nabi Ibrahim a.s menunaikan perintah Allah menyembelih putranya Ismail As dengan penuh ketabahan sebagai titah baginya sebagai hamba. Nabi Ibrahim a.s melawan konflik batin yang terjadi di batinya antara rasa cinta kepada putranya atau melaksanakan perintah Allah Swt.
Dikarenakan rasa cinta kepada Allah yang begitu besar, Nabi Ibrahim kemudian memberitahukan perintah Allah kepada Nabi Ismail untuk ikhlas dikorbankan sebagaimana yang nampak di dalam mimpinya, tanpa mempedulikan konsekuensi yang akan terjadi ketika Nabi Ibrahim melaksanakan perintah tersebut. Dalam peristiwa dramatis ini, terjadi kejadian yang mengharukan Nabi Ismail saat Nabi Ismail rela, kemudian Ia tergantikan dengan Kambing Kiybas yang dibawa oleh malaikat Jibril dari surga atas perintah Allah Swt.
Dengan mengutip pendapat Syaikh Wahbah Zuhaili di dalam kitabnya Tafsir Munir Juz 23 halaman 117 dari tafsir ayat Surah As-Shoffat ayat 101-111. Mengambarakan kisah rasa tabah hati Nabi Ibrahim mengiklaskan putranya untuk dikorbankan, begitu pula rasa patuh Nabi Ismail takkala ia mendengar penyampaian berita perintah Allah dari ayahnya dan segera meminta ayahnya untuk segera menunaikan, dan tauladan dari Siti Hajar melawan gejolak hasutan Setan agar Ia mencegah Nabi Ibrahim a.s.
Hikmah dan ‘Ibrah
Setelah menyampaikan kisah singkat di atas, dilanjutkan dengan hikmah yang dapat diambil oleh segenap kaum Muslimin. “Hadirin yang berbahagia, dari kisah singkat Nabi Ibrahim di atas ada empat hikmah yang bisa kita ambil” jelas Ust. Firman, M.H.I
Pertama, dapat diambil kisah kurban Nabi Ibrahim adalah totalitas dalam melaksanakan ketaatan dan perintah. Totalitas yang dimaksud adalah menaati setiap peraturan pesantren, mengabdi kepad Kiai, guru, dan orang tua, sebagai tolak ukur kepatuhan sebagaimana yang dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim a.s.
Kedua. Memperoleh kebahagiaan hakiki, yaitu untuk mencapai kebahagiaan yag hakiki butuh sebuah pengorbanan, yaitu dengan bentuk sikap mengedepankan orang lain daripada diri sendiri. Dengan menyembelih hewan kurban adalah satu simbol dari sekian makna kurban yang begitu luas yakni pengorbanan dalam bentuk harta, jiwa, raga, dan waktu. Seperti contoh, Santri yang mengorbankan waktu bersenang-senang untuk mencari ilmu, dan waktu tidur untuk Salat Tahajjud, dan lain-sebagainya.
Ketiga, dengan menyembelih hewan bahimah (hewan ternak) mengandung makna sifat-sifat kebinatangan yang ada pada manusia harus dikurbankan atau dihapuskan, seperti tamak, sombong, rakus, dan lain-sebagainya.
Keempat, Kehidupan tidak semata-mata bersifat materi, tetapi ada yang lebih dari itu yaitu inmateri dan spiritual. Seperti halnya daging hewan kurban wajib disedakahkan dan tidak boleh diperjual belikan, mengajarkan tidak semua yang didapatkan dengan pengorbanan akan kembali dalam bentuk materi, melaikan ada yang jauh lebih utama daripada itu.
Mengakhiri khutbah, Ust. Firman menyampaikan doa cerminan teladan dari keluarga Nabi Ibrahim a.s akan ada di setiap umat Islam terlebih para santri, “Semoga Allah menganugrahkan kepada kita kekuatan untuk meneladani Nabi Ibrahim dan keluarganya, rela berkorban demi kepentingan agama, bangsa dan negara.”


